Satire

Prabowo-Gibran Mengkhawatirkan bagi Indonesia

Nusantarakini.com, New York –

Tidak diragukan lagi bahwa pemilu dan pilres kali ini adalah pemilu, pilpres khususnya, yang terburuk dalam sejarah Indonesia. Kesimpulan ini telah disampaikan secara terbuka oleh banyak kalangan, baik tokoh-tokoh nasional, akademis, purnawirawan TNI/Polri, hingga agamawan dan budayawan. Kenyataan ini terefleksi dengan berbagai demonstrasi masif di berbagai tempat di Indonesia menentang manipulasi dan ragam kecurangan yang terstruktur, sistimatis dan masif (TSM).

Pelaksanaan pemilu dan pilpres yang buruk ini disebabkan karena capres-cawapres yang berusaha dimenangkan oleh pihak kekuasaan (baca: Presiden) dengan ragam kecurangan dan manipulasi menjadi pasangan terburuk dalam sejarah pilpres Indonesia. Sehingga dengan sendirinya capres-cawapres yang berusaha dimenangkan dengan cara-cara seperti pada akhirnya jika terpilih nanti akan menjadi presiden-wapres terburuk dalam sejarah Indonesia.

Dalam beberapa catatan terdahulu telah saya sampaikan dengan cukup rinci alasan-alasan kenapa Prabowo tidak pantas memimpin negara besar Indonesia. Kali ini saya sampaikan beberapa alasan penting kenapa pasangan capres-cawapres Prabowo-Gibran, tidak saja buruk bagi Indonesia. Tapi sesungguhnya berbahaya bagi masa Indonesia ke depan.

Ada sembilan alasan yang ingin sampaikan sebagai dasar argumentasi kenapa pasangan Prabowo-Gibran buruk dan berbahaya bagi Indonesia ke depan.

Pertama, proses terbentuknya pasangan ini melalui berbagai konsesi-konsesi politik kepentingan sempit. Partai-Partai politik yang bergabung semuanya berharap punya “potongan kue” dari kekuasaan. Jauh dari keinginan melihat Indonesia lebih maju (sebagaimana slogan mereka), kuat dan berdaulat. Realita ini menjadikan koalisi itu penuh intrik dan makar, menjadikannya koalisi yang sangat rapuh. Ke depan akan retak ketika kepentingan masing-masing tidak tercapai sesuai harapan.

Dua, proses pencalonan Gibran sebagai cawapres cacat dengan pelanggaran hukum dan etika. Dimulai dengan praktek nepotis ayah-paman (melanggar UU), merubah aturan untuk kepentingan melalui keputusan MK yang termanipulasi, hingga KPU menerima pendaftaran Paslon 2 sebelum keputusan MK sah untuk dilaksanakan. Semua ini menjadikan pasangan nomor 2 batal dan harus terkualifikasi.

Tiga, proses-proses yang terjadi pra pilpres dengan berbagai intervensi kekuasaan dan manipulasi aparatur dan fasilitas negara untuk paslon 2 telah melanggar berbagai aturan dan etika. Penugasan kepala-kepala daerah, khususnya pejabat antar waktu, kades-kades (baik dengan sogokan atau tekanan), kepolisian hingga ke PNS (Depag misalnya) semuanya menjadi kejahatan politik yang merusak demokrasi dan institusi negara. Tentu tidak kalah buruk dan jahatnya adalah penggunaan bansos secara ugal-ugalan yang boleh jadi berakibat kepada krisis beras saat ini.

Empat, hal yang lebih buruk lagi adalah kenyataan bahwa Presiden Jokowi merupakan “master” (ndasmu) dari semua berbagai kecurangan dan manipulasi yang terjadi, baik pra, di saat, maupun pasca pilpres. Hal itu terbukti ketika beberapa program kampanye Prabowo-Gibran dimasukkan ke dalam rancangan APBN walaupun KPU belum memutuskan hasil akhir pilpres. Program makan siang dan susu gratis misalnya dibicarakan di pertemuan kabinet. Ini menunjukkan bahwa Prabowo sedang diposisikan sebagai boneka dari keinginan Jokowi untuk terus berkuasa. Kecenderungan yang lebih buruk dari sekedar dinasti.

Lima, keterlibatan Oligarki (pemilik modal) yang mengaku menguasasi sepertiga kekuasaan negara dalam mendukung Prabowo-Gibran bukan tanpa maksud. “There is no free coffee” (tidak ada yang gratis). Mereka punya kepentingan untuk terus menguasasi perekonomian sekaligus menguasai perpolitikan dan pemerintahan. Dengan realita ini kemiskinan (dan kebodohan) rakyat akan terus dipelihara untuk lebih mudah dikontrol oleh mereka. Ini mengingatkan kita sebuah sistim kekuasaan (pemerintahan) tertentu yang mungkin saja terjadi di Indonesia.

Enam, isu kesehatan dan umur yang bukan rahasia lagi bahwa Prabowo tidak terlalu fit untuk memimpin bangsa besar dengan segala permasalahannya. Prabowo adalah mantan prajurit dan menantu penguasa yang kuat kala itu. Dia lalu mengalami goncangan situasi. Ditambah lagi pernah kalah dalam pertarungan capres/cawapres tiga kali. Semua ini berdampak negatif pada keadaan emosi dan mentalitàsnya. Karenanya Prabowo selain secara fisik mengalami defisit, yang lebih parah adalah masalah mental dan emosi yang kurang stabil. Pemimpin yang secara mental dan emosi mengalami gangguan akan berbahaya dalam kebijakan, khususnya ketika harus merespon isu-isu sensitif yang terjadi.

Tujuh, Prabowo memiliki catatan masa lalu yang kelam akan tetap menjadi catatan dunia. Dari isu penculikan aktivis hingga pembantaian di Timor Timur kala itu. Bahkan pernah dicekal untuk masuk ke beberapa negara Barat, termasuk AS. Jika ditetapkan sebagai Presiden RI hal ini dengan sendirinya akan jadi kendala tersendiri dalam menjalankan Pemerintahan, khususnya dalam hal hubungan luar negeri.

Delapan, jika karena faktor umur dan/atau kesehatan lalu Prabowo berhalangan secara permanen dalam menjalankan pemerintahan maka yang akan menjabat atau menjalankan tugas-tugas kepresidenan adalah wakilnya. Saya hanya tidak bisa membayangkan, atau juga malu rasanya sebagai putra Indonesia, negara yang besar dan hebat ini dipimpin oleh seorang Gibran yang terlahir melalui eborsi politik haram. Gibran akhirnya populer sebagai cawapres dongkrakan dan anak haram Konstitusi.

Sembilan, yang paling mengkhawatirkan sesungguhnya adalah “ancaman kedaulatan negara” oleh kekuatan luar. Jika saja kita mengikuti rencana Pembangunan IKN secara dekat, kita akan ketahui siapa-siapa saja di garis terdepan yang terlibat. Aliran uang dari mana saja, bahkan nuansa orientasi pembangunan Ibukota negara itu kemana, dan seterusnya. Kekhawatiran akan ancaman luar ini juga terlihat jelas dengan kasus-kasus mutakhir, server komputer KPU yang berada di luar negeri (baca: AliBaba di Singapura dan China) misalnya. Semua ini seharusnya membuka mata kita dan paham jika bangsa dan negara tercinta sedang tidak baik-baik saja.

Demikian disampaikan 9 alasan penting kenapa bangsa dan negara buruk bahkan bahaya dipimpin oleh Prabowo-Gibran. Saya sampaikan ini tanpa tendensi kepentingan apapun. Tapi karena cinta negeri; a home of my birth!

Semoga kita semua membuka mata! [mc]

*Utteng Al-Kajangi, Diaspora Indonesia di Amerika Serikat.

Terpopuler

To Top