Analisa

Kebangkitan dengan Batas yang Belum Nampak


28 March 2021, 11:13
Dilihat   2.7K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Mengutip perkataan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad:
“Kami sudah berdagang dengan Tiongkok selama 2000 tahun, pada tahun-tahun itu, mereka berkali-kali menjadi kekuatan terbesar di dunia. Tetapi tidak pernah sekalipun mereka mengirim pasukan untuk merebut tanah kami.” 

Laksamana Zheng He datang ke Malaka sebanyak lima (5) kali, saat Pemerintah Dinasti Ming menjadi kekuatan terbesar di dunia. Dengan menggunakan armada raksasa dan kapal unggulan, yang beberapa kali lebih besar dari armada Christoper Columbus, Santa Maria.

Mereka sebenarnya dengan sangat mudah bisa merebut Malaka, tapi mereka tidak melakukannya. Setelah itu pada tahun 1511 Portugis datang, tahun 1642 Belanda datang dan abad ke-18 Inggris datang. Tanah kami direbut dan dijarah serta dijajah satu per satu.

Ketika Tiongkok menginginkan rempah-rempah dari India, mereka berdagang dengan India. Ketika mereka menginginkan permata mereka berdagang dengan Persia. Mereka tidak pernah merebut tanah orang atau menjajah bangsa lain.

Satu-satunya waktu Tiongkok berkembang melampaui perbatasan mereka adalah saat dinasti Yuan berkuasa. Ketika Jenghis Khan dan keturunannya, yaitu Ogeidei Khan, Guyuk Khan, Kublai Khan setuju dengan Tiongkok, Asia Tengah dan Eropa Timur. Akan tetapi, Dinasti Yuan, meskipun berbasis di Tiongkok adalah bagian dari kekaisaran Mongolia.

Setelah mengalami abad penghinaan pada akhir abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19, kini Tiongkok sudah bangkit untuk meraih kembali statusnya yang pernah hilang, dengan tanpa meninggalkan karakteristik ke-China-annya.

Tiongkok membutuhkan minyak. Dia berdagang dengan negara-negara penghasil minyak seperti Iran, Rusia, dan Venezuela. Ketika Tiongkok menginginkan nikel, mereka berdagang dengan penghasil nikel terbesar di dunia, Indonesia. Bahkan dengan melakukan investasi besar-besaran untuk membangun smelter dan alih teknologi.

Ketika Tiongkok menginginkan big market yang lucrative, maka Tiongkok melanjutkan jalur sutera dari era Dinasti Ming menjadi BRI, belt road initiative, membangun inter connectivity sehingga tercipta sistem transportasi yang efektif dan efisien guna menggerakkan ekonomi, sehingga terbentuk market yang besar dan lucrative.

Ini adalah ciri khas, karakteristik dari bangsa Tiongkok yang memiliki kebudayaan tertua di dunia. Kebangkitan tanpa kolonialisme dan imperialisme dan akan menjadikan Tiongkok sebagai pusat peradaban dan ekonomi dunia. Serta Tiongkok akan terus berkembang dengan batas yang belum nampak. Seperti dikatakan Mr Kevin Rudd, “Clearly, China is unstopable now, China rose and new world order” La Trobe.

Jakarta 27 maret 2021.

*Chandra Suwono, Pemerhati Politik Internasional dan Geostrategi.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!