Fitnah Kekuasaan

Nusantarakini.com, Jamaica Hills – 

Ketika para pembesar Mekah hampir putus asa menghadapi gerakan dakwah Rasulullah SAW di Mekah, mereka berada dalam kepanikan yang sangat. Berbagai cara telah dilakukan. Dengan hinaan, ancaman dan intimidasi kepada Rasulullah hingga kekerasan dan pemaksaan kepada para pengikut beliau untuk kembali murtad. Ternyata kekokohan iman mereka tak tergoyahkan.

Para pembesar itupun mencoba lewat jalur yang lain. Yaitu dengan pendekatan godaan melalui paman beliau. Mereka mendatangi paman Rasulullah dan meminta agar pesan mereka disampaikan kepada Muhammad SAW. Pesan itu dikenal dengan godaan tiga T (tahta, wanita, harta) asal menghentikan dakwahnya. Ketiga godaan ini memang menjadi simbol nafsu duniawi yang dahsyat yang dapat menggelincirkan manusia dari kemuliaannya.

Dari tiga titik nafsu serakah itu tahta (kekuasaan) menjadi salah satu pintu masuknya ragam kerusakan dan pengrusakan dalam kehidupan manusia. Benar seperti yang sering didengarkan: “power tends to corrupt. And absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan itu cenderung merusak. Dan kekuasaan absolut itu pasti merusak).

Jika kita kembali kepada beberapa contoh kekuasaan yang rusak dan merusak dalam sejarah manusia mungkin salah satunya yang paling populer adalah kekuasaan Fir’aun. Pada masanya terjadi absolute power (kekuasaan absolut) yang disebabkan oleh salah satunya “penjilat-penjilat” yang punya kepentingan.

Kita mengenal Fir’aun dikelilingi oleh dua orang yang menjadi tangan kanannya. Yang pertama adalah Haman. Dan yang kedua adalah Qarun. Haman adalah tangan kanan yang menjadi tangan kanan Fir’aun dalam kebijakan politik. Dan Qarun adalah tangan kanan yang kaya raya yang banyak menopang Fir’aun dalam kepentingan logistiknya.

Jika kita bawa kisah Fir’aun ini ke dalam konteks kekuasaan masa kini maka sesungguhnya korelasi antara kisah Fir’aun dan kekuasaan yang mendominasi dunia masa kini sangat erat. Mungkin tidak salah ketika orang mengatakan “history often repeat itself” (sejarah seringkali terulang dengan sendirinya”. Mungkn yang berbeda hanya “cover” atau polesan semata.

Kita hidup dalam dunia yang dikenal demokratis. Kata demokrasi justeru seringkali menjadi “cover” atau polesan dari tendensi membangun kekuasaan yang bersifat absolut dan merusak. Apalagi jika tendensi itu dipolesi oleh kepura-puraan dalam etika dan hukum. Terjadilah kekuasaan absolut yang nampak beretika dan konstitusional.

Sebenarnya secara alami kecenderungan untuk berkuasa penuh (absolut) itu ada pada setiap diri manusia. Tak terkecuali para nabi sekiranya saja Allah tidak memberikan penjagaan khusus (ma’shum). Karena memang tabiat dasar manusia adalah kerakusan. Hanya saja kerakusan untuk berkuasa secara mutlak ini seringkali kemudian terpolesi oleh ragam justifikasi.

Terjadilah misalnya justifikasi darurat. Covid pernah hampir jadi pembenaran terjadinya penambahan periode. Pernah juga karena ancaman krisis pangan dunia yang dipicu oleh perang Ukraina-Rusia. Bahkan seorang presiden harus jauh-jauh naik kereta untuk memperlihatkan kepada rakyatnya jika dia adalah pemimpin yang mampu menyelesaikan krisis itu. Walau itu hanya drama sesaat yang menggelikan.

Ketika usaha menambah periode kekuasaan gagal, kecenderungan absolute power berlanjut dengan upaya membangun politik turunan (dinasti). Tidak tanggung-tanggung institusi tinggi negara dikangkangi demi hawa nafsu keserakahan ini. Pengebirian hukum ini juga mendapat justifikasi paksaan dengan dalih “apa salahnya dinasti kalau untuk kepentingan negara dan bangsa.” Padahal ucapan ini juga yang dipakai oleh raja-raja Timur Tengah. Mendingan mereka berhasil membawa kemakmuran. Tapi di negeri lain? Dinasti yang akan melanggengkan penderitaan rakyat.

Dorongan untuk terus berkuasa ini sesungguhnya selain karena memang nafsu serakah, juga disebabkan oleh tendensi “Hamanistik dan Qarunistik”yang ada di sekitar kekuasaan itu. Para “hamanis” yang berada di sekeliling penguasa senangnya menjilat dan ABS (Asal Bapak Senang). Dan para “qarunis“ dengan dananya yang besar tak terkira mengontrol warna kebijakan yang diambil dalam setiap detak jantung pemerintahan. Rakyat tidak lagi menjadi pertimbangan. Mereka hanya menjadi objek “atas nama” tapi hasilnya untuk para Haman dan Qarun itu.

Demi kekuasaan ini pula para ambisius dan opportunis tanpa beban dan rasa bersalah mengkhianati demokrasi. Mereka yang sesungguhnya punya kesempatan mengoreksi kekuasaan justeru bergabung dengan kekuasaan. Lagi-lagi atas nama rakyat dan bangsa.

Dengan bergabungnya kekuatan pengoreksi yang dikenal dalam dunia politik dengan oposisi, semua bertekuk lutut menggelantung di bawah ketiak kekuasaan. Semua dikuasai dan dipegang maka segalanya menjadi serba bisa. Termasuk meloloskan perundang-undangan untuk semakin memperkokoh kekuasaan mutlak yang rusak dan merusak (faasidun wa mufsidun).

Sedemikian kuatnya kekuasaan yang ada para ahli dan cendekia yang menyalahkan keputusan perundangan itupun tidak saja menjadi diam seribu bahasa. Bahkan lebih tragis bergabung dengan pihak yang meloloskan aturan yang dianggap tidak saj itu. Logika sehat tidak lagi mampu menalar apa sesungguhnya yang terjadi. Mungkin sedemikian kejamnya ketika Fir’aun menyembelih semua bayi laki Bani Israil.

Semua keadaan ini perlu dilawan dan dirubah. Karenanya dalam agama di saat-saat terjadi kekuasaan seperti ini, di mana kaum “faasid dan mufsid” berkuasa Allah akan hadirkan lawannya yang “salih dan muslih” (baik dan membawa perbaikan). Dengan berakhirnya kenabian dengan khatamun nabiyyin (Muhammad) tentu bukan lagi nabi yang diutus. Tapi calon pemimpin yang memiliki integritàs dan semangat perbaikan itu.

Jalan menuju kebaikan dan perbaikan (saalihun wa muslihun) itu disebut “taghyiir” atau perubahan. Oleh Karenanya untuk menangkal keberlanjutan kekuasaan Fir’aunis yang dikelilingi oleh kaum hamanis dan qarunis, perubahan harus hadir dan menang.

Saya tentu hanya bisa mendoakan semoga perubahan itu segera hadir. AMIN! [mc]

Jamaica Hills, 4 Oktober 2023.

*Catatan Imam Shamsi Ali alias Utteng Al-Kajjangi dari Ujung Dunia.