Warkop-98

Naga yang Tersedak: Ekonomi China Jatuh di Tengah Ambisi Besarnya

Nusantarakini.com, Surabaya –

Ketika saya menyebut ekonomi China sedang anjlok, banyak yang menggeleng tak percaya. Naga dianggap perkasa. Tapi mari kita lihat angka-angka indikatornya: ritel melemah, properti runtuh, kredit minus. Fakta bicara lebih lantang dari mitos.

China dulu dipuji. Disebut-sebut akan menjadi penantang Amerika. Semua indikator mengarah ke sana. Pabrik-pabriknya memproduksi apa saja. Jalan tol, pelabuhan, kereta cepat—dibangun serentak. Cadangan devisa triliunan dolar. Pasar dalam negeri raksasa. Naga itu seolah tak bisa dihentikan.

Tapi hari ini naga itu tersedak oleh ambisinya sendiri. Evergrande, ikon properti China, kolaps dengan utang Rp 4.800 triliun—lebih besar dari APBN Indonesia. Din Tai Fung, restoran yang dianggap simbol kelas menengah makmur, justru menutup 14 cabangnya di Beijing, Tianjin, dan kota besar lain.

Angka resmi pun mulai terbuka: pertumbuhan ritel hanya 3,7%, terendah dalam tujuh bulan. Output industri merosot ke 5,7%, level terlemah dalam delapan bulan. Investasi aset tetap hanya naik 1,6%, jauh dari harapan. Bahkan kredit baru untuk pertama kalinya dalam dua dekade mengalami kontraksi.

Naga ini dulu berlari dengan bensin investasi. Rumah, apartemen, kota baru dibangun seakan tanpa henti. Tapi kini muncul kota hantu: jutaan unit rumah kosong, bandara dan rel kereta tanpa penumpang. GDP naik, tapi fiktif. Naga terengah-engah.

Masalahnya bukan hanya ekonomi. Penduduk China menua lebih cepat dari negara manapun. Kelahiran turun drastis: hanya 9 juta bayi lahir pada 2023—jauh di bawah kebutuhan regenerasi. Konsumsi rakyat pun kecil: hanya 38% dari PDB. Bandingkan dengan Amerika yang mencapai 68%.

Dunia multipolar tadinya dianggap akan bergeser dari Washington ke Beijing. Tapi China sendiri sedang limbung. Amerika melemah, tapi China tidak otomatis naik.

Naga itu kini tersedak. Dunia menunggu pemimpin baru. Apakah India yang muncul? Apakah blok Asia Tenggara? Atau justru dunia akan memasuki era tanpa satu kekuatan dominan—benar-benar multipolar?

Yang jelas, ekonomi global tidak bisa lagi hanya mengandalkan dua raksasa itu. Karena satu sedang lelah, satu lagi tersedak. [mc]

*Catatan Agus M Maksum, Kolumnis.

(Sumber dan Foto: FB Agus M Maksum).

Terpopuler

To Top