Tausiah

Subversi terhadap Al-Qur’an, Mungkinkah dan Bagaimana itu Terjadi?


12 January 2018, 7:51
Dilihat   2.0K

Nusantarakini.com, Jakarta –

Bermula saya berbincang dengan istri saya tentang tafsir bismillahirrahmanirrahim yang memang amat khusus dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Pasalnya adalah bahwa bismillah menjadi portal bagi setiap surah. Apa sebetulnya sehingga demikian penting dan ajaibnya bismillahirrahmanirrahim itu.

Bismillahirrahmanirrahim, merupakan surat/mail singkat yang menggemparkan dan menggetarkan yang dikirimkan oleh Sulaiman kepada Ratu Saba. Surat itu dikirimkan dengan kurir burung hudhud. “Pergilah dengan suratku ini dan sampaikanlah ke mereka, dan berpalinglah lalu lihat apa reaksi mereka!”, instruksi Sulaiman. Isi surat itu singkat, padat dan ajaib, “Bismillahirrahmanirrahim. Janganlah kalian angkuh terhadapku dan datanglah kepadaku dengan tunduk/patuh!”

Singkat cerita, Ratu Saba dan pengikutnya tunduk kepada Sulaiman. Kisah ini diceritakan dalam Surah an-Naml (Semut) ayat 28-31.

Lalu bila Ar-Rahman dan Ar-Rahim itu demikian dahsyatnya, maka dimana tafsir Ar-Rahman dan Ar-Rahim itu? Ar-Rahman itu tasirnya pada satu surah penuh, yaitu surah Ar-Rahman. Keseluruhan ayat ar-Rahman itu adalah uraian tentang kasihnya Allah pada manusia. Khususnya terletak pada ayat 10-12. Di situ Allah gunakan istilah al-Anam. Itu berarti Allah tidak pilih kasih pada manusia. Baik mukmin maupun kafir, mereka semua berhak dikaruniai nikmat bumi dengan segala kekayaannya. Dari buah-buahannya hingga atsiri aromatiknya. Begitulah gambaran kasih/rahmannya Allah.

Lalu dimana sayangnya Allah? Sayangnya Allah memanglah hanya dikaruniakan bagi yang spesial, yaitu orang percaya kepada-Nya. Logis saja, mana mungkin rasa sayang diberikan kepada yang tidak memoercayai.

Jika rahmannya Allah diuraikan dalam satu surah Ar-Rahman, maka rahimnya Allah diuraikan dalam dua surah, yaitu surah Al-Mukminun dan surah Al-Mukmin. Di sinilah masalah subversifnya sebagaimana dalam judul artikel di atas.

Al-Mukminun, kita bisa dapatkan pada nama surah ke-23. Sedangkan surah Al-Mukmin pada Al-Qur’an sama sekali tidak saya temukan pada cetakan-cetakan terakhir. Rasanya sejak 2010 ke atas, nama surah Al-Mukmin menghilang, baik pada cetakan Suriah, Indonesia, Gema Insani Press, Syamil, dst. Kemana hilangnya dan apa dampak dan artinya hal ini?

Rupanya berganti dengan nama Ghafir. Kendati kata ghafir terdapat pada surah, yaitu ayat ke-3, tampaknya akan berimplikasi lain jika surah ini tetap menggunakan nama Al-Mukmin. Kenapa? Karena nama adalah penanda, fokus dan pesan yang penting.

Saat Al-Mukmin menjadi nama surah ke-40 ini, maka fokusnya adalah kisah seorang beriman dari keluarga Fir’aun. Tentu orang ini sangat istimewa sampai dijadikan sebagai fokus dan nama surah tersebut. Sayang sekali, jika orang tidak cermat sekarang, nama Al-Mukmin ini sudah bersalin nama dengan Ghafir. Ghafir adalah maknanya “Yang mengampuni…”. Diambil dari ayat ke-3.

Sampai akhirnya saya curiga, jangan-jangan ini kesengajaan, untuk menghapus suatu jejak dan pusat perhatian pada suatu pesan surah.

Hal semacam ini mengingatkan saya pada nama surah ke-17. Saya belum melakukan pelacakan, sejak kapan surah ke-17 ini berganti nama dengan Al-Isra. Padahal surah ini dulu namanya surah Bani Israil.

Jika namanya surah al-Isra, maka tentu saja fokus pembaca akan tertuju tentang kisah perjalanan malamnya Nabi Muhammad yang legendaris itu. Sebaliknya jika nama surah adalah Bani Israil, maka perhatian pembaca akan tertuju pada gelagat orang Israel. Ternyata di dalam surah Bani Israil atau al-Isra ini pada ayat 4-6, terdapat keterangan yang penting tentang Bani Israel, yaitu ketetapan Tuhan akan perbuatan mereka yang merusak dua kali. Kapan hal itu terjadi, secara ajaib ayat ini memberi petunjuk kepada pembaca.

Orang Israel tentu dirugikan dengan hal yang menjadi rahasia elit-elit mereka ini. Apakah karena hal ini, sehingga nama surah ini bertukar menjadi al-Isra dalam rangka menghapus imajjnasi dan ingatan pembaca Al-Qur’an tentang gelagat makar orang-orang Israel. Wallahu a’lam.

Yang jelas, serupa dengan surah Bani Israel atau al-Isra di atas, surah al-Mukmin yang bersalin nama dengan Ghafir, patut dicurigai. Curiga disini dalam pengertian positif, yaitu waspada dan cermat.

Sebab, jika tetap menggunakan nama al-Mukmin, maka kunci perhatian pembaca menujj pada seorang mukmin dari keluarga fir’aun itu. Siapa dia? Bagaimana dia dapat eksis dalam keluarga penentang Tuhan? Sungguh figur yang luar biasa.

Bahkan pada ayat 28 surah al-Mukmin yang sudah berganti nama ghafir, ia dengan lantang berkata, “Akankah kamu membunuh orang karena dia berkata ‘Tuhanku adalah Allah?’, padahal dia telah datang membawa bukti-bukti….dst.”

Saya lebih memilih nama dua surah tersebut kembali lagi, yaitu surah Bani Israel dan surah Al-Mukmin. Karena konsrkwensinya berbeda bila kita meninjau nama surah dari sudut petunjuk iluminatif/yang mencerahkan.

Kepada Lajnah Tashih Al-Qur’an di bawah Kemenag, harus eling dan waspada terkait subversi senyap terhadap Al-Qur’an. (€₩@KO/SED)

 

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu