Budaya

Afi yang Meredam Api

Nusantarakini.com, Jakarta – 

API

Berkatalah Buyung pada Pajatu yang gemar membakar sampah di depan rumahnya.

“Udara sudah semakin kotor, tapi kau masih saja suka bakar sampah, Pajatu!”

Meski serba sama-sama dari kecil, tak jaminan keduanya sepaham. Pajatu tak pernah ambil pusing dengan sejawatnya yang bekerja di lembaga nirlaba bidang lingkungan itu. Ia sering berseberangan pendapat dengan Buyung dalam banyak hal, bahkan di Facebook nyaris menghapus pertemanan. Bakar jembatan.

“Daripada ‘bakar jembatan’, lebih baik bakar sampah, kan?”

Pajatu masih tak bisa diam.

“Omong-omong, kau sudah baca tentang Si Afi yang dituduh plagiat?”

Pajatu ligat mengalihkan topik.

“Bagaimana menurutmu?” katanya sambil menyiram unggunan sampahnya yang membuat api semakin besar melahap sampah plastik, sampah daun, sampah kertas dan seribu satu aneka sampah.

“Kupikir dia memang anak pintar, baca Freud waktu SMP! Tapi kalau kupikir lagi, ini kok media berlebihan sekali mengeksposenya. Apalagi sekarang kenyataannya buah pemikirannya itu mengutip tulisan orang lain.”

Pajatu seakan tidak memberi kesempatan Buyung menjawab.

“Ya, kupikir dia memang anak pintar, ” giliran Buyung menjawab, “Waktu seusia dia, aku masih berpikir tentang diriku sendiri, atau paling banter mikir bagaimana bisa ajak jalan cewek bahenol di kelas. Tapi, ini Si Afi sudah berpikir tentang negara ini. Tentang orang banyak. Jauh melampaui usianya.”

Pajatu tampak tidak senang mendengar respons Buyung.

“Jadi kau tetap menganggap plagiator ini seperti ‘hero’ hah?”

“Kenapa tidak? Negara ini panas. Seperti ulahmu ini yang suka bakar sampah. Seribu sampah kau bakar. Kau tambah lagi minyaknya supaya besar apinya. Apa kau pikir ini tidak semakin membuat polusi? Ada api seperti ini, Afi justru datang sebagai juru redamnya. Kita yang dewasa ini malah terus menyulut api dan diam saja saat api di hadapan kita terus membesar. Itu yang kupikirkan tentang Afi.”

Mendengar balasan Buyung yang berseberangan dengannya, Pajatu tak sadar sedang memegang botol minyak dalam keadaan terbalik, dan luput memperhatikan minyak yang terus menetas, menetes, dan …. Bhuaaarr!!!

Api menyambar tangan Pajatu, dan Buyung reflek mencari apapun di sekelilingnya yang bisa memadamkan api. Pajatu mengibas-ngibas api di tangannya. [mc]

*Dodi Prananda, lulusan Universitas Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi. Selain menulis cerita pendek, juga menulis puisi dan artikel di berbagai media massa. Saat ini bekerja di stasiun televisi swasta di Jakarta.

Terpopuler

To Top