Nasional

Prof. Zulkarnain Lubis Sebut Reformasi Menuju Mati, Begini Alasannya

Prof. Ir. Zulkarnain Lubis, MS, Ph.D, Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Medan Area/IST

“Reformasi dapat diselamatkan dan tidak jadi mati! Jika para pemimpin yang akan muncul adalah yang anti terhadap reformasi, yang perbuatan dan kelakuannya bertentangan dengan agenda reformasi, maka kita perlu siap-siap mengucapkan selamat jalan era reformasi, riwayatmu sampai di sini.”

Nusantarakini.com, Medan –

Genap sudah 26 tahun reformasi bergulir yaitu sejak Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998 dan mengalihkan kekuasaannya kepada Wakil Presiden saat itu yaitu BJ Habibie. Tanggal tersebut dijadikan sebagai awal dari era reformasi, sebagai tanda dari berakhirnya masa kepemimpinan Soeharto yang telah berjalan selama 32 tahun yang dianggap memimpin dengan tangan besi dan sering bertentangan dengan hak azasi.

Namun sayangnya, reformasi yang lahir dari hasil perjuangan berbagai komponen bangsa yang dimotori oleh mahasiswa dari segala penjuru tanah air dan memakan banyak korban jiwa itu, tidak seperti yang dibayangkan semula.

Bayi Reformasi tersebut tidak tumbuh sehat dan perkasa, melainkan penuh cacat, baik secara fisik maupun mental. Di usianya yang sudah menginjak 26 tahun ini, malah dia seakan tak berdaya, pertumbuhannya terhambat karena kurang gizi, mengalami stunting, mengalami keterbelakangan mental, cacat, dan hidup dalam tekanan, bahkan sudah sekarat dan menunggu kematiannya, ya betul reformasi sedang menuju kematiannya,” tutur Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Medan Area, Prof. Ir. Zulkarnain Lubis, MS, Ph.D, kepada Nusantarakini.com, Medan, Kamis (16/5/2024).

Demonstrasi menumbangkan Rezim Orde Baru di Gedung DPR/MPR RI Mei 1998. (Foto: Istimewa)

Bagaimana tidak tumbuh cacat dan sekarat, lanjut Prof. Zulkarnain, para “bidan” yang semula bahu membahu mengeluarkan si bayi dari rahim politik otoritarianistik dan para orang tua serta pejuang yang dulu berjuang melahirkannya, kini seakan melupakannya, mengabaikannya, meninggalkannya, dan membiarkannya hidup merana menanti mati. Mereka malah ada yang ikut saling sikut-menyikut, salah-menyalahkan satu sama lain, saling berebut menikmati kekayaan dan kedudukan paska lahirnya era reformasi bahkan hingga kini.

“Mereka hanya membonceng dan memanfaatkan reformasi, untuk bisa memperkaya diri, merasakan nikmatnya duduk di singgasana dengan buaian puja dan puji, mengumpulkan harta dan materi, dan melestarikan kekuasaan untuk anak istri,” bebernya.

Prof. Zulkarnain juga sangat menyayangkan banyaknya penumpang gelap reformasi, yang dulunya tidak terlihat saat berjuang tapi justru yang paling menikmati hasil reformasi, mereka seolah-olah reformis sejati, seolah-olah paling mendukung demokrasi, tapi hanya untuk ikut berbagi, ikut menikmati, dan mendapatkan posisi.

“Ada pula yang bermetamorfosa dan mentrasformasi diri yang tadinya anti reformasi tapi bisa muncul bak pahlawan di siang hari. Akibatnya, seperti kita alami kini, jika dibiarkan terus, maka reformasi yang penyakitan dan cacat akan semakin membusuk dan akhirnya mati,” ungkapnya.

Ketua Program Magister Agribisnis, dan Ketua Dewan Guru Besar UMA juga menyampaikan, untuk tuntutan amandemen terhadap UUD 45 memang sudah dilakukan sampai beberapa kali, tapi faktanya kepemimpinan yang demokratis mungkin masih sekedar mimpi, bukan tidak mungkin kekuasaan pada tangan seseorang kembali bisa abadi, bahkan politik dinasti untuk melanggengkan kekuasaan bukan lagi sekedar halusinasi.

“Dinasti politik tumbuh di seantero negeri, saling menguatkan dengan tindakan korupsi, kolusi, nepotisme, dan kroniisme yang justru merupakan salah satu agenda reformasi yang harus diperangi untuk terciptanya pemerintahan yang bersih dan memiliki akuntabilitas tinggi,” tegas Prof. Zulkarnain.

“Pemberantasan korupsi serta upaya menjauh dari kolusi dan nepotisme tak menunjukkan perkembangan berarti, malahan hampir tidak ada tempat yang lolos dari praktek korupsi dan kolusi, termasuk mewariskan kekuasaan ke anak dan istri,” imbuhnya.

Lebih miris lagi, kata dia, apa yang terjadi pada zaman dahulu yang biasa dikatakan sebagai Orde Baru, sekarang juga tetap terjadi, malahan menunjukkan gejala pemegang kekuasaan yang semakin serakah dalam meraup materi, semakin terang-terangan dalam berbuat menyimpang, dan semakin jauh dari agenda reformasi.

“Akan tetapi dari agenda reformasi tersebut, poin yang paling parah persoalan penegakan supremasi hukum yang kelihatannya makin jauh panggang dari api, undang-undang dan peraturan makin dikangkangi, ketidakadilan dan diskriminasi hukum makin menjadi-jadi, kesamaan hak di depan hukum hanya sekedar basa-basi, ibarat pisau, sisinya tumpul ke atas dan tajam ke bawah yang hanya bisa menggores rakyat yang tak bertaji,” paparnya.

Hukum, kata Prof. Zulkarnain, dibuat hanya untuk menghukum rakyat, sementara para pejabat tinggi dapat berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, akibatnya hilang kebenaran hukum dan hancur norma-norma keadilan di negeri ini.

“Semakin jelas kini, tak terwujud sistem politik, hukum, dan ekonomi yang adil, tak terasa adanya perbaikan ekonomi, serta tak terealisasi pembagian kekuasaan yang berimbang antara pusat dan daerah, sehingga perwujudan ekonomi yang adil dan berimbang masih sekedar teori,” ucapnya sedih.

“Jadi wajar saja jika kunci dari agenda reformasi tersebut yaitu penguatan civil society (masyarakat madani) semakin tak terpenuhi, tidak adanya peningkatan akses, partisipasi, dan kontribusi rakyat dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, negara dan pemerintah masih dominan dalam menentukan dan mengatur rakyat, rakyat masih takut dan merasa tidak aman dalam mengeluarkan pendapat, dalam bekerja, dan masih merasa tidak bebas dari tekanan, kekerasan, intimidasi, dan diskriminasi,” lanjutnya membeberkan.

Prof. Zulkarnain kembali menegaskan, praktis semua agenda reformasi tinggal kenangan di hati, tak ada hasil yang secara substansial bisa memberi dampak yang berarti. Pantas saja jika ada yang menyebutkan bahwa reformasi sedang menuju mati, akibat penyakit kronis yang menggerogoti, kurang gizi, tak ada lagi yang perduli, tak ada lagi yang mengobati, apalagi tangan dan kakinya sudah diamputasi.

“Kini kita tinggal menanti, kelihatannya di negeri ini akan makin marak korupsi dan kolusi, makin menjadi-jadinya nepotisme dan kroniisme, makin merajalela politik dinasti, makin kuatnya pusat mengendalikan seluruh negeri, serta undang-undang dan konstitusi makin dikangkangi,” ungkapnya.

Untuk itu, kata Prof. Zulkarnain, sangat diperlukan hadir pemimpin yang betul-betul menyadari dan memahami apa sesungguhnya yang tengah terjadi pada bangsa ini. Kita membutuhkan para pemimpin yang punya komitmen dan hati nurani yang mau memberikan statement dan sungguh-sungguh ingin membawa dan mengajak seluruh bangsa untuk meneruskan agenda reformasi dan keluar dari berbagai masalah yang dihadapi kini.

“Dengan demikian, reformasi dapat diselamatkan dan tidak jadi mati. Jika para pemimpin yang akan muncul adalah yang anti terhadap reformasi, yang perbuatan dan kelakuannya bertentangan dengan agenda reformasi, maka kita perlu siap-siap mengucapkan selamat jalan era reformasi, riwayatmu sampai di sini,” pungkas akademisi yang produktif menorehkan catatan kritisnya mengakhiri. [mc]

Terpopuler

To Top