Nasional

Jalan Tol Dibangun Untuk Siapa?

NUSANTARAKINI.COM _ Jalan tol adalah salah satu bisnis tertua di dunia. Gagasan memungut biaya untuk hak lintas telah berusia beberapa ribu tahun.

Pada April lalu, Presiden Joko Widodo mengaku telah berhasil membangun jalan tol sepanjang 1.900 kilometer. Menurut Jokowi, masalah pembangunan jalan tol selama ini adalah soal pembiayaan.

Menteri BUMN, Erick Thohir menyampaikan, pembangunan jalan tol melalui utang. Namun, pemerintah memiliki skema pendanaan baru agar tidak bergantung pada utang, yakni melalui perjanjian kerja sama investasi antara Indonesia Investment Autrhority (INA) dengan BUMN.

Walau demikian, data Badan Pusat Statistik tahun 2021 mengungkapkan, kondisi jalan di Indonesia, baik (42,6%), sedang (25,49%), rusak (16,01%), dan rusak berat (15,9%).

James Baxter, pendiri National Motorist Associon mengatakan, jalan tol kebijakan publik yang buruk. Menurutnya, jalan tol adalah pendekatan mundur yang tidak efisien untuk menyediakan jalan raya umum

Dia menambahkan, lebih buruk lagi, itu menyuburkan korupsi, patronase politik, dan mencegah perbaikan yang diperlukan pada sistem jalan raya lainnya.

Sementara, pendukung jalan tol berpendapat, mereka yang menggunakan sistem paling banyak akan membayar paling banyak. Namun, secara harfiah, jalan tol adalah monopoli yang disetujui dan dilindungi negara.

Ini dikarenakan, warga dan pengguna jalan tol tidak memiliki akses untuk memengaruhi manajemen jalan tol dan keputusan penetapan harga.

Dikutip dari Sydney Morning Herald, karena tekanan biaya hidup menekan rumah tangga, biaya tol telah muncul sebagai titik gesekan politik yang akut dan tumpukan uang pembayar pajak digunakan untuk mencoba dan memperbaiki masalah yang dibuat oleh pemerintah sendiri.

Menteri Jalan Metropolitan Australia, Natalie Ward mengklaim, sistem subsidi jaringan jalan tol bertujuan mengoptimalkan jaringan jalan tol Sydney dengan mendorong pengemudi untuk beralih dari jalan arteri yang padat ke jalan tol.

Namun, meski ada subsidi, ekonom transportasi Universitas Sydney, Profesor David Hensher justru memperingatkan, perubahan itu berisiko memperburuk kemacetan dengan mendorong penggunaan kendaraan pribadi daripada transportasi umum.

Efek Psikologis dari Jalan Tol

Di Indonesia sendiri, banyak orang yang menganggap kehadiran jalan tol itu membantu. Namun, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja dalam salah satu cuitannya menyampaikan, buah dari kebijakan transportasi seperti jalan tol dan wilayah yang buruk dengan tidak adanya opsi transportasi massal dapat menyebabkan kemacetan yang maskin panjang dan lama, yang aknirnya menimbulkan kondisi psikologis road rage (kemarahan di jalan).

“Ditambah arogansi. Klop,” tulisnya.

Apa itu road rage? Dalam kamus Merriam Webster, road rage didefinisikan sebagai kemarahan pengendara yang tidak terkendali, biasanya dipicu oleh tidakan pengendara lain dan diekspresikan dalam perilaku agresif atau kekerasan.

Istilah kemarahan di jalan diciptakan dan dipopulerkan oleh media pada akhir 1980-an. Kemarahan di jalan sejak itu didefinisikan sebagai perilaku bermusuhan yang ditujukan kepada pengguna lain.

Beberapa bentuk kemarahan di jalan raya yang paling umum adalah berteriak, membunyikan klakson, memblokir pengemudi berpindah jalur, sengaja menabrak, ngebut, dan lain-lain.

Mengutip Top Driver, berikut ini empat penyebab umum terjadinya kemarahan di jalan raya:

1. Lalu lintas padat. Tidak ada yang suka dengan keadaan stuck, namun pengemudi yang sangat tidak sabar menjadi lebih cepat frustasi dan sedikit ketidaknyamanan kecil membuat orang seperti ini lebih mudah terpancing.

2. Anonimitas. Bagi sebagaian orang, kecil kemungkinan bertemu orang yang sama di jalan.Pemikiran ini kemudian membuat pengemudi lebih berani, sehingga meyebabkan mereka tidak takut membunyikan klakson atau memotong jalan.

3. Mengirim SMS/ telepon saat mengemudi. Saat membaca pesan, mungkin pesan itu kabar buruk atau kurang menyenangkan, yang memancing kekesalah. Inilah yang membuat mereka marah dan berimbas dengan cara pengemudi berkendara.

4. Tidak sabaran. Pengemudi tidak sabaran cenderung mengemudi sesukanya karena mereka janji temu mereka lebih penting daripada janji temu orang lain di jalan.

Terpopuler

To Top