Iran Tinggalkan GPS dan Melarang Layanan Starlink, Dunia Mulai Ragukan Keamanan Teknologi Amerika?

Nusantarakini.com, Jakarta –
IRAN baru saja membuat langkah besar pertama, mereka memblok sistem GPS dan beralih ke sistem navigasi BeiDou buatan Negeri Panda. Selain itu, Iran juga secara resmi melarang layanan internet Starlink milik Elon Musk.
Setelah mengalami penderitaan hebat disusupi mata-mata Israel, CIA atau negara musuh secara serius, maka jelas terlihat bahwa Iran tidak lagi mempercayai teknologi Negeri Paman Sam.
Semakin banyak negara Timur Tengah mulai meragukan dominasi teknologi Amerika dan mulai mencari alternatif yang lebih aman dan lebih bisa diandalkan.
Parlemen Iran baru saja mengesahkan UU yang menetapkan penggunaan alat komunikasi tanpa izin–termasuk internet Starlink–sebagai tindakan kriminal. Hukuman yang dijatuhkan mulai dari denda, cambuk atau penjara hingga dua tahun.
UU ini ditujukan bagi pihak-pihak yang dianggap membahayakan keamanan nasional, termasuk yang diduga memiliki kaitan dengan Israel atau negara musuh. Yang dapat melakukan serangan siber, atau menggunakan teknologi setara militer. Dalam beberapa kasus ekstrem, pelanggar bahkan bisa dijatuhi hukuman lebih berat sampai dengan hukuman mati.
Pemerintah Iran menyatakan kekhawatiran, bahwa pihak asing dapat memanfaatkan Starlink untuk meretas sensor yang telah mengakibatkan banyak kematian bagi para pejabat tinggi mereka.
Menariknya, beberapa minggu sebelum UU ini disahkan–di tengah meningkatkannya ketegangan antara Iran dan Israel–sejumlah politisi AS justru menyerukan agar Elon Musk mengaktifkan layanan Starlink untuk mengawasi Iran.
Ini adalah perubahan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan perang panjang untuk mempertahankan diri dari serangan Elang Botak dan Israel.
Iran juga telah merombak sistem pertahanan udaranya yang sempat diporakporandakan oleh Israel pasca serangan pertama 13 Juni yang lalu.
Saat itu angkatan udara Iran yang masih mengandalkan radar/sistem pertahanan udaranya dan jet tempur dari Rusia yang telah uzur.
Namun kini Iran telah mendatangkan Jet Tempur J-10C dan sistem pertahanan udara jenis HQ dan pelatihan dari Tiongkok.
Dan bukan hanya itu saja, paket yang termasuk rudal PL-15 dan PL-17 yang sempat merontokkan jet tempur Rafale Perancis.
Bahkan termasuk rudal balistik jarak menengah pun telah didatangkan dari Negeri Panda.
Walaupun tanpa aliansi militer, namun Tiongkok-Iran memiliki hubungan strategis termasuk kerja sama militer dalam perjanjian yang ditandatangani pada Tahun 2021 untuk 25 tahun ke depan.
Ini adalah persiapan Iran untuk melawan dan mempertahankan kedaulatan negaranya, bukanlah suatu kejahatan, tapi upaya untuk tetap bisa bernafas. [mc]
*Chen Yi Jing, Pemerhati Geopolitik, Sosial dan Ekonomi.
