Warkop-98

Analisa Aktivis Tionghoa Zeng Wei Jian: Ahok “Dajjal”


21 September 2016, 2:00
Dilihat   10.0K

Nusantarakini.com, Jakarta-

AHOK DAJJAL
by Zeng Wei Jian

Beberapa hari lalu, Amien Rais menyebut Ahok dengan istilah “dajjal”. Terlalu banyak individu mengidentikkan Ahok sebagai “dajjal”. Bila hanya 1-2 orang mencibir Ahok sebagai “dajjal”, mungkin itu bisa dianggap angin lalu. Namun bila banyak orang menyatakan Ahok “dajjal”, pasti ada common reason serius di balik itu. Dan itu mestinya diperhatikan.

“Dajjal” sinonim dengan setan, iblis, demon, evil. Artinya kurang-lebih “mahluk jahat”. Kata “satan” ditemukan dalam text Abrahamic religions. Satan adalah mahluk pembawa kebatilan dan godaan, diidentifikasi sebagai penipu yang menjerumuskan umat manusia ke jurang kehancuran.

Jadi ada beberapa key words terkait “satan”: batil (jahat), merayu (muslihat) dan penipu.

Semua karakter itu ada di Ahok. Mungkin itu alasan di balik statement Amien Rais. Ahok menggoda fantasi “pemuja”-nya dengan rayuan pembangunan Singapura, menjadikan Jakarta sebagai metropolis bebas kumuh dan lain sebagainya.

Dengan dalil itu Ahok melegalisasi proyek penggusuran. Korbannya ribuan orang. Program “relokasi” ternyata penuh kebohongan. Soal tipu menipu, Ahok punya catatan legendaris. Mulai janji-janji kampanye, jalur nyagub, cuti kampanye, jakarta bebas banjir, transparansi anggaran, hewan qurban dan lain sebagainya.

Seluruh aktifitas Ahok seperti policy, perilaku, verbal abuse, bikin tim buzzer bertendensi pada disharmoni sosial. Sadar ga sadar, Dia seret komunitas etnik Tionghoa masuk pusaran konflik. Ahok memicu eskalasi sentimen rasialis anti Tionghoa.

Sampai di sini, interpretasi “dajjal” atau satan cocok untuk Ahok.

The Book of Revelation mendeskripsikan, setan diusir dari surga karena “having great anger.” Setan merasa lebih baik dari semua mahluk ciptaan Tuhan. Setan merasa jadi anak kesayangan Tuhan. Karena itu, dia menolak untuk bersujud di hadapan manusia.

Deskripsi ini cocok lagi untuk Ahok. Semua orang di republik ini, kecuali penderita cacat mental dan Ahoker, tahu kalau Ahok pemarah. Dia tempramental akut. Segala strata pernah dia maki. Ya anggota DPR, pengusaha, aktifis, tukang demo, janda, preman dan sebagainya.

Ahok mencitrakan diri sebagai satu-satunya politisi bebas korupsi. Yang lain adalah garong APBD. Karakter ini pas banget dengan deskripsi Book of Revelation soal “Satan”.

Bagi umat agama Bahá’í, Satan didefinisikan sebagai “lower nature of humans.”

Ahok kasar, suka mencaci maki, menghina Amien Rais sebagai orang tua pikun, inkonsisten, tidak memiliki empati terhadap korban penggusuran dan orang miskin. Sementara calon incumbent lain tidak keberatan, Ahok sendirian menggugat UU Pilkada. Padahal dulu dia ngotot agar Foke cuti. Alasannya untuk menghindari penyalagunaan kekuasaan incumbent gubernur. Saat Ahok berkuasa, dia malah ngotot tidak mau cuti. Sebagian orang melihat ini perilaku licik Ahok.

Semua itu merupakan kriteria dari “lower nature”. Dan sekali lagi, Ahok punya semua kriteria itu.

Dajjal, lengkapnya “Al-Masih Ad-Dajjal”, berasal dari bahasa Syria. Tulisan Arabic-nya دجال. Berasal dari kata “dajl”, artinya “lie” atau “deception”.

“Al-Masih Ad-Dajjal” secara sederhana berarti dajjal ini berpura-pura sebagai al-Masih atau Messiah. Dajjal bisa diartikan sebagai “nabi palsu”.

Rasanya kok ngga asing dengan komentar-komentar di sosmed tentang Ahok adalah mesias ya.

Saya kira, publik mesti berhati-hati menilai prestasi dan kualitas Ahok. Alih-alih mensejahterakan orang banyak, BPS malah merilis kenaikan jumlah orang miskin di Jakarta. Pembangunan infrastruktur dan kebersihan sungai bisa jadi tipu muslihat di saat tidak ada perubahan signifikan dan substantif selama Ahok berkuasa. Karena itu, saya kira tidak berlebihan bila Amien Rais bilang Ahok “dajjal.”

THE END (*mc)

 

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!