Politik

Ini Penampakan Biangkerok Bangkitnya Komunis


20 June 2016, 1:48
Dilihat   5.8K

Nusantarakini.com, Jakarta – Paham komunis yang mengimpikan kondisi masyarakat sama rasa sama rata kini menjadi hantu kembali. Beberapa pihak melancarkan tekanan kepada pemerintah supaya keberadaan PKI yang disebut-sebut sudah bangkit itu ditangani secara tegas. Sayangnya pemerintah menganggap isu kebangkitan PKI itu hanya pepesan kosong. “Tunjukkan PKI-nya dimana kalau memang ada,” kata Menkopolhukan, Luhut Panjaitan.

Sementara itu, tokoh-tokoh TNI seperti Kivlan Zein dan Suryo Prabowo tidak puas dengan sikap yang ditunjukkan oleh pemerintah tersebut.

Pada 1 Juni 2016 yang lalu mereka pun menyelenggarakan simposium dengan tema Mengamankan Pancasila. Berkat simposium itu terkumpul semua pihak yang getol melancarkan anti terhadap PKI.

Yang jadi pertanyaan, mengapa sekarang ribut lagi masalah PKI ini? Seberapa jauh ia benar-benar mengancam keadaan nasional yang sudah terbangun selama setengah abad tanpa kaum komunis itu? Atau, apakah memang tersedia ruang objektif bagi tumbuhnya PKI di dalam masyarakat?

Sebelum menyerang PKI yang belum ditemukan wujudnya hingga hari ini, dapatkah pemerintah memeriksa keadaan nasional yang biasanya mendorong populernya paham sosialisme dan komunisme? Apakah itu? Itulah jurang ketimpangan kemakmuran di dalam masyarakat. Jurang ketimpangan kemakmuran sangat mudah menumbuhkan bukan saja paham komunisme tapi juga segala paham yang berusaha melepaskan rakyat dari penderitaan yang ditimbulkan oleh jurang kesenjangan tersebut.

Gambar di atas mestinya menyadarkan pemerintah bahwa level indeks gini sudah demikian memprihatinkannya.

Bila Anda berjalan-jalan di kompleks perumahan mewah, Anda akan menemukan suasana hidup yang demikian sentosa dan mewahnya. Kontras dengan warga yang hidup di gang-gang sempit atau kampung-kampung yang terinvasi oleh developer yang rakus.

Semua hal di atas merupakan suasana hari-hari yang dihadapi oleh rakyat kebanyakan. Coba, bagaimana stressnya kaum miskin perkotaan dengan lukisan kehidupan yang tidak memihak mereka itu.

Tiba-tiba mereka didekati oleh propogandis yang menjanjikan hidup bahagia, tenang, sama rasa sama rata, dapatkah Anda membayangkan bahwa propogandis seperti itu akan ditolak oleh rakyat yang tersingkir itu? (sed)

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!