Analisa

Kenapa Banyak Warga Kelas Menengah Berbalik Mendukung Anies-Sandi? Ini Alasannya

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Bagi para intelektual, aktivis dan lembaga survey sudah saatnya kita berhenti memberikan framing bahwa kemenangan Anies-Sandi merupakan kebangkitan Islam radikal dan fundamentalisme yang akan menghancurkan Jakarta dalam 5 tahun ke depan. Sekarang adalah saatnya kita menjalin persatuan dan kesatuan agar pembangunan kota Jakarta ke depan bisa lebih mempersatukan warga, memajukan kota dan membahagiakan rakyat Jakarta.

Mari kita bersama-sama melihat angka kekalahan Ahok di Pilkada DKI agar kita semua bisa mengambil pelajaran dari pesta demokrasi di Jakarta yang baru saja usai.

Di luar dugaan semua lembaga survei dan tim sukses, yang meramalkan perolehan dua paslon di putaran kedua akan berbeda tipis, ternyata Ahok kalah telak. Ahok bukan saja tidak berhasil meningkat perolehan suaranya dari yang dia peroleh di putaran satu.

Perolehan suaranya di putaran kedua bahkan turun dibandingkan dengan di putaran pertama. Padahal jumlah pemilih pada putaran kedua lebih banyak, dan ini berkat keberhasilan kampanye KPUD dan timses dari kedua belah pihak yang mendorong warga untuk mencoblos dan tidak golput.

Pada putaran pertama, berdasarkan hasil penghitungan resmi Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta 26 Februari lalu, pasangan Ahok-Djarot meraih 2.364.577 suara atau 42,99 persen.

Sedangkan pada putaran kedua, suara Ahok-Djarot hanya sebesar 42,05 persen (2.351.438 suara). Artinya Ahok-Djarot kehilangan 13.139 suara pada putaran kedua. Sementara itu jumlah pemilih yang hanya 77% pada putaran pertama meningkat jadi 78% pada putaran kedua.

Sementara itu perolehan suara Anies-Sandi, yang pada putaran pertama sebesar 39,97 persen (2.193.530 suara), di putaran kedua naik signifikan menjadi 57,95 persen (3.240.379 suara). Artinya Anies-Sandi berhasil menambah suara secara signifikan sebesar 1.046.849 untuk menjadi gubernur baru Jakarta.

Hal ini terjadi karena beberapa faktor. Salah satu faktor pentingnya adalah karena kelas menengah yang selama ini diklaim sebagai pendukung setia Ahok-Djarot, ternyata pada detik terakhir memutuskan untuk meninggalkan idolanya dengan sebab-sebab sebagai berikut:

1. Dalam debat putaran terakhir yang diselenggarakan KPUD, Anies-Sandi secara meyakinkan berhasil merebut hati kelas menengah. Dari responden yang menonton debat tersebut, 47.3% mengatakan bahwa Anies-Sandi yang paling bagus penampilannya, dan hanya 28.3% yang menyatakan bahwa Ahok-Djarot lah yang bagus.

Yang menyatakan program kerja Anies-Sandi yang paling bagus adalah 52.3% dibandingkan hanya 36.5% yang mengatakan bahwa Ahok-Djarot lah yang bagus program kerjanya.

Bukan itu saja, dari 88.6% responden yang meyakini bahwa para kandidat akan mampu melaksanakan janji kampanyenya, 57.9% dari mereka yakin bahwa Anies-Sandi akan mampu melaksakan janji kampanye, sementara hanya 34.8% yang mengatakan Ahok-Djarot lah yang mampu.

2. Pada saat minggu tenang, timses Ahok melakukan blunder fatal ketika mereka melancarkan serangan sembako yang bukan hanya dilakukan secara masif tapi juga secara terang-terangan dengan memakai baju kotak-kotak dan didampingi oleh orang-orang yang memakai baju partai pendukung.

Ini benar-benar melukai akal sehat dan menjatuhkan reputasi Ahok di kalangan kelas menengah. Karena dia selama ini selalu mengaku sebagai pemimpin yang bersih dan anti politik uang, termasuk anti bagi-bagi sembako. Aksi bagi-bagi sembako ini juga melukai perasaan rakyat kelas bawah. Mereka merasa dihina dan dilecehkan bahwa suara mereka bisa dibeli dengan satu tas sembako.

Argumentasi beralihnya pilihan kelas menengah di atas didukung data yang dikeluarkan oleh lembaga survey Polmark (PRC). Data PRC menunjukkan bahwa dalam putaran kedua yang lalu, terbukti bahwa pemilih Anies-Sandi tidak hanya berasal dari kelas menengah ke bawah, tapi berasal dari semua strata ekonomi.

64% dari pemilih dengan penghasilan > Rp. 1 juta – Rp. 10.000.000 memang selama ini lebih banyak memilih Anies-Sandi yaitu 54.1%, dan yang memilih Ahok-Djarot hanya 34.9%.

Sedang pemilih dengan penghasilan antara Rp 10 juta – 20 juta yang selama ini menjadi basis dukungan Ahok, 62.5% dari mereka dengan setia memilih petahana.

Tetapi yang mencengangkan adalah bahwa dalam putaran kedua ini pemilih yang berpenghasilan di atas Rp.20.000.000,- yang selama ini diasumsikan mendukung Ahok, ternyata 71.4% dari mereka memilih Anies-Sandi dan hanya 28.6% yang memilih AhokDjarot.

Beralihnya pilihan kelas menengah dari Ahok-Djarot ke Anies-Sandi juga tercermin dalam data tentang masa-masa responden menentukan pilihannya. Dari 13.1% yang menyatakan memutuskan untuk memilih ketika berada di kotak suara, 60.2% dari mereka menyatakan mereka memilih Anies-Sandi, dan hanya 32.3% yang memilih Ahok-Djarot.

Dari 15.1% yang menyatakan menentukan pilihannya pada masa tenang sebelum hari pemilihan, 57.9% dari mereka memilih Anies-Sandi, dan hanya 29.0% memilih Ahok-Djarot.

Bagi yang memutuskan pilihan satu bulan sebelum pencoblosan, 60.8% dari mereka memilih Anies-Sandi dan hanya 25.3% yang memilih Ahok-Djarot.

Sebaran suara Anies-Sandi juga terbukti merata di semua kota di Jakarta, termasuk di daerah-daerah kelas menengah dan kelas menengah ke atas. Semua kota bagian di Jakarta dimenangkan oleh Anies-Sandi.
Jakbar: 53%, Jakut: 53%, Jakpus: 58%, Jaksel: 62,4%, Jaktim: 62,5%, dan Kep Seribu: 63%. Perolehan suara Ahok-Djarot rata-rata turun 1% dan Anies-Sandi suaranya di setiap kota di Jakarta rata-rata naik 18%.

Dari data-data di atas terlihat bahwa bukan saja terjadi peralihan suara kelas menengah dari Ahok-Djarot ke Anies-Sandi tapi undecided voters pada akhirnya juga melabuhkan hatinya pada Anies-Sandi.

Realitas perubahan drastis perolehan suara tersebut di atas mematahkan framing yang dibangun oleh kubu Ahok-Djarot bahwa Pilkada DKI sarat dengan isu SARA dan merupakan kebangkitan kelompok Islam radikal yang akan membahayakan masa depan Jakarta.

Setelah kemenangan Anies-Sandi, kembali beredar segala macam tulisan dan meme yang menakuti-nakuti warga kelas menengah bahwa Jakarta akan menjadi seperti Suriah dan ISIS akan berkuasa di Jakarta.

Upaya menakut-nakuti kelas menengah dengan isu SARA itu diperparah oleh kalangan intelektual, aktivis dan lembaga survey yang selalu memberikan informasi hanya isu SARA lah yang memenangkan Anies. Padahal pola perolehan suara sudah menunjukkan bahwa tindakan menakuti-nakuti kelas menengah dengan memakai isu SARA tersebut sudah tidak mempan.

Keyakinan saya bahwa warga Jakarta adalah pemilih yang rasional seperti tulisan saya ketika selesai Pilkada putaran pertama tidak pernah berubah sampai sekarang. Dan pola perolehan suara di putaran kedua yang lalu menunjukkan bahwa pendukung Anies-Sandi berasal dari semua lapisan kelas dan berasal dari segala penjuru Jakarta. Warga Jakarta siap bersatu di bawah kepemimpinan gubernur baru untuk membangun Jakarta secara inklusif buat memajukan kotanya dan membahagiakan warganya. [mc]

*Edriana Noerdin, Research Director, Women Research Institute, Jakarta. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top