Dunia yang Diam-Diam Meninggalkan Dolar: Kebangkitan Sistem Baru ala Tiongkok

Nusantarakini.com, Jakarta –
Saya sedang tidak berada di Washington. Juga tidak di Beijing. Saya menulis catatan ini sambil menyeruput teh panas di ruang kerja kecil saya yang penuh dengan koran, buku, dan catatan yang sudah mulai menguning. Tapi entah mengapa pagi ini terasa lain. Ada angin perubahan yang tak terlihat tapi terasa. Bukan dari jendela, tapi dari layar monitor Fold saya yang memantau berita ekonomi dunia.
Ada sesuatu yang bergerak.
Pelan.
Diam-diam.
Tapi pasti.
Dunia sedang meninggalkan dolar.
Dan tidak ada yang berteriak.
Tidak ada pengumuman di TV.
Tidak ada parade.
Tidak ada ledakan.
Hanya kontrak demi kontrak.
Mata uang demi mata uang.
Dan berita-berita kecil yang dianggap tidak seksi oleh headline besar.
Tiba-tiba Arab Saudi bicara pakai yuan.
Rusia menyingkirkan dolar dari neraca dagangnya.
India bertransaksi langsung dengan UEA tanpa SWIFT.
Indonesia? Sudah punya QRIS, mulai pakai rupiah untuk belanja lintas batas dengan tetangga.
Saya tidak tahu apakah Gedung Putih sudah sadar.
Atau mungkin belum atau malah sedang panik.
Seperti tuan rumah pesta yang asyik selfie, padahal para tamunya satu per satu pulang.
Dan Tiongkok? dengan BRI (Belt Road Initiatif)
Telah membentangkan karpet, dan menyiapkan jamuan.
Siapa yang datang? Negara demi negara. Suka atau dipaksa ikut arus untuk mencari alternatif selain dollar.
Ini bukan soal ideologi.
Tiongkok menawarkan hal baru yang
Bukan soal siapa lebih demokratis.
Ini hanya soal siapa yang lebih efisien, tidak cerewet, dan tidak suka mencampuri urusan dapur orang lain
Tiongkok tidak bertanya:
“Apa sistem pemerintahmu?”
Tiongkok hanya bilang:
“Kau butuh pelabuhan? Kami bangun.”
“Kau butuh swapline? Ini dia.”
“Kau mau digital currency? Kami sudah uji coba.”
Saya tiba-tiba teringat ucapan lama:
“In the game of power, the quiet ones often win.”
Yang keras biasanya kalah karena terlalu cepat habis tenaga.
Dolar bukan runtuh.
Tapi ditinggalkan.
Seperti bioskop yang masih memutar film,
tapi penontonnya sudah berdiri, berjalan keluar, tanpa gaduh.
Sementara Amerika masih merasa menjadi pemeran utama.
Sayangnya, sorotan lampu kini berpindah.
Dan layar kedua sedang dibangun di timur.
Dengan tata suara yang baru.
Dan tiket masuk yang lebih murah.
Saya tidak bilang ini baik atau buruk.
Saya hanya bilang: ini sedang terjadi.
Dan seperti biasa,
yang tidak siap membaca arah angin,
akan diterbangkan oleh badai. [mc]
*Agus M Maksum, Kolumnis.
