Pilkada DKI

Survei PolMark Research Center: Pilkada DKI Bisa Dua Putaran, Petahana Potensi Tumbang


5 October 2016, 18:08
Dilihat   4.3K

Nusantarakini.com, Jakarta-

Terkait Pilkada DKI 2017, PolMark Research Center (PRC), sebuah lembaga survei di bawah PolMark Indonesia pimpinan Eep Saefulloh Fatah telah mengadakan tiga (3) kali survei, yaitu pada bulan Februari, Juli dan Oktober 2016.

Dalam siaran pers yang diterima redaksi Nusantarakini.com, Eep menerangkan sebagian kecil hasil survei ketiga PRC PolMark Indonesia yang kegiatan wawancara/turun lapangannya diadakan pada 28 September – 4 Oktober 2016 lalu.

Menurut Eep, survei ini dilakukan terhadap 1.100 responden, yaitu warga Jakarta yang mempunyai hak pilih pada saat survei diadakan. Responden diambil dengan metode multistage random sampling (sampel acak bertingkat), diwawancarai secara tatap muka. Margin of error survei ini adalah +/- 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%. Responden terdistribusi secara proporsional di setiap Kota di DKI Jakarta.

“Hasil survei menunjukkan bahwa petahana, pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat memiliki elektabilitas 31,9% diikuti oleh Anies Rasyid Baswedan – Sandiaga Salahuddin Uno 23,2% dan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni dengan elektabilitas 16,7%. Masyarakat Jakarta yang belum menentukan pilihan sebesar 28,2%,” ujar Eep dalam pers rilisnya.

Eep juga mengatakan, trend elektabilitas Basuki mengalami penurunan sebesar 10,8% dalam rentang waktu Juli hingga Oktober ini (sekitar tiga bulan).

“Dalam survei PRC PolMark Indonesia bulan Juli 2016 Basuki memiliki elektabilitas sebesar 42,7% dan turun menjadi 31,9% pada Survei bulan Oktober 2016 ini,” katanya.

“Dari 31,9% responden yang memilih Basuki-Djarot dalam survei bulan Oktober ini, hanya 23,2% yang menyatakan pilihannya terhadap Basuki-Djarot sudah mantap, tidak akan berubah. Sementara itu, dalam survei bulan Juli 2016, dari 42,7% yang memilih Basuki-Djarot yang menyatakan mantap 28,7%. Dengan demikian, di kalangan pemilihnya yang mantap sekalipun, elektabilitas Basuki-Djarot mengalami penurunan sebesar 5,5%,” tambah Eep.

Menurut Eep, trend serupa terjadi pada tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kinerja Basuki sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Dalam survei Oktober 2016, tingkat kepuasan terhadap kinerja Gubernur adalah 61,8%. Angka ini merupakan penurunan sebesar 8% dari tingkat kepuasan sebesar 69,8% dalam survei Juli 2016 lalu,” jelasnya.

Eep menegaskan, survei PRC PolMark Indonesia Oktober 2016 juga menunjukkan bahwa Basuki adalah kandidat yang paling dikenal warga. Sebanyak 97,1% warga kenal Basuki. Tetapi, hanya 58,3% yang mengaku suka pada Basuki. Sementara itu, Anies dikenal oleh 82,8% masyarakat Jakarta dan disukai oleh 63,1% masyarakat. Lebih banyak warga Jakarta yang menyukai Anies dibandingkan Basuki. Sedangkan Agus dikenal oleh 81,5% dan disukai oleh 53,5% masyarakat Jakarta.

Sedangkan data hasil survei menyangkut popularitas dan kedisukaan para kandidat Wakil Gubernur, kata Eep, Djarot dikenal oleh 79,6% dan disukai oleh 46,9% warga. Sandiaga dikenal oleh 75,6% dan disukai oleh 50,8% masyarakat. Sementara Sylviana dikenal oleh 56,1% dan disukai oleh 32,7% warga Jakarta.

Secara umum masyarakat DKI Jakarta menilai Basuki-Djarot berhasil dalam hal penyediaan transportasi umum yang memadai, pembersihan sungai-sungai di Jakarta, perbaikan fasilitas angkutan dan jalan raya, dan perbaikan kinerja birokrasi. Sedangkan dalam hal penanggulangan banjir, penanggulangan kemacetan, penertiban “pemukiman liar”, dan penertiban pedagang kaki lima (PKL), Basuki-Djarot dinilai gagal.

Berbasis hasil tiga kali survei yang sudah dilakukan serta riset dan pemetaan politik Jakarta, ditambah dengan kecenderungan pemilih Jakarta sejak Pilkada 2012, Eep menduga bahwa Pilkada Jakarta berpotensi besar berlangsung dalam dua (2) putaran.

“Trend data yang tersedia menunjukkan bahwa pasangan Anies-Sandiaga berpotensi mendulang suara terbanyak dalam Putaran Pertama, diikuti oleh pasangan Basuki-Djarot. Tersedia potensi yang cukup besar, petahana dapat ditumbangkan dalam Pilkada Jakarta 2017 ini, mengulang fenomena serupa dalam Pilkada 2012 lalu. Wallahu a’lam bish shawab,” pungkas Eep. (*mc)

 

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!