Tausiah

Inilah Kemunafikan Manusia Terkait Akhirat


1 May 2017, 7:39
Dilihat   2.6K

Nusantarakini.com, Jakarta –

Di lingkungan kita, ada banyak tipe manusia terkait sikapnya terhadap akhirat, dunia dan kepentingan dirinya. Di bawah ini antara lain:

A. Saya ingin setelah mati masuk surga. Maka dia sibuk beribadah dengan motif masuk surga. Haji berkali-kali. Perkara dunia sepeninggalnya mau sperti apa, bukan urusannya.

B. Saya ingin setelah mati, dunia sepeninggalku adil, tenang dan penuh keimanan. Maka saya berusaha mengubah keadaan dengan semampuku. Maka dia pun berjibaku melawan penindasan, kezaliman dan keserakahan. Bahkan kesenangan hidupnya di dunia terampas dan nyawanya sebagai taruhan.

C. Saya ingin sebelum mati, senang dan merasakan setiap kenikmatan di dunia. Namun setelah hal itu saya capai, izinkan aku Tuhan kembali ke sisi-Mu dengan keimanan dan amal saleh.

Nasib baik menimpanya, sebelum mati, dia sempat mencapai rencananya. Yang lain, sebaliknya. Karena kesenangan dan kenikmatan dunia belum juga dicapai memuaskannya, dia mati kecelakaan.

D. Saya tidak peduli akhirat bagaimana. Yang penting di dunia ini aku tidak menderita, miskin dan hina. Yang nyata hanya di dunia ini saja. Sedangkan akhirat hanya ilusinya ustadz-ustadz.

Maka dia berjibaku mencapai kaya dan berkuasa.

E. Di dunia aku ingin kaya. Sebab jika miskin aku terhina dan tidak dihitung oleh manusia-manusia di sekitarku.

Untuk itu aku berjuang menjadi kaya dan mulia di mata manusia. Tapi aku mau di akhirat kelak juga terhindar dari neraka.

Segala pemasukan uang yang kurang jelas dan haram, aku hindari. Masalahnya, yang mudah untuk mendapatkan uang banyak itu, justru dari saluran yang haram dan syubhat.

Akhirnya orang dengan jenis terakhir ini, mengambil cara dan sikap hidup campuran:

Makan haram juga, hajinya juga berkali-kali. Patokan dia, ibadah haji dan sunnah, dapat menyeimbangkan kejahatannya.

Pertanyaannya, jika kawanmu satu saat melukai hatimu berkali-kali, namun pada saat yang sama dia juga berkali-kali membuat hatimu senang dan akhirnya kau sadar, bahwa ternyata itu adalah modus hidupnya terhadapmu, apakah dirimu memaafkannya? Tidakkah kau sadari bahwa itu cermin hatinya bahwa dia tidak percaya dan menghargaimu?

Demikian juga orang yang melakukan seperti itu kepada Tuhan, sebenarnya dia kurang percaya kepada Tuhan dan meremehkan Tuhan dalam hidupnya.

MASING-MASING KITA MUNGKIN SALAH SATU DARI TIPE MANUSIA DI ATAS, BUKAN?

~Kyai Kampung dari Pinggiran Jakarta

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!