Warkop-98

Mr. Kan: Politisi Busuk Nyamar Berbuat Baik Agar Tujuannya Tercapai

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Sesungguhnya semua manusia memiliki hati nurani yang sama, jika sudah berhasil berbuat sebuah kebaikan maka hati nuraninya akan merasa sangat bahagia.

Saya pernah membaca sebuah artikel, di Jepang ada sebuah mesin yang diciptakan untuk mengukur tingkat kebahagiaan seseorang, terbukti tingkat kebahagiaan tertinggi seseorang setelah selesai berbuat sebuah kebaikan.

Sebaliknya jika manusia berbuat kejahatan maka nuraninya akan berontak atau melawan, sekaligus yang sudah kebiasaan demi kepentingan maupun yang emosi atau dendam karena sakit hati.

Hanya bedanya, tipe mafia jahat itu sudah terlatih atau terbiasa melawan hati nuraninya.Tipe ini melakukan kejahatan pun dianggap benar, sudah berasa biasa-biasa saja. Dan tampaknya tipe ini seakan tidak sadar atau tidak waras, sehingga merasa kejahatan harus terus menerus dilakukan agar kepentingan yang diinginkan selalu tercapai.

Ada sebagian tipe orang baik setelah berbuat kebaikan. mereka merasa ingin diketahui oleh orang lain atau orang banyak karena didalam bahagianya itu ada sebuah kebanggaan besar yang ingin diungkapkan, agar orang lain bisa memujinya atau mencontohi dirinya.

Sering kali tipe ini disebut atau dianggap “pahlawan kesiangan” atau “power crazy.” Menurut saya kedua kalimat ini sangat tidak bijaksana, karena unsurnya mengandung energi negatif. Seharusnya setiap orang melakukan kebaikan sepantasnya kita memberikan dukungan mental atau energi yang positif, bukan malah kita melemahkannya dengan menyebarkan energi negatif.

Juga ada sebagian tipe orang baik terkadang sesekali berbuat kejahatan karena terpaksa saja, hanya demi kepentingan perbuatan kebaikan yang sudah direncanakan, tipe ini berbuat kejahatan tidak terbiasa.

Menurut pengamatan saya yang paling buruk dan sangat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara itu adalah tipe mafia jahat atau semacam aktor politik busuk berbuat kebaikan.

Mulutnya sangat manis penuh dengan kata-kata dan gambar selfie yang menarik simpatik, mengandung berbagai pengharapan, menyenangkan, menyejukkan dan juga berkesan. Akan tetapi sesungguhnya di dalam dan di belakangnya tipe ini penuh kebohongan.

Kebaikan yang diperbuat tipe ini hanya lah berpura-pura saja, karena demi pencitraan dirinya dan kelompoknya. Tipe ini biasanya sangat pintar berbohong atau tipe licik picik. Namun tujuannya adalah hanya agar bisa berbuat kejahatan atau kebusukan yang sudah direncanakan oleh dirinya dan kelompoknya.

Maaf, Dalam dunia politik jika kita kurang mampu memahami, kurang teliti, kurang mengikutinya secara berkepanjangan dan malas melakukan check and balance dan atau tanpa disadari membela sampai mati-matian hanya karena punya kepribadian yang rasis–maaf! membela karena sesama sanak saudara, agama, suku, dan ras!–tipe ini yang sangat buruk.

Maka sering kali hanya beberapa kali perbuatan kebaikan saja dan kata-kata manis dari aktor politik busuk sudah termakan oleh pihak-pihak yang kurang memahaminya.

Kejadian hal semacam ini sering kali saya sebut sebagai pihak-pihak korban pembodohan yang dilakukan oleh aktor politik busuk.

Kejadian ini selalu ada terjadi dari jaman ke jaman, karena para aktor politik busuk itu memiliki dan menguasai alat bantu yang tepat dan canggih untuk membantunya menyebarkan kebohongan yang mereka rancang.

Segala sandiwara kebohongan, pembodohan bisa mereka lakukan melalui alat bantu tersebut. Sebutannya menggiring opini. Misalnya seperti dimiringkan, dibelokkan, ditambahi bumbu pemanis dan isu sara atau hoax.

Kesimpulannya tidak semua perbuatan kebaikan dan kejahatan yang terlihat atau terdengar itu bisa langsung ternilai, akan tetapi yang harus dinilai adalah Semua harus sesuai fakta wujud tujuannya, wujud perubahannya dan hasil akhirnya.

Ada sebuah pepatah china kuno dengan Bahasa Khek, “Lu Chong Ti Ma Lit, She Kiu Kien Ngin Sim.” Artinya perjalanan panjang baru bisa mengetahui kekuatan sesungguhnya seekor kuda, dan jika ingin mengetahui baik atau tidaknya seseorang harus mengenalinya cukup lama.

Jadi agar negara menjadi maju dan bangsa menjadi makmur, maka segala kejahatan harus ada sanksi hukuman yang setimpal agar harus ada efek jera. Dan contoh hukuman juga bisa mengurangi pihak yang ingin berbuat jahat, sehingga aktor politik busuk tidak mampu terus bertumbuh subur.

Jika hukum di sebuah negara sudah mati atau tidak hidup, hukum sudah terjadi pilih kasih, hukum sudah bisa dipermainkan dan atau politik sudah di atas hukum, maka kejahatan aktor politik busuk akan makin banyak atau merajalela. Yang pada akhirnya negara dan bangsa pasti hancur lebur.

Mengapa bisa terjadi demikian? Jika semua hal itu terjadi pasti ada sebabnya, jadi harus dikoreksi dari dasar hukum sebab akibat, mengapa dan apa sebabnya?

Setelah menemukan faktor penyebabnya, maka di situlah letak solusinya atau jawabannya.

Untuk itu sekali lagi saya tegaskan, agar negara dan bangsa bisa maju dan makmur maka kepastian hukum harus ditegakkan seadil-adilnya.

* Kan Hiung alias Mr. Kan, Pengamat Politik Dan Hukum.

Terpopuler

To Top