Tausiah

Kisah Seorang Mu’allaf Tionghoa (Bagian 6)


9 June 2017, 8:01
Dilihat   3.8K

MENGETUK PINTU HIDAYAH (7) PADAMNYA PELITA HATI

Siangnya kami berangkat ke bandara diantar bapak, kakak dan adikku, Akun. Sedangkan bungsu berangkat duluan, karena sebelumnya dijemput kakak untuk sekolah di Pontianak.

Ketika mau memasuki pesawat ibu melambaikan tangan dengan pelan. Saya yang menyaksikan lambaian tangan ibu untuk bapak, kakak dan adik seakan lambaian perpisahan untuk selamanya. Ada eksperesi wajah ibu yang sulit untuk di lukiskan dengan kata-kata. Seperti menahan rasa sedih yang tidak bisa diutarakan. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati. Gelisah, sedih dan terharu, coba kuredam sekuat mungkin.

Ketika pesawat sudah take-off, kemudian transit di Ketapang, kulihat ibu memejamkan mata. Kutatap dalam-dalam. Kudapati guratan wajah yang telah lelah menempuh perjalanan hidup yang penuh dengan kerikil tajam dan berliku-liku. Wajah yang pasrah. Yang lebih banyak merasakan penderitaan daripada kebahagiaan. Beliau tentu tidak menginginkannya, tapi beliau tidak mampu menolaknya, karena sudah menjadi suratan takdir yang harus dijalaninya.

Ibuku menjalani kehidupan seperti itu tanpa banyak keluhan, tanpa punya rasa iri dengki dengan nasib orang yang lebih dari beliau. Tidak pernah menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Tidak pernah menyumpahi orang-orang yang telah menghinanya, memaki-maki dirinya. Serta tidak pernah meminta belas kasihan dengan menghiba-hiba.

Beliau juga tidak pernah menyalahkan keluarganya ya g membuat hidupnya jadi cemoohan peserta arisan yang uangnya tidak pernah dipakai oleh beliau. Karena beliau hanyalah korban dari keegoisan keluarganya. Semua beliau terima dengan ikhlas. Beliau tidak pernah tertawa terbahak karena tidak pernah ada kesempatan untuk itu. Tertutup oleh keprihatinan hidup.

Alangkah mulianya hati beliau yang tidak pernah orang tahu, kecuali pada kesempatan saya menggoreskan tulisan tentang beliau saat ini.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, akhirnya kami menginjakkan kaki di kota kelahiran kami, Pontianak.
Sehubungan rumah kami sudah dijual ketika pindah ke Kota Pangkalan Bun, maka terpaksa menginap di. rumah kakak laki-laki ibu di Siantan.

Keluarga ibu tidak menyangka kedatangan kami. Mereka kaget, lebih-lebih melihat keadaan ibu yang seperti orang lingkungan. Pandangan mata bingung. Setelah saya jelaskan barulah mereka mengerti ibu sedang sakit “aneh” karena belum tahu namanya.

Tetangga-tetangga yang dulu, berdatangan menjenguk. Tapi begitu ibu ditanya masih kenal tidak dengan tetangga yang dulu dekat, ibu memerlukan waktu yang lama, baru dia menyebutkan nama. Kadang menggelengkan kepala tanda lupa. Aneh……

Dugaan ibu terkena santet “pelebur sukma” semakin menguatkan yang membuat ibuku sampai lupa diri sendiri dan lupa pada orang lain.  Setelah beberapa hari di rumah saudaranya, keadaan ibu makin melemah, makin kesulitan komunikasi dan kehilangan nafsu makan. Atas kesepakatan keluarga akhirnya ibu diopname di Rumah Sakit St. Antonius, Sei-Jawi.

Walaupun sudah di rumah sakit, keadaan ibu semakin memprihatinkan. Pelan tapi pasti semakin melemah, komunikasi makin sulit, memori ingatan semakin berkurang. Setiap malam saya tidur di bawah ranjang ibu. Menjaganya…

Pada hari Ke-4, malam hari, saat jam menunjukkan pukul 00.30 mata saya sudah mengantuk. Saya sudah memakai selimut. Begitu saya meletakkan kepala ke bantal, mendadak saya mendengar suara ibu yang seperti suara orang bangun dari ngorok, “khooorrrkkkhh…..”

Saya langsung bangun. Secara naluri saya melihat ibu…terdiam. Saya panggil, “ie..ie..ie….” (ibu…ibu..ibu..) sambil saya goncang badannya. Saya lihat tidak ada nafas yang keluar masuk. Saya panik. Lalu cepat keluar memanggil perawat yang berjaga. Mereka datang, mengecek, dan ibu diberikan pertolongan terakhir dengan menekan tangan ke dadanya berkali-kali. Dan mereka menggeleng. “Sudah meninggal….,” kata mereka.

Lalu wajah ibu ditutupi dengan selimut putih. Saya seakan tidak percaya. Ibuku, wanita tegar kini telah menyerah. Saya shock sekali sampai tidak bisa menangis ketika ibu didorong ke kamar mayat.
Saya hanya terpaku di depan kamar mayat. Bingung, panik, tidak percaya…. Sambil menunggu pagi untuk memberitahukan kakak perempuan dan adik bungsu.

Ketika pagi, saya cepat ke rumah kakakku. Kakakku membuka pintu, di belakangnya adik bungsuku Achui, berjalan mengikuti kakak sambil memegang botol susu. Ketika melihat adikku yang masih kecil yang akan menjadi piatu, seketika tangispun pecah. Kupeluk adikku. Dengan suara terbata- bata saya beritahukan kakak, bahwa Ibu sudah meninggal..

Berjuta kenangan hidup bertiga dalam kesusahan dan penuh prihatin tetap terukir indah di hati ini. Pelita hidup itu kini telah padam. Selamat jalan ibundaku tercinta. Perjuanganmu akan menjadi inspirasi untuk berjuang hidup. [mc]

Bersambung……..

*Ustadz Abdul Hadi (Lay Fong Fie), Pakar Pengobatan Tradisional dan Ahli Spiritual, Pendiri Perguruan Tenaga Dalam “Hikmah Sejati”, Yogyakarta.

Selengkapnya

  1. Kisah Muallaf bagian 1
  2. Kisah Muallaf bagian 2
  3. Kisah Muallaf bagian 3
  4. Kisah Muallaf bagian 4
  5. Kisah Muallaf bagian 5
  6. Kisah Muallaf bagian 6
  7. Kisah Muallaf bagian 7
  8. Kisah Muallaf bagian 8
  9. Kisah Muallaf bagian 9
  10. Kisah Muallaf bagian 10
  11. Kisah Muallaf bagian 11
  12. Kisah Muallaf bagian 12
  13. Kisah Muallaf bagian 13
  14. Kisah Muallaf bagian 14
Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!