Nasional

Ratakan Media Keparat, Konglomerat Bangsat, Parpol Laknat

Nusantarakini.com, Jakarta –

Netralitas media-media besar di negeri ini, telah melewati fase sekarat. Mereka kini menjadi keparat. Celakanya, media-media itu adalah milik para konglomerat bangsat. Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa mereka didukung oleh parpo-parpol laknat. Inilah yang sedang menjadi bencana sosial-politik di Indonesia yang tak lagi bermartabat. Padahal, dulu terhormat.

Hari-hari ini, media keparat tidak lagi malu-malu berkhianat. Mereka bukannya sibuk memberitakan dua anak usia 10 dan 12 tahun yang tewas ketika berada di arena bagi-bagi sembako (BBS) di Monas (28/4/2018). Mereka malah gencar memberitakan dan membahas secara berlebihan insiden kecil yang dialami oleh ibu-anak ketika mereka berada di tengah para pemakai kaus #2019GantiPresiden.

Insiden kecil ini terjadi ketika berlangsung Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Jakarta (29/4/2018). Ibu dan anak tsb memakai kaus yang bertuliskan “Dia Sibuk Kerja” –yang menunjukkan dukungan mereka untuk Pak Jokowi.

Insiden yang tak signifikan inilah yang diulang-ulang oleh media keparat milik para konglomerat bangsat. Mereka nyaris tidak memunculkan laporan tentang dua anak yang tewas di tengah bagi sembako yang hanya bernilai 50 ribu rupiah. Dan di tengah tidak adanya peliputan, nasib kedua anak itu bertambah tragis. Kemarin (1/5/2018), polisi mengeluarkan pernyataan bahwa kedua anak itu bukan tewas karena mengantri sembako melainkan karena menderita peyakit mental. Luar biasa! Kesimpulannya sangat menusuk perasaan, terutama perasaan orang tua mereka.

Tetapi, masyarakat tampaknya tidak bisa menerima begitu saja pernyataan polisi. Karena itu, masyarakat perlu meminta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar turun tangan melakukan investasi lengkap terhadap insiden kematian kedua anak tersebut. Ini perlu dilakukan mengingat kedua anak itu, menurut ketua RW di lingkungan tempat mereka tinggal, pergi ke Monas dalam keadaan sehat dan membawa kupon sembako.

Sangat mencengangkan bahwa kematian tragis kedua anak ini tidak dihiraukan oleh media-media yang keparat. Mereka khusyuk membahas insiden ringan ibu-anak yang hanya dikerumuni oleh beberapa pemakai kaus #2019GantiPresiden. Kejadian yang tak penting ini kemudian digoreng habis oleh media keparat untuk memojokkan gerakan #2019GantiPresiden.

Semua sisi peristiwa kecil ini dibahas tuntas dan terus-menerus oleh gerombolan media besar yang dimiliki oleh pemodal besar. Pemodal-pemodal besar yang merampok kekayaan rakyat Indonesia ini. Media-media korup yang beraliran jurnalistik penjilat. Media yang merasa tidak ada masalah kalau Indonesia ini dijarah oleh kekuatan duit lokal maupun asing. Media-media besar yang telah mencapai level khianat.

Insiden yang tak sampai setaraf penjambretan itu, mendapat waktu tayang yang luar biasa panjang di stasiun-stasiun TV keparat. Pemberitaan dan pembahasannya sangat tidak proporsional. Sangat tendensius untuk menghancurkan gerakan #2019GantiPresiden.

Sebaliknya, kejadian dua anak yang tewas dalam desak-desakan bagi-bagi sembako (BBS) oleh Forum Untukmu Indonesia (FU), nyaris tidak diliputi oleh gerombolan media keparat. Khalayak baru tahu kejadian yang memilukan ini setelah Wagub DKI Sandiaga Uno menceritakan tentang BBS yang merenggut dua nyawa itu.

Rakyat perlu mengingat media-media keparat, milik para konglomerat bangsat. Mereka antara lain adalah MetroTipu dan koran Med** In, Berita S**u, TV dan koran KomandoPastur plus jaringan T-News, dlsb.

Kita semua harus menceritakan kepada anak-cucu tentang ancaman nyata para pemilik modal konglomerat bangsat. Media-media besar yang keparat itu adalah juga para pengkhianat. Merekalah yang membuat rakyat melarat dengan kehidupan berat.

Hanya TVOne, Republika, dan seglintir yang lainnya, yang masih memiliki pikiran yang waras.

Kalaulah dendam diperbolehkan, media-media keparat itu pantas diratakan dengan tanah ketika nanti rakyat memilih presiden baru pada pilpres 2019.

 

Asyari Usman, Wartawan Senior

Terpopuler

To Top