Benarkah Ada Jebakan Utang Tiongkok untuk Negara Berkembang?

Nusantarakini.com, Jakarta –
Pada tulisan kali ini, mari kita sama-sama membongkar mitos yang sering sekali disebarkan, yaitu “jebakan utang dari Tiongkok.”
Apa benar Tiongkok menjebak negara berkembang lewat pinjaman? Jawabannya ternyata tidak sesimpel itu. Faktanya banyak negara Barat juga memberikan utang, tapi bunganya tinggi, jangka pendek dan dengan syarat politik. Sementara Tiongkok memberikan bunga lebih rendah, jangka panjang dan tidak memaksa kita untuk mengganti sistem pemerintahan kita.
Nah, kerap kali proyek yang dibiayai Tiongkok adalah proyek infrastruktur besar yang memang membutuhkan waktu puluhan tahun supaya balik modal. Jadi wajarlah kalau cicilan jadi panjang. Lagi pula dari proyek-proyek itu akhirnya menyelamatkan perekonomian negara yang bersangkutan.
Coba kita pikir siapa yang lebih menjebak? Negara yang memberikan utang untuk membangun jalan dan listrik atau negara yang ngasih utang buat gaji birokrat.
Ini point penting untuk dipahami, Tiongkok sekarang bukan hanya mau maju sendiri, tetapi mengajak negara berkembang supaya naik kelas bersama-sama.
Contoh nyata bisa kita lihat, mereka membuat kawasan industri bersama di Asia tengah, membantu negara-negara Afrika membangun jaringan listrik dan air bersih. Bahkan memberikan akses teknologi pertanian digital ke negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika di saat negara-negara tersebut lebih fokus ke urusan politik. Sedangkan Tiongkok fokus ke solusi praktis. Mereka tidak datang membawa doktrin demokrasi, tapi bawa panel surya dan rel kereta. Mereka tidak membawa senjata, tapi membawa traktor dan alat pertanian pintar. Itulah kenapa banyak negara sekarang lebih nyaman kerja sama dengan Tiongkok dibandingkan dengan Amerika.
Sekarang mari kita bayangkan, bumi makin panas, krisis iklim makin parah, dan kita semua butuh transisi energi besar-besaran. Siapa bergerak duluan? Jawabnya adalah Tiongkok. Mereka membangun ladang surya raksasa di gurun. Mereka membangun sistem penyimpanan energi terbesar di dunia. Mereka juga mendominasi kendaraan listrik.
Dan semua itu dibangun dalam waktu 10 sampai 20 tahun saja. Cepat, masif dan efisien. Sementara Amerika masih sibuk berdebat di kongres tentang apakah pemanasan global itu nyata.
Maka wajarlah kalau negara-negara berkembang lebih percaya kepada Tiongkok untuk membantu mereka untuk melakukan transisi energi. Karena mereka melihat hasilnya, tidak hanya wacana.
Mungkin kita mungkin bertanya “Terus Tiongkok sebenarnya maunya apa?” Jawabannya untuk menciptakan stabilitas global. Karena dengan stabilitas, ekonomi pun bergerak. Karena ekonomi berjalan akan membuat semua diuntungkan. Tidak ada yang dirugikan kalau dunia lebih terhubung, lebih bersih dan lebih damai.
Kebijakan luar negeri Tiongkok bukan soal dominasi, tapi soal interkoneksi. Mereka tahu bahwa kalau negara tetangga stabil, maka lingkungan bisnis juga menjadi kondusif.
Makanya proyek-proyek seperti Belt and Road Initiative (BRI) dirancang untuk jangka panjang. Karena mereka percaya proses, bukan intervensi instan.
Dan ada lagi. Kita mungkin sering mendengar elite politik Amerika mengatakan bahwa Tiongkok mencuri teknologi mereka. Padahal kalau melihat faktanya justru banyak perusahaan Amerika yang secara sukarela memindahkan produksinya ke Tiongkok demi biaya lebih murah. Mereka mengambil untung besar selama 30 tahun dari kerja sama itu. Tapi begitu Tiongkok sudah bisa berdiri sendiri, Amerika mulai panik.
Bukan karena Tiongkok salah, tapi mereka sendiri yang terlambat. Tidak melakukan investasi di energi hijau. Terlambat membuat ekosistem electrical vehicle (EV), dan terlalu sibuk perang. Akhirnya mereka mencari kambing hitam. Dan yang paling mudah untuk disalahkan adalah Tiongkok. Anehnya kenapa Tiongkok yang dituduh mencuri teknologi 4 G, tetapi dia mempunyai teknologi 6 G?
Satu hal yang harus kita akui, Tiongkok mempunyai perencanaan jangka panjang. Mereka mau jadi apa, mau ke mana 10-20 bahkan 50 tahun mendatang. Sementara Amerika tiap empat tahun ganti presiden, ganti arah kebijakan, ganti musuh, tidak ada kontinuitas, dan tidak ada fokus Jangka panjang. Yang penting menang dulu. Itulah kenapa Tiongkok bisa membangun jaringan industri EV dalam 10 tahun. Sementara Amerika masih sibuk ribut soal subsidi pajak, imigran, dan LGBT.
Kalau tren ini berlanjut Tiongkok bakal jadi tulang punggung dunia dalam banyak sektor. Dari energi hijau, teknologi bersih, sampai infrastruktur global. Dan ini point penting, sebab ini bukan dominasi tapi kontribusi. Dunia butuh arsitek di masa depan. Dan sejauh ini Tiongkok lebih kelihatan seperti arsitek.
Sementara Amerika tetap berperan sebagai polisi yang sayangnya sering sekali salah tangkap. Nah ini yang menarik, itu bukan cuma soal siapa suka damai dan siapa suka perang, tapi ini soal mindset.
Tiongkok mengajarkan kita pentingnya sabar, perencanaan dan investasi jangka panjang. Sedangkan Amerika secara historis menunjukkan bahwa mereka itu terlalu agresif sehingga membuat kelelahan sendiri. Dan kita bisa belajar dari 2 kutub ini.
Kita belajar dari diplomasi tenang dari Tiongkok dan juga kesalahan-kesalahan Amerika yang agresif, terlalu cepat memakai kekerasan.
Dunia ke depan butuh kolaborasi bukan konfrontasi. Dan selama Tiongkok tetap konsisten pada jalur damainya. Kita mungkin punya masa depan yang lebih stabil. [mc]
*Chen Yi Jing, Pemerhati Geopolitik, Sosial dan Ekonomi.
