Analisa

Debat Capres, Doa dan Statemen Pembuka

Peniadaan doa ini terasa memaksa saya berpikiran “jangan-jangan ada pihak yang khawatir dengan ucapan AMIN menggema di acara itu.”

Nusantarakini.com, Manhattan – 

Beberapa hari lalu saya hampir kecewa membaca kutipan berita di media massa jika KPU akan meniadakan debat capres-cawapres. Ternyata kutipan itu tidak sempurna dan kurang akurat. Belakangan saya pahami bahwa KPU hanya merubah formatnya dengan mengurangi porsi debat langsung (direct encounter) di antara calon, khususnya dalam debat antara cawapres.

Membaca itu saya agak lega. Walaupun sesungguhnya saya justru berharap agar KPU mencari format yang kira-kira akan lebih membuka secara transparan “siapa dan apa” para calon itu. Debat dapat membuka realita “siapa dan apa” para capres yang mencakup ide, pikiran, pemahaman, wawasan, hingga kepada karakter kepribadian. Termasuk di dalamnya kemampuan mengendalikan emosi seraya menata “self confidence” para calon.

Dengan debat juga para konstituen (pemilih) dapat mengukur kepintaran, kedewasaan (bukan umur), dan yang terpenting sisi “tabligh” atau kemampuan komunkasi dari masing-masing calon. Sekali lagi, skill komunikasi penting bagi pemimpin karena harus mampu menyampaikan ide-ide, baik kepada rakyat sendiri, terlebih lagi kepada dunia global.

Intinya saya ingin menekankan bahwa debat ini menjadi penting bagi proses demokrasi yang sehat ke depan. Kita tidak ingin seperti ungkapan lama “membeli ayam dalam karung.” Karenanya ke depan, bukan hanya debat capres-cawapres. Tapi juga perlu diadakan debat antar caleg di semua lapisan.

Pembacaan doa diganti dengan Hening Cipta

Selasa 12 Desember kemarin telah dilangsungkan acara debat pertama para capres. Walaupun saat itu di Kota New York adalah jam kerja, saya sengajakan menonton secara virtual dari awal hingga akhir. Tentu dengan semangat yang tidak kurang dari semangat saudara-saudara sebangsa di manapun berada.

Saya menilai secara umum semua pelaksanaan acara debat berjalan baik. Disiarkan secara live, baik melalui media sosial maupun mainstream. Bahkan di beberapa tempat diadakan acara nobar debat. Menunjukkan bahwa masyarakat sesungguhnya punya perhatian dan harapan besar dengan pemilu dan proses demokrasi di tanah air.

Hal kecil yang menjadi catatan saya di acara pembukaan debat adalah perubahan tradisi pembacaan doa yang biasanya dipimpin oleh seorang tokoh agama. Saya masih ingat karena saya hadir di debat terakhir tahun 2019 lalu yang membaca doa adalah Ust. Nazaruddin Umar. Kali ini hanya semacam hening cipta dan dipimpin langsung oleh Ketua KPU.

Saya sempat mempertanyakan hal ini. Sebab bagi saya doa itu tidak saja kebiasaan acara-acara resmi kenegaraan, bahkan di Istana dan gedung MPR/DPR. Tapi sekaligus menjadi aktualisasi dari karakter negara yang berketuhanan yang maha esa. Peniadaan doa ini terasa memaksa saya berpikiran “jangan-jangan ada pihak yang khawatir dengan ucapan AMIN menggema di acara itu.”

Perkiraan saya itu terbukti karena di akhir hening cipta yang diakui sebagai doa itu, Ketua KPU yang memimpin bukannya mengucapkan “amin.” Tapi dengan kata-kata persis yang biasa disebut di akhir hening cipta: “doa selesai.”

Apapun itu, di saat-saat seperti ini, di mana segala sesuatu bisa memiliki makna dan tujuan, harusnya pembacaan doa tetap diadakan. Doa dengan permohonan khusus agar debat itu lancar. Dan yang terpenting agar pemilu berjalan aman, damai, jujur dan menghasilkan pemimpin yang diharapkan oleh bangsa dan negara ke depan. Lalu diucapkan “amin” dengan jelas.

Statemen pembuka para capres

Pada tulisan ini saya hanya menyampaikan tentang isi dari penyampaian visi misi dari masing-masing capres dan pengamatan says tentang penyampaian itu. Pada tulisan selanjutnya akan saya sampaikan secara lebih rinci isi dan situasi debat yang terjadi, khususnya ketika para capres terlibat dalam direct encounter (debat langsung).

Yang pertama tampil adalah capres dengan no. urut 1, Dr. Anies Rasyid Baswedan. Anies hadir di acara debat itu didampingi pasangan cawapresnya, Dr. Muhaimin Iskandar. Tapi yang lebih penting juga didampingi oleh pasangan hidupnya, Ibu Ferry Farhati, MA.

Sebagainana biasanya, Anies tampil dengan kepribadian yang tenang, pemikiran yang tegas dan jelas, dan dengan komunikasi yang fasih (eloquent) dan sistematis. Berdasarkan tema utama debat pertama ini, Anies secara tajam menyoroti urgensi penegasan hukum pada segala lini kehidupan dan dalam semua tingkatan.

Saya menangkap statemen pembuka Anies ini, bukan sekedar berbicara kepada forum debat itu. Tapi lebih luas sedang menyampaikan realita yang ada di masyarakat. Di mana hukum sedang menjadi “victim” kebuasan hawa nafsu kekuasaan. Pernyataan pembuka Anies adalah kritikan tajam kepada keadaan saat ini, sekaligus penyampaian argumen dasar kenapa tema perubahan yang menjadi tema kampanyenya menjadi kebutuhan mendesak kali ini.

Anies menekankan bahwa Indonesia adalah negara hukum. Bukan negara kekuasaan. Dalam sebuah negara hukum, kekuasaan diatur dan tunduk pada hukum. Tapi pada negara kekuasaan (authoritarian) hukum diatur dan dikontrol oleh kekuasaan.

Anies mencontohkan bagaimana seorang milenial bisa dipilih menjadi cawapres dengan proses hukum yang terasa dipaksakan dan menggelikan. Sementara ribuan anak-anak muda yang jika bangkit mengoreksi kekuasaan dihadapi dengan kekerasan. Ini adalah salah satu bentuk viktimasi hukum yang sedang terjadi.

Contoh lain adalah seorang ibu rumah tangga yang melaporkan KDRT. Justru tidak ditangani secara proporsional dan akhirnya Ibu itu meninggal. Bukti bahwa hukum di negara Indonesia masih sering tidak memihak kepada kebenaran dan mereka yang termarjinalkan. Tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

Contoh yang paling menyedihkan yang disampaikan oleh Anies adalah tentang seorang pendukung Prabowo yang memprotes hasil pilpres 2019 lalu. Dia tewas karena pembelaannya kepada apa yang dianggap kebenaran dan keadilan ketika itu. Namun hingga kini kematian sang pendukung itu masih misterius dan tidak ditangani secara sungguh-sungguh. Dan ini justru ketika sang calon yang didukung ketika itu telah bergabung dengan kekuasaan.

Self sentrisme Prabowo

Urutan kedua yang menyampaikan paparan visi misi adalah capres no. urut 2, Prabowo Subiyanto. Di awal pemaparannya Prabowo nampak berusaha menenangkan diri, tidak menggebu-gebu seperti biasa. Tetapi ketika sudah menyebut dirinya sebagai ksatria dan siap mati untuk negara, suara itu menaik dan nampak sangat emosional.

Hal kedua yang disampaikan oleh Prabowo adalah pujian kepada (walaupun tidak menyebut nama) kepemimpinan Jokowi. Menurutnya walaupun di sana sini ada kekuarangan tapi Kepemimpinan (Jokowilah) Indonesia tetap aman, di saat di mana-mana terjadi peperangan.

Tanpa sengaja sesungguhnya pernyataan Prabowo di atas merupakan respon terhadap kritikan Anies ke pemerintahan Jokowi yang khususnya akhir-akhir ini banyak mengangkangi hukum di tanah air. Prabowo sekali lagi ingin menunjukkan loyalitas kepada “the man behind the scenes.” Tentu kita semua menyadari ini karena anaknya menjadi cawapres Prabowo.

Prabowo nampak tidak dapat mengendalikan emosi di saat pendukungnya mulai bertepuk tangan dan teriak-teriak. Menunjukkan kejiwaan yang cukup labil dan mudah terbawa arus keadaan sekitar. Tentu bagi banyak orang hal seperti ini bukan hal baru dari Prabowo. Sampai-sampai ada nitizen yang berkomentar “untung tidak ada podium di depannya.”

Ganjar dan slogan sat-set

Ganjar menyampaikan visa misi dengan gaya dan intonasi suara yang khas. Seolah ingin mendapatkan perhatian dengan gaya dan intonasi suaranya. Secara kefasihan (eloquence) Ganjar berhak mendapat jempol.

Hanya saja, entah kurang informasi atau mungkin itulah yang dipersiapkan dari tim, Ganjar justru tidak menyampaikan materi sesuai tema debat; hukum, HAM, Korupsi dan demokrasi dan pemerintahan. Ganjar justru banyak bercerita tentang kunjungan ke Papua, NTT, dan mengumbar janji untuk membangun puskesman di desa-desa.

Hal yang kemudian ketika pada sesi ‘direct encounter’ antara para capres, Anies menyebut jawaban Ganjar dengan “abu-abu” alias tidak jelas apalagi tegas. Ganjar nampak berusaha mencari Selamat agar tidak nampak benar-benar berseberangan dengan Jokowi. Tapi juga ingin menampilkan diri sebagai kandidat yang independen dan tidak bergantung kepada kekuasaan.

Apapun kekurangannya acara debat pertama itu telah mengekspos banyak hal tentang para calon Presiden RI mendatang. Debat mengekspos kualitas dan isi kepala, hingga ke karakter alami dan tingkat emosi dari masing-masing calon.

Tentunya kita tidak sabar menunggu debat selanjutnya antara calon Wakil Presiden. Pastinya debat cawapres tidak akan kalah serunya. Apalagi saya dengar cawapres milenial Gibran itu pintar, melebihi Mahfud MD yang Professor dan Menko Polhukam. Tapi debat itu akan mengekspos realita dari kelahiran prematur seorang cawapres Indonesia.

(Bersambung….).

Manhattan, 13 Desember 2023.

*Shamsi Ali, Diaspora Indonesia & Imam di Kota New York.

Terpopuler

To Top