Nusantarakini.com, Yogyakarta –
Awal bulan ini, saya sempat menjadi narsum tentang pemberdayaan masjid yang diselenggarakan Kemenag Kalbar. Saya sempat menyinggung Masjid Jogokariyan sebagai testimoni. Ternyata, sang inspiratornya telah wafat hari ini. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Pukul 03.00 WIB, Senin, 22 Desember 2025, Yogyakarta seperti kehilangan detak jantungnya. Dari RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, kabar itu meluncur pelan tetapi menghantam keras. Ustadz Muhammad Jazir ASP wafat. Kalimat yang sering kita ucapkan dengan nyaris otomatis, pagi itu berubah menjadi vonis sunyi yang memaksa dada ribuan orang runtuh bersamaan. Masjid Jogokariyan kehilangan penjaganya. Indonesia kehilangan seorang inspirator pemberdayaan masjid yang bekerja tanpa hingar, namun dampaknya menggema lintas zaman.
Masjid Jogokariyan pagi itu bukan lagi sekadar rumah ibadah. Ia menjelma ruang duka kolektif. Jenazah Ustadz Jazir disemayamkan di sana, di masjid yang sejak didirikan pada 1966 dan diresmikan 20 Agustus 1967, telah ia ubah dari langgar sederhana menjadi pusat peradaban. Orang-orang datang dengan mata sembab dan langkah berat. Ironinya kejam, masjid yang selama ini mengajarkan ketegaran, hari itu dipenuhi manusia yang rapuh, seakan kehilangan kompas moralnya.
Pengurus Masjid Jogokariyan, Gitta Welly Aryadi, menyampaikan kabar duka itu dengan kata-kata yang terasa bergetar meski dibaca. “Guru tercinta telah pulang,” katanya. Selama sakit, Ustadz Jazir tidak meninggalkan daftar keluhan, melainkan satu pesan yang indah sekaligus menakutkan, teruskan perjuangan menghadirkan peradaban masjid. Pesan itu seperti obor yang menyala terang, tetapi panasnya menuntut keberanian siapa pun yang hendak menggenggamnya.
Ustadz Jazir bukan tipe tokoh yang gemar berdiri di podium tinggi. Ia memilih bekerja. Saat pandemi COVID-19 melanda dan banyak tempat ibadah gamang, ia bersuara tegas, masjid harus menjadi tempat perlawanan, bukan tempat penularan. Masjid Jogokariyan bergerak cepat karena fondasinya sudah lama disiapkan. Sejak 2004, sejak tsunami Aceh, dana kebencanaan telah ada. Ketika corona datang, bantuan sembako ditingkatkan dari 400 warga miskin menjadi 1.000 warga terdampak. Suplemen makanan dan hand sanitizer dibagikan gratis. Di saat sebagian institusi sibuk merapikan citra, masjid ini sibuk menyelamatkan manusia.Dari tangan Ustadz Jazir lahir gagasan yang mengusik kenyamanan lama, Saldo Infak Nol Rupiah. Masjid tidak menimbun dana, melainkan menyalurkannya. Transparansi keuangan dibuka lebar, setiap pekan bisa dilihat jamaah. Masjid Jogokariyan pun menjelma rujukan nasional, bahkan Asia dalam manajemen masjid modern. Ia membuktikan, iman bisa dikelola secara profesional tanpa kehilangan ruh keikhlasan.
Tahun 2021, masjid ini menggalang dana untuk kapal selam pengganti KRI Nanggala 402 yang tenggelam di perairan utara Bali, dan miliaran rupiah terkumpul. Tahun 2024, Rp 4,2 miliar dihimpun untuk Gaza. Program sosial, pemberdayaan ekonomi jamaah, UMKM berbasis masjid, dana bergulir, pendidikan, kajian rutin, pelatihan takmir dari seluruh Indonesia, hingga inovasi ramah lingkungan seperti kendaraan listrik untuk lansia, berjalan tanpa henti. Subuh berjamaah selalu penuh, seolah masjid ini menolak sunyi.
Kini, inspirator itu telah pergi. Masjid Jogokariyan tetap berdiri megah, tetapi rasanya seperti kehilangan bayangan. Kita menangis, dan itu manusiawi. Namun duka ini bukan sekadar tentang wafatnya seorang tokoh. Ini tentang amanah besar yang ditinggalkan. Doa dipanjatkan agar segala dosa beliau diampuni, segala kebaikannya diterima, dan barzahnya menjadi taman surga.
Ustadz Muhammad Jazir ASP telah wafat. Tetapi selama masjid-masjid terus hidup, jamaah terus diberdayakan, dan infak terus mengalir tanpa pamrih, inspirasi itu akan tetap bernapas. Ia pergi meninggalkan air mata, dan sebuah tanggung jawab yang terlalu berharga untuk dibiarkan mati. [mc]
*Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar.

