Analisa

Penyakit Menular Covid-19 Sangat Intelijen dan Sengaja untuk Membunuh Massal


5 July 2021, 8:48
Dilihat   54

Jakarta, NusantaraKini.com ~

Kesimpulan dan Penilaian Hasil Pengamatan Saya dari Dekat terhadap Keadaan dan Akibat Penyakit yang Ditimbulkan oleh Virus Covid-19. Judul tulisan ini demikian adanya.

Virus Covid-19 ini jelas buatan manusia. Untuk senjata biologi dan sekaligus bio terorisme. Pasti tidak ada yang mengakui hal ini. Tapi itu jelas. Dari proses timbulnya wabah virus Covid-19 di suatu lokasi di Wuhan, tempat riset tersebut, telah dapat dilacak dan diurut darimana asal muasal malapetaka global ini bermula. Apalagi bukan barang baru, manusia dan negara-negara modern menggunakan virus, kuman dan bakteri hasil rekayasa sebagai senjata pemusnah massal terhadap manusia.

Sebagai penjelasan saja, institut virologi Wuhan yang berada dalam otoritas Partai Komunis China, merupakan lembaga penelitian mikrobiologi yang sudah lama berdiri pada 1956. Tentu sudah banyak hal dan produk rekayasa mikrobiologi yang telah mereka hasilkan secara rahasia.

Menurut Wikipedia, didirikan pada tahun 1956, Institut Virologi Wuhan, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS), awalnya bernama Laboratorium Mikrobiologi Wuhan, dan merupakan salah satu institusi nasional paling awal yang didirikan setelah berdirinya Tiongkok Baru. Pada tahun 1961, berganti nama menjadi Institut Mikrobiologi Tiongkok Selatan, CAS dan dirancang ulang menjadi Institut Mikrobiologi Wuhan, CAS pada tahun 1962. Pada tahun 1970, di bawah pengelolaan Komisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Hubei, namanya diganti menjadi Institut Mikrobiologi Provinsi Hubei. Pada Juni 1978, pengelolaannya dikembalikan kepada CAS, dan dengan nama seperti yang digunakan saat ini.

Itu baru di China. Belum terjelaskan riset mikrobiologi apa pula yang sudah berlangsung dan menghasilkan senjata biologi di Eropa, Amerika, Australia atau Jepang. Di Indonesia saja sempat terungkap, padahal ternyata dirahasiakan sejak lama oleh pemerintah, yaitu lembaga riset semacam di Wuhan itu, yaitu Namru-2 yang bekerjasama dengan Angkatan Laut Amerika. Mengapa dirahasiakan? Itu saja sudah menjadi pertanyaan bahwa ada kekuatan gelap dan terselubung yang membayangi negara di manapun melintasi batas-batas negara.

Sebagai tambahan informasi, Namru-2 yang berada di bawah otoritas Angkatan Laut Amerika, tentu aneh. Kenapa bukan di bawah kementerian kesehatan mereka? Berarti proyek penelitian dan rekayasa penyakit menular merupakan senjata dalam perspektif angkatan perang.

Menurut Wikipedia, NAMRU-2 dimulai di Guam pada Perang Dunia II dan dioperasikan di bawah Yayasan Rockefeller. Anda harus tahu track record gelap Rockefeller. Fungsi utamanya saat didirikan hingga saat ini adalah untuk mempelajari penyakit-penyakit menular yang memiliki potensi penting dalam pertimbangan militer di Asia. Unit ini kemudian didirikan pada tahun 1955 di Taipei, Taiwan dan beroperasi selama 24 tahun.

Pada tahun 1958 wabah kolera klasik meletus di Bangkok, Thailand, untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun. NAMRU 2 merespon pada permintaan bantuan Pemerintah Taiwan untuk menolong. Kemudian wabah muncul secara tahunan di Thailand hingga beberapa tahun selanjutnya, ditambah dengan kolera jenis El Tor yang muncul di Sulawesi, Indonesia pada tahun 1961 yang menjadi pandemik ke-7 yang dengan cepat menjadi pusat perhatian agenda riset NAMRU-2 dan cara cara penanggulangannya.

Pada tahun 1968 diskusi dimulai antara Kementrian Kesehatan Indonesia untuk mendirikan unit terpisah di di Jakarta, Indonesia.  Permintaan dari Kementrian Kesehatan Indonesia ini dilatar belakangi oleh penyakit pes yang melanda Boyolali, kecamatan, Selo dan Cepogo di mana 101 orang jatuh sakit dan 42 orang di antaranya meninggal dengan tingkat fatalitas (case fatality rate [CFR]) 42 persen.

Unit ini kemudian didirikan pada tahun 1970 atas undangan resmi dari perwakilan Kementrian Kesehatan Indonesia untuk menyelidiki penyakit penyakit menular yang signifikan baik untuk Angkatan Laut A.S. dan Departemen Pertahanan A.S. Pada tahun 1979, sebagai langkah diplomatik akibat diakuinya Republik Rakyat Tiongkok oleh Amerika Serikat, NAMRU-2 diminta untuk meninggalkan Taiwan dan pindah ke Manila, Filipina.

Pada tahun 1990 dikarenakan kekalutan politik di Filipina dan ancaman potensial terhadap personel A.S., pihak A.S. menganggap langkah bijaksana untuk memindahkan pusat komando ini karena ada keinginan untuk mengurangi keberadaan A.S. di Manila. Angkatan Laut A.S. kemudian mulai menegosiasikan kepindahan unit induk ke Jakarta, Indonesia dan diskusi dimulai antara Kementrian Luar Negeri A.S. dan Pemerintah Indonesia. Unit induk kemudian resmi pindah ke Jakarta pada tahun 1991 dan Unit di Manila ditutup pada bulan Juni 1994.

***

Pada perang Iran-Irak tahun 1980-an, senjata biologi sudah diterapkan dengan nyata. Pada perang Vietnam juga sudah. Bahkan sebenarnya pada perang dunia kedua, Jepang, Jerman dan Amerika tentunya sudah menggunakannya. Coba betapa jahatnya manusia.

Demikian juga rezim Hafez Assad di Suriah telah menggunakan senjata biologi untuk membasmi perlawanan pihak-pihak yang menentang kekuasaannya. Apakah Israel, Amerika, China, Rusia, Inggris tidak menggunakannya diam-diam sekarang ini? Jelas tidak mungkin. Negara seterbelaknag Irak dan Suriah saja menggunakan senjata jahat itu, apalagi biangnya?

Sekarang sudah terjadi malapetaka ini. Mau menyesali? Apa dayamu? Mau mengejar pihak-pihak yang bertanggung jawab? Apa kekuatanmu? Aktor-aktor negaramu saja membiarkannya dan malahan membantu dan melancarkan implikasi bisnis dan politik dari wabah massal penyakit menular Covid-19, yaitu bisnis vaksin, obat-obatan, layanan medis, rumah sakit, test PCR dan Rapid Test Antigen, alat-alat dan fasilitas kesehatan, hingga keamanan dan suplai makanan akibat kebijakan lockdown yang memaksa aktivitas dan mobilitas ekonomi masyarakat tersendat dan non aktif. Malahan dengan sangat menjijikkan, proyek bansos akibat Covid-19 ini dikorupsi sehingga membawa mantan mensos dari pihak yang berkuasa ditahan saat ini. Apa satu dua orang yang terlibat korupsi? Tentu saja tidak.

Sekarang dari pengamatan dekat dari pengalaman dan lapangan, bahwa kakarteristik penyakit menular Covid-19 ini sangat intelijen dan cerdas. Kenapa?

Penyakit ini, menular secara massal dan tidak ada ditemukan obatnya yang efektif hingga hari ini. Kedua, penyakit akibat virus ini menyerang fungsi-fungsi organ. Mereka bilang menyerang sistem kekebalan tubuh. Sekilas benar. Tetapi jika Anda mengalaminya, anda akan memilih kesimpulan bahwa yang diserang adalah fungsi-fungsi organ di dalam tubuh Anda sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.

Organ pernapasan menjadi rusak oleh serangan virus ini. Apalagi Anda fungsi organnya sudah bermasalah sejak awal, maka efektivitas serangan virus ini untuk merusak fungsi organ-organ tubuh Anda makin beringas dan mematikan.

Bagi yang mengalami secara langsung penyakit menular Covid-19 ini — sungguh aneh media tidak menanamkan informasi penyakit ini ke publik sebagai penyakit menular, tapi langsung saja dengan judul virus Covid-19, padahal implikasi maknanya beda — akan mengalami bahwa sesudah melewati masa sakit akibat penyakit menular ini, fungsi-fungsi organnya tidak seprima sebelumnya. Badan cepat lelah dan ngos-ngosan. Dan itu saya tidak tahu akan berlangsung selamanya bagi individu hingga mati. Yang jelas, hasil melewati survive dari penyakit menular Covid-19, vitalitas dan kebugaran tubuhnya lemah, tidak lagi seperti sedia kala. Maka sejumlah orang tidak saja mati oleh akibat serangan penyakit menular ini. Tapi yang lebih gawat lagi, bagi survivors, tetap lemah dan merosot vitalitas tubuhnya. Saya jadi teringat relevansi peringatan Al Quran, Surat an-Nisa (9). “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap nasib mereka.”

Itulah sebabnya, apa yang dikatakan sebagai comorbid, memang akan berakibat fatal jika penyakit menular ini menyerang orang dengan comorbid, atau memiliki penyakit sejak awal. Sebab, penyakit menular Covid-19 ini, tahu pula mengambil titik sasarannya, yaitu bagian yang sudah penyakitan dalam tubuh. Misalnya, Anda sudah mengidap penyakit magh kronis, titik itu akan diserangnya. Perut pun jadi sakit. Jadi tidak hanya sesak nafas yang akan anda alami. Tapi juga fungsi pencernaan anda kena. Kepala menjadi sakit. Mencret-mencret. Itulah yang dialami banyak orang. Dan setiap orang, ada hal yang spesifik dialami. Tergantung comorbidnya. Tetapi ada persamaannya, hilang daya penciuman, suhu badan panas, nafsu makan hilang, organ pernapasan tidak berfungsi baik, aliran oksigen ke otak terasa kurang hingga menyebabkan sakit kepala. Dan fungsi jantung sepertinya diserang juga. Berdebar-debar dan lemas. Tekanan darah kurang optimal. Semua itu, karena asupan oksigen dan makanan tidak optimal. Jadi wajar jika akibatnya fatal. Malah pada titik tertentu, anda akan berada di antara setengah sadar dan sadar. Tidak bisa tidur. Bermimpi hal-hal yang menakutkan. Mental jadi merosot.

Makanya sebisa mungkin harus dilawan serangan virus Covid-19 buatan rekayasa manusia yang ingin menguasai senjata biologi itu. Misalnya untuk menghasilkan tenaga, kita perlu karbohidrat dari nasi, maka paksa makan nasi. Walaupun sejumput. Paksa ditelan saja. Karena pasti mau muntah. Sebab rasanya semua aroma tidak enak. Aroma nasi tidak enak. Mau muntah. Tapi paksa saja supaya kita mendapatkan tenaga. Hajar minum madu. Hajar minum air hangat. Paksakan sholat subuh. Supaya fungsi organ badan bergerak. Lalu usahakan jalan-jalan ringan di waktu subuh supaya kaki bergerak. Biarpun sedikit lemah mengayunkan kaki. Dengan itu aliran darah dari jantung ke seluruh tubuh tetap berlangsung.

Hirup udara dari rimbunan pepohonan. Di waktu subuh apalagi. Oksigen sangat bagus. Karena ini penyakit, mengacaukan dan menyekat asupan oksigen ke paru, merembet ke otak hingga ke darah. Mungkin saja unsur oksigen di darah menjadi berkurang akibat serangan penyakit menular Covid-19. Kalau Anda diam saja di tempat tidur, wajar makin kaku dan oksigen kurang ke seluruh tubuh dan otak. Hajar juga berjemur di bawah sinar matahari pagi. Biar badan sedikit segar.

Dan jangan lupa, apa saja makanan bergizi yang masih bisa ditelan, hajar. Jika masih mau makan nasi padang, hajar. Supaya daya selera terhadap makan tidak hilang. Tidak mudah membangkitkan selera kepada makanan, jika sudah kena serang penyakit ini. Secuil nasi dan secubit ikan saja, sudah luar biasa jika kena penyakit ini. Dan untuk mengembalikan selera makan itu, tidak simsalabim. Butuh proses. Karena aroma di pangkal hidung seperti melekat ada bau yang tidak sedap yang bikin muntah.

Lalu bagaimana kalau duit tidak ada buat beli makanan? Itulah sebenarnya masalah utama. Sebab makanan yang bikin sedikit ada selera bagi si pengidap penyakit menular Covid-19, tentu agak mahal. Di sini harusnya pemerintah ngasih solusi. Bukan sekedar menyekat jalan orang untuk nyari uang atas nama macam-macam istilahlah. Buat gaya-gaya doang pemerintah. Tidak pemda tidak pusat, sama saja. Nggak jelas bantuan keuangannya bagi masyarakat.

Solusi

Penyakit menular Covid-19 ini merupakan serangan kepada gaya hidup modern dan urban. Yang hidupnya banyak duduk dan tidak bergerak. Mengumpulkan penghasilan hanya dengan kerja peras otak. Dan kreativitas tanpa gerakan badan yang memadai. Meeting ke Meeting. Mikir ke mikir. Tapi badannya tidak bergerak optimal. Detak jantung tidak sering dipacu oleh kerja otot.

Penyakit menular Covid-19, akan mental jika seseorang memiliki ritme hidup dan suasana lingkungan hidup seperti di desa yang melimpah oksigen, sinar matahari, kinerja otot yang terpakai maksimal.

Beberapa orang Korea, banyak yang migrasi saat ini ke desa-desa mereka. Terutama saat wabah penyakit menular secara global ini melanda negara mereka juga. Sebab virus ini menular dari manusia ke manusia. Bukan dari pohon ke manusia. Atau dari burung gereja ke manusia. Jadi ini medium penularannya memang dari manusia.

Bila Anda mengurangi interaksi dengan manusia secara fisik dan dekat, apalagi yang ternyata kena virus, Anda akan selamat. Di pedesaan, kepadatan manusia masih jarang. Tentu itu sebabnya laju penularan lebih rendah. Lagi pula gizi makanan di desa lebih baik, karena segar-segar. Dan sinar matahari melimpah ruah. Di kota, orang tinggal di gang-gang yang terhalang sinar matahari. Padahal sinar matahari ini sangat penting agar badan kuat dan bugar.

Jadi rasanya perlu mengubah pola, ritme dan gaya hidup, dari modern konvensional kepada yang alami sesuai kodrat manusia yang dianugerahi tubuh, otot, organ-organ dalam yang semuanya harus berfungsi optimal. Tidak hanya fungsi organ otak saja yang diandalkan untuk hidup. Dan hal ini membawa anda kepada definisi apa itu hidup berkualitas dan sehat. Dan anda akan sedikit mengurangi sikap serakah untuk mengumpulkan uang dan kekuasaan serta jabatan, dan beralih kepada hidup berbagi dan sederhana. Demikian yang saya lihat dan simpulkan. Baik oleh pengalaman maupun mengamati tetangga dan orang-orang yang habis dihajar oleh penyakit menular buatan manusia laknat dan serakah ini. Memunajat kepada Tuhan supaya manusia laknat dibalas oleh Yang Maha. Kalau perbuatan jahat manusia tidak dibalas, makin banyaklah manusia yang akan meninggalkan Tuhan dan beralih tunduk pada sesama manusia. Semoga jihad tetap berkobar terhadap manusia-manusia laknat.

~ Wira Suwira

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!