Sejarah

Latar Belakang Keluarga Lafran Pane Pendiri HMI yang Perlu Diketahui

Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan pahlawan Nasional/foto: insan news

“Guna meramaikan sambutan atas Film Lafran Pane, saya sumbangkan tulisan sederhana ini.”

Nusantarakini.com, Bekasi –

Anak-anak Indonesia yang mencicipi pelajaran Bahasa Indonesia, pasti tidak asing dengan nama Sanusi Pane dan Armijn Pane. Mereka berdua adalah pengarang penting dan memberikan andil bagi perkembangan sastra dan kebudayaan di Indonesia.

Kedua nama ini telah lama masuk menjadi isi dari buku pelajaran Bahasa Indonesia. Saat saya masih SD pada 1980-an, saya diperkenalkan dengan kedua nama itu dari deretan para sastrawan Indonesia terkemuka. Rupanya keduanya adalah kakak beradik, anak dari Sutan Pangurabaan Pane yang sebenarnya juga tidak kalah hebat dari kedua putranya itu dalam dunia kesusastraan dan jurnalistik.

Lafran Pane diabadikan dalam sinema untuk mengenang jasanya sebagai pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan juga sebagai Pahlawan Nasional. (Foto: Republika)

Namun jika anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke ditanya siapa Lafran Pane, belum tentu semua tahu. Sebaliknya jika kader-kader HMI ditanya, siapa Lafran Pane, pasti semua menjawab: pendiri HMI. Jika ditanya lagi, siapa orang tua dan saudara-saudara Lafran Pane? Belum tentu semua tahu.

Introduksi dalam perkaderan HMI, memang tidak menyentuh biografi Lafran Pane secara komprehensif, mulai sejak kecil, remaja, konteks lingkungan keluarga dan pertumbuhan kejiwaannya, hingga pergulatannya selama menjadi pemuda dan mahasiswa di Jakarta dan Yogyakarta pada periode yang sangat menentukan bagi eksistensi Indonesia sebagai bangsa dan negara baru. Concern kader-kader HMI lebih pada sejarah lembaganya sendiri, yaitu HMI.

Walaupun tidak terelakkan satu dua dari tokoh-tokoh pendirinya, diperkenalkan alakadarnya, seperti Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Maisaroh Hilal, dan lain-lain. Selain itu juga, kecenderungan sifat para pendiri HMI, tidak suka mendaku dan memilih berendah hati, dalam hubungannya dengan perkara siapa yang paling berperan mendirikan dan membangun HMI pada periode permulaannya.

Sutan Pangurabaan Pane

Saya sepakat dengan pernyataan Budi Hatees, seorang jurnalis yang kini berada di Lampung. “Sampai hari ini, orang acap bi­cara tentang Armijn Pane (sas­trawan), Sanusia Pane (sastra­wan), dan Lafran Pane (pendiri Himpunan Mahasiswa Islam). Dengan sangat bersemangat tan­pa sedikit pun menyinggung tentang Sutan Pangurabaan Pane. Padahal, tiga nama itu adalah da­rah daging Sutan Pangurabaan Pane. Ketiganya adalah anak-anak Sutan Pangurabaan Pane.” https://analisadaily.com/berita/arsip/2018/11/18/650583/sastra-daerah-dari-tapanuli-bagian-selatan/.

Sutan Pangurabaan Pane lahir pada 1885 di Sipirok, Angkola, Keresidenan Tapanuli, Hindia Belanda. Dia belajar di sekolah guru yang didirikan oleh Willem Iskandar. Willem Iskandar merupakan tokoh pendidik yang jauh lebih awal ketimbang Ki Hadjar Dewantoro. Willem Iskander lahir dengan nama Sati Nasution lalu bergelar Sutan Iskandar di Pidoli Lombang, Sumatera Utara, Maret 1840 dan meninggal di Amsterdam, Belanda, 8 Mei 1876 pada umur 36 tahun.

Willem Iskander mendirikan Sekolah Guru atau Kweekschool Voor Inlandsche Onderwijers Tano Bato Tapanuli Selatan (1862-1874). Setelah kepergiannya untuk kedua kalinya ke Belanda, sekolah tersebut dipindahkan ke Padang Sidempuan. Kelak Sutan Pangurabaan Pane, ayah Lafran Pane, menempuh pendidikannya di sekolah tersebut dengan salah seorang gurunya, Charles Adriaan van Ophuijsen.

Ch.A. Ophuijsen kelahiran Solok, Sumatera Barat pada 31 Desember 1854 dan wafat 19 Februari 1917, merupakan seorang ahli keislaman dan sosiologi. Dia banyak berteman dengan ketua suku termasuk suku atau marga Arab Hadrami, Habib Ali bin Ja’far Assegaf, Ketua Maktab Daimi dan Pendiri Rabitah Alawiyyah.

Perannya dalam mendirikan, mengesahkan, menetapkan, dan menandatangani Akta Notaris terbentuknya Rabitah Alawiyyah dibuktikan dengan Akta Notaris Mr. A.H. Van Ophuijsen No. 66 Tanggal 16 Januari 1928 dan disahkan oleh GR. Erdbrink (Sekretaris Pemerintah Belanda) pada tanggal 27 Desember 1928 (1346 H).

Van Ophuijsen berhasil menyusun Kitab Logat Melajoe pada tahun 1901 sebagai standar untuk penulisan aksara latin dalam bahasa Melayu menggantikan Arab Pegon atau Arab Melayu yang banyak dipakai. Buku tersebut kelak menjadi pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan van Ophuijsen dan secara resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901.

Sebagai guru untuk murid-murid Kweekschool, Sutan Pangurabaan Pane menimba banyak ilmu dari ilmuwan Belanda yang banyak menerbitkan buku berbahasa Melayu tersebut. Wajarlah, jika semangat Willem Iskander yang menyebarkan pencerahan dan semangat van Ophuijsen yang cinta ilmu pengetahuan, menular kepadanya dan kemudian menular juga kepada anak-anaknya, seperti Sanusi Pane, Armijn Pane dan Lafran Pane.

Sutan Pangurabaan Pane benar-benat terpelajar, sangat aktif, dan banyak bakat. Selain sebagai guru, jurnalis, sastrawan, aktivis politik, juga merupakan pengusaha yang mendirikan perusahaan otobus Sibual-buali. Bus ini masih sempat saya saksikan hilir-mudik di jalan raya di Labuhan Batu Sumatera Utara saat saya masih remaja. Entah sekarang. Warnanya merah dengan mesin Colt Diesel.

Salah satu karya Pangurabaan Pane dalam bidang kesusasteraan yaitu novel berjudul “Tolbok Haleon: Siriaon di na Tobang, Sipaingot toe Naposo Boeloeng” (Musim Kelaparan: Hiburan bagi Orang Tua, Saran bagi Kaum Muda). Ditulis dalam bahasa Batak Angkola. Semula tersaji reguler dalam surat kabar Poestaha edisi sekitar tahun 1914-1915 di Padangsidempuan.

Setelah terpublikasi di surat kabar, dikemas dalam format buku dan diterbitkan sebagai edisi perdana. Pada 1916, Partopan Tapanoeli, Padang Sidempuan, menerbitkan edisi kedua. Handel Mij. Indische Drukkerij, Medan, menerbitkan edisi keempat, 1937. Novel ini sangat digemari para pembaca yang akrab dengan bahasa lokal, Batak Angkola dan Mandailing.

Dengan sketsa keluarga dan koneksi pergaulan semacam itulah, Lafran Pane dibesarkan. Jadi sebenarnya, keluarga Pane yang satu ini, merupakan keluarga intelektual dan aktivis. Ketika Lafran Pane mendirikan HMI untuk mewadahi mahasiswa-mahasiswa penganut ajaran Islam, tetapi dengan menekankan karakter modernis (anti taklid), sesungguhnya hal itu merupakan bawaan karakter yang terbentuk pada diri Lafran Pane sendiri semasa dalam asuhan ayahnya.

Sebagaimana saudara-saudaranya, merupakan pribadi-pribadi yang merdeka dan tidak suka tunduk pada sesuatu yang tidak ada dasarnya yang kuat. Biar pun demikian, ada benang merah dari watak mereka, yaitu kesederhanaan dan kerendahhatian.

Saya tentu tidak kutipkan lagi di sini berapa sederhana dan rendah hatinya jiwa Lafran Pane yang sudah melegenda itu.

Sanusi Pane, abangnya Lafran Pane, memiliki jiwa yang sama. Suatu ketika, Soekarno bermaksud menganugerahkan Satya Lencana Kebudayaan kepada Sanusi Pane, tapi ia menolak. Istrinya terkejut dengan penolakannya. Ia menanyakan alasan penolakan suaminya. Sanusi Pane mengatakan, “Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu adalah semata-mata kewajibanku sebagai putra bangsa.”

Kali berikutnya, diceritakan bahwa selama menjadi penulis atau penyunting di Balai Pustaka, ia sering mengabaikan tawaran yang berkaitan dengan kariernya. Selama di Balai Pustaka pun, ia tidak pernah mengurus kenaikan pangkat. Bahkan beras jatahnya, sampai rusak karena tidak dia gunakan untuk dirinya.

Dari keluarga hebat ini, kita belajar dan memetik teladan yang tak ternilai. [mc]

*Sahrul Efendi Dasopang, Mantan Ketum PB HMI MPO.

Terpopuler

To Top