Analisa

Anatomi Rezim Jokowi-Ma’ruf Diisi oleh Unsur-unsur Ini


7 July 2021, 10:05
Dilihat   48

Jakarta, NusantaraKini.com~

Kekuasaan rezim Jokowi-Ma’ruf diisi dan direkatkan oleh aliansi-aliansi strategis – ideologis dari beberapa golongan politik dan juga oleh kolaborasi oportunis dari beberapa golongan bisnis-politis. Di bawah ini akan diuraikan mana saja golongan ini.

Pertama golongan aliansi strategis – ideologis, baik oleh dorongan visi sosialis maupun oleh visi mengeliminir unsur politik Islam yang sempat berkembang beberapa tahun terakhir yang dipandang oleh seluruh gabungan aliansi rezim Jokowi – Maruf sebagai musuh bersama.

Golongan yang beraliansi dalam rezim Jokowi – Maruf karena visi sosialis, yaitu partai berwarna merah hitam dan RRC. Di dalam partai merah hitam ini, dipimpin oleh orang-orang soekarnois tapi juga membonceng kekuatan komunis romantik. Romantik akibat dendam atas penindasan Orde Baru Angkatan Darat dan juga romantik zaman PKI dan Soekarno berpengaruh di masa Orde Lama.

Sedangkan NU pimpinan AS dan pengikut Gusdurisme, memanfaatkan aliansi dengan kekuatan di atas guna membabat Islam politik dan berambisi ingin menjadi satu-satunya versi Islam di Indonesia yang boleh mendikte kebijakan nasional terhadap agama Islam. Kepentingan yang disebut terakhir ini untuk mengukuhkan dirinya sebagai kekuatan satu-satunya yang formal di dalam urusan agama Islam dan penganutnya. Boleh dikata inilah aliansi driving force yang merumuskan formasi rezim Jokowi – Maruf.

Kedua, kekuatan yang menopang rezim Jokowi – Maruf secara finansial ialah para konglomerat yang diasuh oleh Rezim Soeharto di masa lalu. Konglomerat ini ada yang bersifat netral secara haluan politik, yang penting modal dan bisnis mereka aman dan berkembang biak. Tapi ada juga konglomerat seperti ST, ETW, AS, dan sejenisnya, yang berorientasi RRC ketimbang Taiwan. Lagi pula mereka ini yang modalnya disuplai oleh Soeharto, telah banyak menanamkan kapital, pabrik dan jaringan bisnis di kota-kota besar RRC. Terutama di daerah asal mereka, Cina Bagian Selatan. Tampaknya mereka seperti Grup Salim sudah membangun hubungan dengan RRC ketika Presiden sekaligus Pimpinan Puncak Partai Komunis China sekarang ini, Xi Jin Ping, bertugas sebagai gubernur di Fujian. Dalam buku Biografi Sudono Salim alias Liem Soe Liong pemilik grup konglomerat terbesar di Indonesia, dituliskan dalam buku itu perihal hubungannya dengan Xi Jin Ping muda.

Kekuatan bisnis kapitalis ini, sangat lihai dan licin memengaruhi arah dan budget nasional. Bisa-bisa jaringan mereka ini yang akan menstir kekuatan yang disebut pertama, dikarenakan yang pertama tidak memiliki kecakapan dan keandalan finansial seperti mereka. Yang pertama sudah puas sebagai pejabat atau komisaris saja dalam mengeksplorasi kekayaan negara. Adapun yang kedua, berpengalaman dalam bagaimana merekayasa finansial dan kapital.

Kekuatan berikutnya yang menunjang rezim Jokowi – Maruf ialah apa yang dapat kita identifikasi sebagai individu-individu mantan-mantan Jenderal yang sebenarnya pebisnis yang oportunis. Mereka dengan cekatan meraih jabatan dan dengan jabatan politik itu memengaruhi seleksi pimpinan dalam institusi pertahanan dan keamanan. Akibatnya, institusi itu berada dalam pengaruh mereka.

Jenderal – jenderal mantan ini, seolah tak peduli mau kemana haluan dan poros Indonesia diletakkan oleh kekuatan intelektual kaum Soekarnois dan Sosialis. Sebab yang meramu ideologi rezim Jokowi ini adalah dua pihak itu. Adapun NU Gusdurisme sudah puas sebagai penangkis dan pengaman rintangan kekuasaan dari potensi Islam Politik. NU Gusdurisme ini lama kelamaan menjadi sangat oportunis dan sektarian. Hanya menganggap mereka yang sah sebagai representasi Islam Indonesia.

Ghalibnya kekuasaan yang makin membesar dan kuat, maka hanya bisa bertahan manakala musuh bersama mereka tetap berfungsi mengeratkan aliansi di antara mereka. Musuh bersama mereka yang paling emosional bagi mereka ialah Islam Politik yang telah mereka cap macam-macam, mulai dari terorisme hingga populisme Islam. Tetapi belakangan, musuh bersama mereka ini makin lemah, pudar dan sebagian mulai mencari selamat sendiri. Terutama sejak HTI dan FPI dibubarkan dan Habib Rizieq dkk ditahan. Semua kekuatan penantang rezim sosialis berorientasi China ini habis dibabat. Bahkan suara-suara mahasiswa yang kritis pun tidak diberi kesempatan untuk bergema.

Rezim Jokowi – Maruf yang sosialis tapi juga sekaligus kapitalis yang rakus monopolistik ini benar-benar tak memberi ruang kesempatan kompetisi bagi penantang visi mereka. Saat ini, diam-diam yang dikejar dan dijatuhkan ialah PKS. Karena partai Islam Politik ini relatif terinstitusi dengan baik. Sedangkan tadinya Gerindra berpotensi sebagai pesaing, tiba-tiba balik kiri dan bergabung untuk mengais keuntungan dari rezim.

Adapun sebenarnya rakyat kebanyakan sudah muak dengan bualan dan korupsi rezim Jokowi – Maruf ini. Terutama terkait isu banjirnya TKA China ke Indonesia, saat malapetaka wabah penyakit menular Covid-19 tak bisa dihentikan. Secara terang-terangan Rezim Jokowi – Maruf mengamankan banjir migrasi penduduk China ke Indonesia. Apakah ini cara untuk mempertahankan kelanggengan kekuasaan rezim mereka bilamana ketidakpuasan rakyat umum berimbas menjadi migrasi suara, maka migrasi penduduk China itu dapat menutup migrasi suara dalam pemilu itu? Bisa saja.

Yang paling menyedihkan ialah keberadaan Maruf di dalam rezim sebagai Wakil Presiden. Sama sekali tidak punya peranan yang memberi kesan yang baik bagi rakyat yang bebas dari pengaruh partai. Keberadaannya seperti boneka dan pengisi seremonial saja. Tentu kita tidak tahu di belakang seperti apa. Tapi bandingannya dengan JK, keberadaan Maruf betul-betul tidak efektif sama sekali. Keberadaannya malahan untuk menolong Jokowi untuk menangkis kesangsian orang terhadap sikap tidak positif rezim sosialis Jokowi kepada kepentingan umat Islam di Indonesia.

Satu-satunya kekuatan yang potensial mengancam rezim sosialis berorientasi RRC ini ialah kekuatan golongan mahasiswa. Namun golongan mahasiswa pun seperti sudah dioperasi sedemikian rupa oleh aparatus rahasia rezim. Sehingga tidak ada yang benar-benar militan, independen dan siap tarung sampai menang. Semua melemah dan hanya berhasil di ajang perang propoganda. Itupun juga tidak menang.

Sementara kekuatan tentara, rasanya sudah berhasil dinetralisir oleh mereka sehingga menjadi non politis dan penurut saja bagi dikte mereka.

Adapun umat Islam, sudah terbelah. Sebagian besar yang berada di bawah tradisional Islam, melipir kepada rezim karena keuntungan material dan tidak mau ambil risiko. Sedangkan sebagian umat Islam lagi, bersikap absen dan sebagian kecil saja yang terus teriak. Tapi itu pun hanya di medsos dan mimbar-mimbar. Tidak ada pengorganisasian perlawanan yang terencana, teratur dan sistematis. Umat Islam pada umumnya memang reaksioner, sulit dan tidak terlatih bekerja politik dengan teratur dan sistematik.

Untuk sementara, rezim kawin sungsang sosialis – kapitalis – tradisionalis pimpinan Jokowi – Maruf akan tanpa lawan dan bisa langgeng, manakala perlawanan dari golongan mahasiswa tidak terorganisasi dan terkader. Siap-siap saja kediktatoran dan penindasan rezim akan semakin menjadi-jadi dan tanpa merasa salah.

~ Wedhank Ronde

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!