Politik

Mana Lebih Tragis: Nasib Angelina Sondakh atau Orang-orang PKI?


20 September 2017, 14:57
Dilihat   2.8K

Nusantarakini.com, Jakarta –

Hari-hari hidup dalam hukuman penjara tentulah tak terperi. Apatah lagi bagi seorang perempuan seperti Angelina Sondakh.

Hidupnya yang penuh selebrasi selama ini dan anak seorang terpandang tokoh Minahasa, kini harus menjalani hidup tanpa kebebasan yang cukup. Padahal, kebebasan itu merupakan bagian dari hidup seorang Angelina selama ini.

Angelina Sondakh lahir di Australia, 28 Desember 1977, hampir 40 tahun yang lalu. Melejit sebagai puteri Indonesia 2011, tapi kemudian terseret kepada dubia politik. dalah artis dan politisi Indonesia. Pada 2004, terpilih sebagai anggota DPR dari Partai Demokrat, besutan tokoh flamboyan, Jenderal SBY. Sejak itu, karirnya lebih banyak dihabiskan di DPR yang berlangsung dua periode 2004–2009 dan 2009–2014.

Namun pada 2012, ia terseret menjadi salah seorang tersangka kasus Hambalang yang heboh itu. Kasus ini memangsa figur-figur Demokrat seperti Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, dan tentu saja Angelina Sondakh sendiri.

Angie lahir di New South Wales, Australia dan merupakan putri dari Lucky Sondakh. Ia meniti pendidikan dasar Laboratorium IKIP di Manado, Sulawesi Utara dan Sekolah Menengah Pertama Katolik Pax Christi Manado serta Sekolah Menengah Umum Negeri 2 Manado. Ia juga belajar di Year 9 – 10 Presbysterian Ladies College, Sydney, Australia dan Year 11 Armidale Public High School, Armidale, Australia serta Unika Atmajaya Jakarta, Fakultas Ekonomi Pemasaran.

Pada 1993, dia meraih penghargaan “Outstanding effort in maths, textile & design and scripture” Presbyterian Ladies Collage, Sydney dan “Certificate of merit in chemistry” Armidale public High School Armidale, NSW (1994) serta Juara III Puteri Ayu Manado (1995). Sejumlah penghargaan diraih pada tahun 1995, yaitu: Juara I dan Juara Favorit Puteri Pixy Manado; Juara I dan Favorit Cewek Keren Manado; Juara I dan Puteri Intelegensia, Puteri Kencana Manado; Juara I Puteri Pantai Manado; Juara I dan Puteri Intelegensia sebagai Puteri Simpatik Manado; Juara I Wulan Minahasa; dan Juara I, Favorit & Busana Terbaik, Puteri Cempaka Manado. Pada 1996, dia meraih Juara I Noni Sulut, Juara I lomba Pidato Bahasa Inggris se-Sulut, Juara I Lomba Debat Ilmiah se-Sulut, dan Juara I Penataran P-4 Unika Atmajaya serta Juara I Lomba Pemandu Wisata Sulawesi Utara (1997).

Pada tahun 1999, dia meraih gelar Miss Novotel Manado dan Miss Novotel Indonesia (2000) serta Puteri Indonesia tingkat Sulawesi Utara (2001). Sejumlah penghargaan tersebut kemudian menjadi bekal untuk berkompetisi pada ajang kontes kecantikan bertajuk Puteri Indonesia dam akhirnya terpilih menjadi pemenang Puteri Indonesia 2001. Pada 17 Agustus 2002, dia meraih Penghargaan Satya Karya Kemerdekaan dari Menteri Sosial Republik Indonesia.

Sayang sekali, sekiranya Angie tidak usah tergoda dengan bujuk rayu kaum politisi yang memanfaatkan dirinya sebagai vote getter Partai Demokrat, mungkin hidupnya tidak akan tercengkeram oleh jari-jari penjara. Sekarang, para pemimpin partai berlambang mercy itu, seolah membiarkan Angelina menanggung nasibnya.

Tapi begitulah suratan nasib. Lewat dunia politiklah Angelina mengenal Islam dan kemudian memeluknya.

Jika orang-orang PKI hari ini bebas menyuarakan nasibnya hingga menuai simpati publik yang makin meluas, tidak begitu halnya pada Angie. Angie hidup dalam sepi dan tanpa sorotan kamera lagi. Seolah dia dilupakan dan ditinggalkan.

Baik orang-orang PKI maupun Angie, sama-sama merupakan korban kejamnya politik. Jika tak mau seperti Angie, janganlah main-main dengan politik.

Bagaimanapun Angie percaya, justru hatinya makin melekat dengan Tuhannya saat dirinya berada di penjara saat ini. (yud)

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!