Satire

Prabowo itu Hebat, Pakar Tanaman Alutsista-Kayya-Rayya

Sebagai foot-note saja: “alutsista-kayya-rayya” adalah jenis tanaman mahal di Kemenhan yang bisa menghasilkan keuntungan besar bagi para pengelolanya. Pak Prabowo adalah pakar terbaik untuk jenis tanaman alutsista itu. Hebatnya, beliau juga ahli tanaman jagung polibag di “food estate” setelah singkong melawan perintah untuk tumbuh.

Nusantarakini.com, Jakarta –

Bagaimanapun juga, Pak Prabowo adalah seorang kontestan yang tangguh. Dia tidak mau menyerah. Dua kali atau tiga kali kalah pilpres, semangat beliau tak pernah padam.

Jiwa militeristiknya pun, tak berubah. Nada bicara Sang Komandante, juga masih lantang. Gaya pidato yang meledak-ledak, tidak jauh berbeda setelah lima tahun berlalu gebrak podium 2019.

Siap menerkam lawan bicara, tidak pernah pudar. Karakter keras tanpa kompromi, tak pernah luntur. Begitu juga semangat untuk berkuasa, masih menggebu-gebu.

Singkat kata, Pak Prabowo adalah simbol terbaik untuk ekosistem tak kenal menyerah. Dia akan bangkit lagi setelah tersungkur. Akan hidup kembali walau terkubur.

Karena itu, Pak Prabowo mungkin satu-satunya prajurit yang tidak sejalan dengan semboyan “Patah Tumbuh Hilang Berganti, Gugur Satu Lahir Seribu.”

Bagi Pak Prabowo, beliau tidak akan patah dan tidak boleh diganti. Selalu siap bertarung di pilpres kapan saja. Pak Prabowo tidak mau disebut “patah” dan tidak boleh ada “yang tumbuh.” Beliau juga merasa tidak akan gugur dan karena itu jangan ada satu pun yang lahir, apalagi seribu.

Pak Prabowo juga petarung yang tangguh di proyek-proyek Kemenhan. Terutama proyek tanaman mahal yang bahasa Latin-nya adalah “alutsista-kayya-rayya.” Tanaman ini menghasilkan banyak duit bagi para petani di lingkungan Kemenhan dan Gerindra.

Tidak hanya petani sukses alutsista-kayya-rayya. Pak Prabowo adalah pelindung benda-benda bersejarah seperti pesawat tempur bekas, dan lain sebagainya. Beliau mau beli Mirage 2000-5 buatan 1997. Mungkin dulu Menhan Juwono Sudarsono menolak hibah dari Qatar pada 2009 karena tidak peduli benda bersejarah.

Pak Prabowo bukan prajurit kaleng-kaleng. Beliau adalah pemikir pertanian dan ketahanan pangan. Beliau boleh dikatakan pakar pupuk dan juga ahli memupuk.

Pak Prabowo sangat paham cara memupuk semangat para kroninya agar mereka bisa tumbuh besar bersama proyek “food estate” (lumbung pangan) di Kalimantan itu. Dan agar anak-anak asuh beliau juga tumbuh kuat secara duitologis bersama proyek-proyek Kemenhan dan lumbung pangan.

Inilah metode baru bidang pertanian yang digalakkan oleh Pak Prabowo. Yaitu, mengawinkan tanaman “alutsista-kayya-rayya” dengan “food estate” singkong.

Sebagai foot-note saja: “alutsista-kayya-rayya” adalah jenis tanaman mahal di Kemenhan yang bisa menghasilkan keuntungan besar bagi para pengelolanya. Pak Prabowo adalah pakar terbaik untuk jenis tanaman alutsista itu. Hebatnya, beliau juga ahli tanaman jagung polibag di “food estate” setelah singkong melawan perintah untuk tumbuh.

Jadi, benarlah bahwa Pak Prabowo adalah sosok yang “indispensible” (tak tergantikan) dalam kontestasi pilpres. Tidak ada orang Gerindra yang sehebat beliau.

Dia juga tak tergantikan untuk urusan lumbung pangan. Kepakaran Prabowo menyulap kegagalan singkong di “food estate” menjadi jagung polibag yang viral itu menunjukkan betapa di kalangan Gerindra beliau itu sangat tak ternilai (atau tak bernilai?). Maaf, saya lupa definisi “tak ternilai” dan “tak bernilai.”

Terakhir, Pak Prabowo juga sangat piawai mengelola kesehatan pundi. Sebagai catatan kaki: kesehatan pundi adalah ilmu tentang penggemukan kantong-kantong kosong. [mc]

15 Januari 2024.
*Asyari Usman, Jurnalis Senior Freedom News.

Terpopuler

To Top