Nasional

Politisi PDI-P: Ahok Bodoh, Tak Faham Bernegara. Simak Kasus Kontroversi Terbarunya Di Sini!

Nusantarakini.com, Jakarta-

Kegaduhan politik lewat ucapan kontroversial yang sering dilakukan petahana Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kerap mendapat reaksi dan kritik dari berbagai kalangan. Banyak kalangan yang menilai bahwa statemen maupun pernyataan-pernyataan Ahok di media, meski kasat mata sebenarnya menjadi blunder politik bagi dirinya; namun sepertinya itu by design agar setiap waktu menjadi santapan kuli warta.

Bahkan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri merasa heran, kenapa pemberitaan media kerap mengangkat Ahok. Mega juga sudah jenuh setiap hari ditanya wartawan tentang Ahok melulu.

Kontroversi terbaru dari Ahok adalah terkait usulannya supaya gubernur dipilih langsung oleh presiden. Keinginan Ahok tersebut langsung mendapat reaksi pedas dari politisi PDI-P, Arteria Dahlan, yang menyebutnya sebagai orang bodoh dan tak paham bernegara.

Arteria heran, Ahok seharusnya sudah faham kalau Jakarta merupakan daerah dan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu diberlakukan hal yang sama seperti dengan daerah-daerah yang lain. Dalam kasus ini, Arteria menyebut Ahok sebagai orang yang tidak paham bernegara dan bodoh, yang akan merusak konstruksi ketatanegaraan.

Arteria menjelaskan lebih lanjut, kecuali kalau ada kesepakatan kebangsaan yang menyatakan bahwa Jakarta bukan termasuk dalam pengertian daerah, sehingga bisa dibuat seperti kementerian atau badan khusus yang menegelola wilayah ibukota, sehingga tidak perlu pakai DPRD lagi dan pendapatannya langsung masuk kas negara.

“Nah, kalau itu sah-sah saja. Jangan maunya dipilih presiden tapi kelola APBD DKI Jakarta, itu namanya menipu dan membodohi rakyat karena APBD itu wujud kedaulatan rakyat, ” kata Arteria di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (31/08/2016).

Arteria juga meminta Ahok supaya tidak membuat kegaduhan lagi dan fokus bekerja sebagai gubernur Jakarta.

“Jadi jangan minta yang konyol, tidak masuk akal dan inkonstitusional. Kepala daerah itu dipilih rakyat melalui pemilihan kepala daerah yang Luber, Jurdil, kecuali daerah istimewa Yogyakarta. Jangan ingin enaknya saja,” pungkas Arteria seperti yang dilansir Rimanews.com. (*mc)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top