Analisa

Mr. Kan: Ahok di Sidang Nangis, Waktu Gusur Warga Kok Tidak?

Nusantarakini.com, Jakarta-

Tuhan Memang Maha Adil, Kemarin Gantian Pak Ahok Yang Menangis

(Cerita Pengalaman Nyata )

by Mr. Kan

Saya beberapa kali merasakan sangat sedih yang tak tertahankan, bahkan menangis ketika sedang menonton berita di televisi saat Satpol PP sedang menggusur PKL dengan mendorong, menarik dan mengangkut gerobak serta barang dagangan para PKL.

Yang membuat saya sangat sedih tak tertahankan adalah saat melihat ibu-ibu dan bapak-bapak PKL menangis histeris dan berteriak sambil mempertahankan gerobak dan barang dagangannya. Saat itu saya langsung berpikir, jika hari ini anak-anak mereka yang di rumah melihat kejadian bapak dan ibunya yang PKL digusur begitu, maka mereka pasti sangat sedih. Saya bisa memperkirakan, rata-rata dari mereka yang PKL pasti bersusah payah mendapatkan sedikit pendapatan untuk membiayai kehidupan rumah tangga mereka.

Ada lagi hal yang membuat saya sangat sedih tak tertahankan sampai menangis saat menonton berita di televisi dan melihat gambar-gambar kiriman dari Whatsapp Group teman-teman, tentang penggusuran rumah-rumah kumuh. Saat saya melihat nenek-nenek, ibu-ibu, kakek-kakek, bapak-bapak, dan adik-adik menangis dan berteriak saat rumah mereka digusur dengan alat berat. Saya langsung berpikir, jika hari ini rumah saya yang tergusur bagaimana rasa sedihnya saya bersama istri anak-anak saya. Saya mengeluarkan air mata. Sekejap saya langsung berdoa kepada Dewi Kwan Im dan Budha Maha Pengasih, “tolong lindungilah mereka yang tergusur itu…”

Saya sangat setuju jika Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ingin merapikan Kota Jakarta, tapi yang membuat saya tidak setuju karena ada beberapa hal yang terasa sangat janggal dan adanya ketidakadilan. Pertama, saya menduga, kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukkan kurangnya musyawarah yang baik dengan pihak-pihak yang digusur, mengakibatkan terjadinya banyak kontra.

Kedua,  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam hal ini Ahok, melakukan penggusuran sesuka hatinya saja. Mengapa saya katakan demikian? Hal ini bisa kita saksikan bahwa korban gusuran dipindahkan dengan jarak yang jauh sekali dari asalnya, sehingga sebagian besar lingkungan dan teman-teman yang tergusur menjadi hilang pekerjaan dan mata pencahariannya.

Kemudian saya juga mendapat kabar, bahwa yang tidak punya KTP DKI tidak mendapat jatah rusun (saya membaca berita teman-teman yang tergusur lebih banyak yang tidak punya KTP DKI sehingga mereka kehilangan rumahnya begitu saja). Di sini saya mengamati, rasa kemanusiaan pun sangat berkurang, sedangkan dalam penggusuran ini yang terpenting adalah rasa kemanusiaannya yang seharusnya sesuai dengan UUD 1945 Pasal 34, terutama pada ayat 1 dan ayat 2.

Ketiga, saya mendapat kabar, bahwa teman-teman yang dipindahkan ke rusun harus membayar Rp. 300.000,00 / bulan. Jika 3 bulan tidak membayar, maka akan digusur lagi. Di sini saya melihat sangat kurangnya toleransi sosial.

Keempat, PKL yang tergusur juga saya melihat kurangnya musyawarah dan solusinya sama sekali tidak ada, sehingga Teman-teman PKL yang tergusur menangis histeris dan berteriak-teriak saat digusur.

Berdasarkan hukum kepemilikan tanah, untuk teman-teman yang tergusur yang membangun rumah di atas tanah negara, memang merupakan suatu kesalahan/pelanggaran, namun yang paling bersalah adalah pemerintah sebelumnya, mengapa membiarkan teman-teman bisa membangun dan bertempat tinggal di sana, bahkan ada yang sampai puluhan tahun? Dan berdasarkan informasi yang saya terima, sebagian teman-teman yang tergusur marah, karena mereka memiliki surat-surat kepemilikan lahan yang mereka tempati.

Berdasarkan UU Agraria, untuk yang sudah membangun lebih dari 20 tahun, hal ini ada perdebatan pkhusus! Seharusnya Pemerintah yang sekarang ini harus bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahan pemerintah sebelumnya.

Semua pergusuran yang terjadi yang saya lihat itu adalah perintah dari Pak Ahok Gubernur DKI, saya tidak melihat Pak Ahok menangis saat penggusuran terjadi!

Namun kemarin siang saya melihat Pak Ahok menangis saat sedang sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Saya melihat tangisan Pak Ahok tidak seberapanya dibandingkan saat saya menangis menonton dan melihat pergusuran yang diperintahkan oleh Pak Ahok!

Saya pun ragu dan bingung sekali, kesedihan apa yang membuat Pak Ahok menangis? Saya merasa seperti menonton sinetron!

“Sesungguhnya saya pun punya solusi yang lebih baik untuk merapikan permukiman kumuh di DKI “.

Akhir kata, saya minta maaf yang sebesar-besarnya bagi teman-teman dan saudara-saudara yang saya hormati, bila ada yang kurang berkenan atas artikel yang saya buat ini.
Terima kasih

*Kan Hiung, lebih dikenal dengan panggilan Mr.Kan alias Ko Afut (pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

(*mc)whatsapp-image-2016-12-15-at-7-14-18-pm

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top