Nusantarakini.com

Satire

Sementara Perekonomian Amburadul dan Rakyat Menjerit Menderita, Indonesia Terisolasi dari Dunia yang Merdeka dan Berdaulat

Oleh Prof. Dr. Sri Bintang Pamungkas, Akademisi dan Mantan Anggota DPR.

Nusantarakini.com, Jakarta –

Tersebutlah dalam Biografi Wowok Prabowo Subianto yang menjadi Presiden RI sejak Oktober 2024, bahwa Wowok terlibat dalam Karakas Massacre (1983) di Timor-Timur, di mana 200 orang penduduk sipil terbunuh. Pada periode yang sama, sejak Perang Timor dimulai pada Desember 1975 sampai Januari 1999, ada 150 ribu penduduk terbunuh di Timor-Timur di mana Wowok terlibat secara aktif. Forum Internasional menyebutnya sebagai Genosida. Sekalipun Wowok tidak mengakui, tapi Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan Wowok terlarang menginjakkan kaki ke AS.

Melihat sejarahnya sejak kecil terbawa oleh Ayahnya yang menjadi pemberonntak lalu melarikan diri dan menjadi Warga Negara Inggris selama 10 tahunan sebelum kembali ke Indonesia dan masuk TNI, bagi saya Wowok telah mengalami berbagai gangguan jiwa dan kepribadian, yang mengakibatkannya menderita megalomaniak yang permanen. Meskipun begitu, Wowok yang oleh tokoh politik Subadio Sastrosatomo disebut sebagai Fasis atau Pembunuh Berdarah Dingin itu berhasil menjabat Menteri Pertahanan dalam Kabinet Wiwik Joko Widodo pada 2019 dan, bahkan, menggantikan Wiwik menjadi Presiden RI pada 2024… Tentu dengan cara-cara curang!

Indonesia yang sudah mengalami kerusakan Ekonomi sejak 2004, ketika UUD Palsu mulai dipakai oleh SBY menggantikan Pancasila dan UUD 1945 Asli, semakin hancur selama 20 tahun terakhir ini. Sumbangan Industri Manufaktur terhadap PDB menurun nyaris habis; tidak ada lndustri bermuatan Teknoligi Penghasil Devisa Negara; dari negara pengekspor minyak menjadi pengimpor 1 juta barel perhari untuk memenuhi kebutuhan energinya; pertumbuhan ekomomi ada di sekitar 4%, yang dinikmati hanya oleh para Oligarki Cina dan pejabat-pejabat, politisi dan penguasa yang kayaraya; sementara pemerataan tidak pernah disentuh; rakyat miskin meningkat menjadi 170 juta dari 280 juta jumlah penduduk; lapangan kerja menghilang, sementara pabrik-pabrik mulai gulung tikar.

Negara pun kehilangan likuiditas keuangannya. Kebijakan Fiskal dan Moneter selama 20 tahun tidak mampu mendongkrak ekomomi rakyat dari kemiskinan dan tidak pula mampu mempertahankan Nilai Rupiah yang terus menerus jatuh hingga mencapai 17.000 Rupiah per Dollar dari 2.250 pada 1997.

Pemborosan keuangan Negara akibat Proyek-proyek tak berguna dan Korupsi yang merajaleka, serta Utang Luar Negeri yang terus meningkat selama 20 tahun, berlanjut semakin merusak perekonomian di bawah Rezim Wowok-Gibran dalam 2 (dua) tahun terakhir ini.

Selain Wowok tergila-gila pada jabatan Presiden, dia juga tergila-gila untuk bisa kembali masuk AS, terakhir di Fort Bragg (North Carolina,1980) dan Fort Bennìng (Georgia, 1985) dalam Sekolah Militer. Wowok sendiri mengaku berpendidikan westernized. Begitu tergila-gilanya, sampai Wowok rela menyerahkan kehormatan dirinya serta kewibawaan Rakyat, Bangsa dan Negaranya kepada Donald Trump. Melalui kesepakatan Board of Peace yang diprakarsai oleh Trump, Wowok menempatkan Indonesia cenderung berpihak kepada Israel daripada kepada Palestina. Ini pertama kalinya seorang Presiden RI berpolitik yang yang mendukung “penjajahan di muka bumi” oleh Israel terhadap Palestina.

Tidak hanya itu, Indonesia juga dibawa Wowok dengan menyerahkan kedaulatannya dalam Perdagagan Internasional dengan AS melalui ART (Agreement On Reciprocal Tariff), atau Kesepakatan Tarif Timbal-Balik. Kesepakatan itu tidak saja akan menghancurkan perekonomian Indonesia yang diharuskan segalanya, termasuk bahan-bahan pokok dan minyak, diimpor dari AS dengan tarif Nol, tetapi segala kekayaan alam Indonesia termasuk Emas Freeport juga menjadi milik AS. Baik BOP maupun ART seakan telah berlaku tanpa persetujuan Rakyat di DPR.

Demikian pula yang terjadi dalam Perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat yang meletus pada 27 Februari yang lalu. Atas penutupan selat Hormuz oleh Iran sebagai balasan serangan Israel-AS ke Teheran itu, Wowok menuduh Iran bertindak “keras kepala” karena Kapal-kapal Tangker Pertamina ditolak melewati Selat Hormuz. Mungkin adalah wajar, apabila Indonesia dianggap “musuh” dalam Perang Iran melawan Israel-AS, sementara kapal Malaysia, Vietnam, India, Pakistan dan lain-lain bisa lolos.

Sebenarnya, SBY, Wiwik dan sekarang Wowok memang telah menjadi Boneka-boneka AS untuk menjauhi Iran. Sementara itu ratusan Agen Intelijen Israel dan para Pelobi AS pun sudah masuk ke Istana Negara untuk mempengaruhi dan mendukung politik Pro Israel-AS. Tawaran Presiden Ahmadinejad untuk membeli minyak Iran yang murah ditolak oleh SBY. Kapal Iran yang melewati Laut Cina Selatan pun ditangkap oleh Patroli Indonesia atas perintah Wiwik; kapal pun disita untuk dijual. Perilaku para Boneka AS tersebut menjadi alasan kuat bagi Pemerintah Iran untuk membalas dalam situasi Perang ini. Tidak heran pula Wowok yang termakan oleh isyu pro-Israel, mengingat ada darah Yahudi lewat keluarga ibunya, Dora Marie Sigar.

Perekonomian Indonesia akan menjadi sangat rapuh near collapse menghadapi harga minyak yang naik menjadi lebih dari 100 Dollar per barel. Kesulitan perekonomian ini dijadikan exit permit oleh Menteri Keuangan Yayak Purbaya yang mengindikasikan tidak tercapainya pertumbuhan 6% sebagaimana dijanjikannya, serta dususul dengan gejolak masyarakat menuntut Rezim Wowok-Gibran mundur, untuk kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 Asli. [mc]

Jakarta, 13 April 2026.
@SBP

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Copyright © 2015 Flex Mag Theme. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

To Top