Oleh: Chen Yi Jing, Pengamat Geopolitik.
Nusantarakini.com, Jakarta –
Selat Hormuz yang merupakan jalur air sempit dan menjadi gerbang bagi hampir semua minyak dari Teluk Persia ditutup. Hanya dalam sekejap 20% lebih dari pasokan minyak harian dunia lenyap dari pasar, sekitar 20 juta barrel perhari menguap.
Tragisnya, seolah-olah itu belum cukup, ancaman serupa kini membayangi Selat Bab Almandap jalur penting lainnya.
Jika kedua urat nadi ini tersumbat, seperempat dari pasokan minyak global akan terhenti. Ini akan memicu sebuah krisis energi dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.
Ketika harga minyak mentah menembus angka psikologis 100 dolar/barrel, tatanan dunia yang lama secara resmi dinyatakan telah mati. Minyak tidak lagi sekedar komoditas, ia telah menjadi senjata pemusnah masal ekonomi.
Dan yang paling menakutkan, tombol pelatuknya tidak lagi berada di Washington atau Wall Street, melainkan di Teheran.
Ketika warga biasa di seluruh dunia merasakan dampaknya secara langsung, bukan di medan perang, tetapi di pompa bensin.
Setiap tagihan listrik, diharga setiap barang yang mereka beli. Namun di tengah penderitaan global ini, sebuah paradoks yang brutal dan sinis muncul di jantung ekonomi Amerika Serikat.
Sementara warga biasa mengantri di SPBU berjuang dengan harga yang mencekik, namun perusahaan-perusahaan minyak raksasa justru berpesta pora.
Penderitaan publik secara langsung diterjemahkan menjadi keuntungan bersejarah. Proyeksi menunjukkan angka tambahan hampir 100 milliar dolar arus kas bebas bagi mereka.
Kini muncul pertanyaan, apakah ini sekedar dinamika pasar ataukah ini adalah sebuah perang ekonomi dimana korban terbesarnya adalah warga negaranya sendiri?
Saat ekonomi global terguncang hebat, pilar terakhir dari kekuatan Amerika mulai runtuh dari jaringan aliansi globalnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, ketika polisi dunia menemukan dirinya benar-benar sendirian terisolasi. Ketika tepat di saat Amerika paling membutuhkan sekutunya, panggilan teleponnya tidak dijawab dan permintaan bantuannya ditolak mentah-mentah.
Sebuah pernyataan yang akan tercatat dalam sejarah, Presiden Amerika Serikat secara efektif mencuci tangan dari tanggung jawabnya. Ia mengatakan bahwa negara-negara lainlah yang seharusnya menjaga Selat Hormuz agar tetap terbuka.
Kita coba pahami dengan baik, ini bukanlah sebuah poros strategis yang cerdas, melainkan pengakuan atas ketidakberdayaan pemimpin dunia, yang mengaku sebagai polisi dunia.
Sebuah pengakuan tidak langsung bahwa Amerika tidak lagi mampu atau lebih parah lagi tidak mau memikul beban sebagai penjaga keamanan global sendirian.
Dan dunia merespon pengakuan kelemahan itu dengan penolakan satu persatu. Sekutu-sekutu terdekat Amerika seperti: Perancis, Jerman, Jepang, Italia dan Spanyol, semua mengatakan tidak. Ini adalah sebuah eksodus diplomasi massal, sebuah rentetan penolakan yang secara brutal. Sebagai sebuah demonstrasi betapa terisolasinya Amerika yang kini terdampar sendirian di tengah badai yang diciptakannya sendiri.
Namun Alam Semesta tidak suka kekosongan, begitu pula geopolitik, dari kekacauan ini, dari puing-puing pangkalan militer yang masih membara dan aliansi yang hancur.
Kekuatan-kekuatan baru mulai melangkah maju. Mereka datang bukan untuk memadamkan api, melainkan untuk membangun tatanan baru di atas abu tatanan yang lama. Mereka menulis aturan aturan baru untuk era yang baru. Sementara seluruh energi dan modal militer Amerika terkuras di Timur Tengah.
Rusia dan Tiongkok bergerak dengan cepat. Rusia melihat sanksi minyak terhadapnya dilonggarkan karena keputusan Amerika. Ini adalah sebuah penemuan sumber pendanaan baru untuk membiayai mesin perangnya sendiri. Dan Tiongkok, dengan langkah yang jauh lebih strategis mulai penggunaan Yuan sebagai pengganti dolar dalam transaksi minyak melalui Selat Hormuz.
Ini adalah sebuah tantangan langsung terhadap sistem Petro Dollar, pilar utama dominasi keuangan Amerika selama lebih dari setengah abad. Tatanan keuangan global sedang diatur ulang di atas puing-puing pangkalan militer yang terbakar.
Dan pada hari inilah istilah baru mulai masuk dalam leksikon geopolitik, Petro Yuan. Ini lebih dari sekedar istilah keuangan yang kering. Melainkan sebuah simbol dari hubungan yang tidak terpisahkan antara kekalahan militer di medan perang dan kemunduran finansial di pasar global. Ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan ekonomi tidak dipisahkan dari kekuatan militer. Dan ketika salah satunya runtuh, yang lainnya pasti akan mengikutinya.
Jadi, inilah pertanyaan yang ditinggalkan oleh Perang Orang melawan Israel-Amerika hari ke-16, ketika sejarah pada akhirnya ditulis ulang oleh pemenangnya dari konflik ini. Mata uang siapa yang akan mereka gunakan untuk membayar tintanya, karena peristiwa ini bukan hanya tentang suatu pertempuran, bukan hanya sebuah krisis regional.
Ini adalah akhir dari sebuah epos sejarah dan fajar dari sebuah tatanan dunia baru yang aturannya kini sedang ditulis ulang bukan dengan pena diplomatik, melainkan dengan rudal dan barel minyak. [mc]

