Nasional

JOKOWI Dituduh Pengikut Hitler Yang Sempurna. Kenapa?

Nusantarakini.com, Jakarta – Seseorang menulis di suatu Grup WA bahwa Jokowi tengah menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya dengan cara mempraktikkan ajaran kontra propoganda. Di dalam pengantar untuk buku Mein Kampt karya Hitler, Konrad Heiden menulis:

“Bahwa tidak ada metode persembunyian yang lebih efektif daripada publisitas pencitraan yang luas” – (Konrad Heiden dalam Pengantar buku “MEIN KAMPT” karya Adolf Hitler).

Hitler merupakan pemimpin yang sukses memanfaatkan kekuatan propoganda. Dia sebenarnya pria yang lemah secara fisik. Pada waktu remaja, Hitler sakit-sakitan sehingga hampir tidak lolos seleksi masuk tentara. Tapi karena lagi perang, Hitler masuk menjadi tenaga sukarela.

Dengan kondisi fisik seperti itu, melalui propoganda, dia sukses menggambarkan dirinya sebagai pria yang sehat dan kuat. Padahal sejatinya tidak.

Bukan maksud menuding, saat publik semakin penasaran dengan latar belakang Jokowi yang didesas-desuskan macam-macam, khususnya sejak isu PKI membahana, tiba-tiba saja kontra isu muncul menyelimuti Jokowi. Gambar Jokowi dengan identitas anak pecinta alam hingga belanja di Mangga Dua secara incognito.

Seseorang tersebut mengomentari momentum kemunculan gambar-gambar Jokowi yang dimunculkan secara bersamaan dengan tren penasaran publik terhadap latar Jokowi: “Dalam beberapa minggu terakhir ini, jagad media sosial kembali diramaikan oleh sejumlah photo Presiden Jokowi yang terasa ‘menjambak-jambak perasaan’ kita. Photo itu saya posting dalam status ini, mulai dari photo:
1) Jokowi muda kenakan sendal jepit duduk jongkok dengan sesama teman Mapala.
2) Jokowi sedang belanja elektronik di pertokoan Mangga Dua ‘tanpa pengawalan’.
3) Jokowi nyetir dan bayar tol sendiri.
4) Jokowi bercanda soal rambut Dengan putranya.

Mengapa semua photo ini keluar di saat bersamaan?”

Dia melanjutkan, “Ungkapan Konrad Heiden dalam Pengantar buku “MEIN KAMPT” karya Adolf Hitler yang dikutip di atas, merupakan jawabannya. Jokowi lagi bersembunyi. Bersembunyi dari apa? Bersembunyi dari segala macam bentuk ketidakmampuan dirinya, bersembunyi dari segala macam janji yang telah dia ucapkan.”

“Pengulangan-pengulangan pencitraan seperti ini bukan saja merupakan cara Jokowi menyembunyikan realitas ketidakmampuannya, tapi ketidakmampuan itu justru telah membentuk menjadi realitas itu sendiri.

Bagi Jean Baudrillard, terbentuknya hyper reality itu bukan tanpa strategi. Strategi fatal itu setidaknya menempuh rute:

1) Pencitraan adalah cermin realitas.
2) Pencitraan menyembunyikan realitas.
3) Pencitraan menghapus realitas.
4) Pencitraan telah menjadi realitas.

Jika telah masuk pada rute akhir pencitraan telah menjadi realitas, maka bagi Baudrillard dengan agak sinis berujar:
‘Tidak ada yang bisa keluar dari perangkap palsu pencitraan kecuali kematian…'” (sed)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top