Satire

INDONESIA: Bangsa Yang Suka Menanggung Tipu Daya?


16 September 2017, 8:31
Dilihat   3.2K

Nusantarakini.com, Jakarta –

Bagaimana mungkin 250 juta manusia dapat termakan tipu daya berkali-kali, tapi dapat dengan toleran dan nrimo menerima nasibnya? Bagaimana mungkin suatu bangsa dapat menikmati hidup penuh rekayasa dan diulik-ulik oleh elit-elitnya yang lalim dan pendusta, dan mereka berdiam diri dan tenang-tenang saja didustai secara berkesinambungan?

Inilah bangsa paling tabah di dunia di dalam mengalami hidup yang miris dan tidak masuk akal. Kekayaan alamnya dijarahi, tenaga-tenaga segarnya diperjual belikan di luar negeri, tanah dan airnya dirampasi hingga penduduknya tersingkir ke pinggir-pinggir, lalu sudah begitu dijadikan pasar-terpaksa yang bekerjasama antara asing dan elit-elit komprador yang kejam dan egois.

Ini bangsa sudah kehilangan kekuatan untuk tegak berdiri terhormat dan mandiri. Ini bangsa sudah layaknya kombinasi antara jongos, budak, kuli, centeng dan kawulo.

Sungguh parah mentalitas bangsa ini. Sudah tidak tahu mana masa depan, mana masa lalu. Sudah lenyap kata harapan dari pengalaman batin bangsa ini. Yang ada ialah pasrah dan menjalani apa pun yang terjadi dengan hidup masing-masing. Bertahan hidup, itulah hari-hari dari pengalaman batin pada umumnya rakyat dari bangsa ini.

Aku tidak ingin menggambarkan munafiknya, dekadennya, lalimnya para elit-elitnya. Karena mereka muncul seperti itu juga karena tiadanya tindakan memaksa ubah dari rakyat itu sendiri.

Para elit itu bertahta pada umumnya bermula dari tipu daya dan dusta. Ya…bagaimana mungkin harapan rakyat akan punya produk mobil sendiri, yang tadinya heboh dengan mobil esemka, tapi ternyata jadinya mobil wooling, milik RRC.

Malukah para elit itu menghadapi kenyataan tersebut? Tidak tuan-tuan. Malahan bangga. Malahan berpadu kerja dengan asing agar ide punya mobil produk sendiri tidak pernah wujud di Indonesia dan mengembangbiakkan bagaimana produk-produk asing dapat berkobar-kobar di atas nasib rakyat yang terperas pendapatan hariannya.

Itulah bangsamu, bangsa Indonesia: bangsa yang tragis di pentas dunia.

Akhirnya aku berkesimpulan mengapa nusantara dapat dijajah Belanda yang seupil itu. Tahu kenapa? Karena rakyatnya yang hobi menanggung tipu daya dan golongan elitnya yang egois, dekaden dan miskin rasa solidaritas dan prikemanusiaan. Itu semua memberi jalan bagi terjadinya penjajahan asing yang hakikatnya kerja kolaboratif antara asing dan elit-elit lokal yang jahannam.

 

~ John Mortir

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!