Nusantarakini.com

Opini

Kotak Pandora Epstein dan Keretakan Intra Zionis?

Oleh Sahrul Efendi Dasopang, Pengamat Zionisme, Mantan Ketum PB HMI.

Kotak Pandora adalah metafora atas suatu rahasia yang terungkap berturut-turut dan mengubah persepsi. Awal dari istilah kotak pandora, berasal dari Yunani. Yaitu kisah tentang sebuah kotak, peti atau mungkin juga guci yang berisi semua kejahatan dan kesengsaraan dunia, dilepaskan karena rasa ingin tahu pada seorang dewi, bernama Pandora, tetapi juga menyisakan harapan di dasarnya. Kini istilah ini kerap digunakan menggambarkan masalah tak berujung yang muncul dari satu tindakan sederhana.

Kasus Epstein Files ini rasanya mirip kotak Pandora.
Kalau kita cermati potongan-potongan puzzle dari kasus Epstein yang terus terungkap dan meluas implikasinya dan tentunya telah menggegerkan dan mengguncang persepsi publik tentang kredibilitas elit-elit global, tersibak satu hal yang jarang ditelisik: bahwa ada persaingan dan perseteruan diam-diam antara barisan mendiang Epstein dan barisan Trump dalam penanganan terhadap masa depan Israel. Persaingan dua barisan ini telah menimbulkan keretakan yang mendalam sesama zionis di tengah pergeseran tatanan dunia. Mari kita lihat indikasinya.

Pertama, Donald Trump (Presiden AS saat ini) dan Benyamin Netanyahu (PM Israel saat ini) memiliki kesamaan pandangan dan orientasi terkait masa depan Israel, khususnya lagi bagaimana menangani dan menjamin masa depan Israel tersebut dari ancaman sekelilingnya, terutama dari Iran yang dihawatirkan mencapai kemampuan nuklir dan keberadaan Hamas yang mengendalikan wilayah Gaza. Bagi kedua sosok ini, menangani keamanan Israel dan eksistensi masa depannya mutlak memprioritaskan pendekatan keunggulan militer ketimbang pendekatan lunak. Ideologi pendekatan kekuatan di Israel disebut dengan Ideologi “Tembok Besi” atau Iron Wall. Pandangan ini menyatakan bahwa keamanan Israel hanya dapat dijamin melalui kekuatan militer yang tak tertembus, sehingga musuh putus asa dan menerima keberadaan negara Yahudi. Akar dari ideologi ini merujuk pada pandangan Ze’ev Jabotinsky yang pada masa permulaan dibentuknya negara Israel, telah mempengaruhi cara aksi militer di dalam Haganah (pasukan paramiliter). Yang lebih keras dan penuh teror yang kemudian keluar dari Haganah dan membentuk kelompok sendiri, yaitu Irgun. Di Irgun inilah gagasan Jabotinsky diterapkan.

Sejak awal, sebenarnya zionisme ini telah terbelah menjadi dua kelompok mainstream dan kuat, pertama, kelompok yang ekstrem dan keras, dan kedua, kelompok zionis yang agak lunak. Namun keduanya sama saja tujuannya, mendirikan negara Israel dan menjamin kelangsungannya di tengah ancaman sekelilingnya, terutama dari bangsa-bangsa Arab dan kaum Muslimin umumnya.

Pada Juli 2023, Perdana Menteri Benyamin Netanyahu menyatakan, “Seratus tahun setelah ‘tembok besi’ dicap dalam tulisan Jabotinsky, kita terus berhasil menerapkan prinsip-prinsip ini.” Jelas ini berarti Netanyahu merupakan pendukung gagasan Jabotinsky.

Setelah Netanyahu menerapkan pendekatan penghancuran secara militer terhadap Hamas di Gaza yang didukung sepenuhnya oleh Trump, segera kita melihat reaksi Ehud Barak (mantan PM Israel) sangat keras. Pada 17 Mei 2025, Ehud Barak melancarkan demonstrasi terhadap Netanyahu. Mantan perdana menteri Ehud Barak menyerukan “pemberontakan sipil” untuk menjatuhkan pemerintahan perdana menteri petahana Benjamin Netanyahu, yang menurutnya “bertindak impulsif seperti binatang yang terkurung dalam sangkar.”
https://www.timesofisrael.com/liveblog_entry/ex-pm-ehud-barak-calls-for-civic-revolt-against-netanyahu-who-is-acting-like-a-caged-animal/.

Kedua, Epstein dan Ehud Barak berada pada posisi bertentangan dengan Netanyahu – Trump. Dalam Epstein Files, memang Ehud Barak ikut juga diungkap rekaman wawancara antara Epstein dengan Ehud Barak, tetapi isinya adalah isu bagaimana mendatangkan kaum Yahudi secara besar-besaran dari Rusia ke Israel. Untuk tujuan itulah tampaknya, Epstein berusaha keras untuk bertemu Putin, tapi tidak berhasil.

Ketiga, sementara Ehud Barak tidak menunjukkan reaksi terhadap Epstein Files, sebaliknya Trump merasa sangat dirugikan dan dicemarkan. Trump nampak marah ketika diminta jawabannya oleh wartawan atas keterkaitannya yang mendalam dengan Epstein. Reputasi dan kredibilitas Trump jelas tercoreng di saat Trump berusaha menggolkan ide proyek Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang bertujuan mengamankan kelangsungan Israel sekaligus merekonstruksi Gaza yang hancur tanpa pelibatan otoritas di Gaza, yaitu Hamas.

Keempat, sikap dua tokoh populer Amerika, Zohran Mamdani dan Elon Musk, yang patut diperhitungkan untuk menganalisa hubungan Epstein Files dengan keretakan sesama zionis, dalam hal ini Trump – Netanyahu versus Ehud Barak.

Zohra Mamdani, seteru potensial dari Trump yang kini menduduki kursi Walikota New York, basis penting Yahudi di Amerika Serikat, dikenal dengan visi sosialis dan penentang politik Trump.

Zohra Mamdani, selain sebagai penentang Trump, juga memiliki kaitan dengan marga Epstein. Mantan suami ibunya Zohran Mamdani, bernama Mitch Epstein, bermarga sama dengan Jeffrey Epstein yang lagi jadi sorotan. Tentu saja seorang Yahudi. Mitch Epstein merupakan fotografer dan penulis Amerika. Artinya, Zohran Mamdani memiliki hubungan kekerabatan melalui ibunya, Mira Nair, walaupun sudah bercerai.

Sementara, ahli strategi Andrew Epstein, dalang kreatif kampanye Zohran Mamdani dalam merebut kursi Walikota New York, juga bermarga Epstein. Jika benar kalkulasi ini, marga Epstein memang tidak sejalan dengan visi Trump terkait Israel. Bukan tanpa kebetulan, jika Jeffrey Epstein memakai topi komunis dalam salah satu filesnya. Tampaknya hal ini mengindikasikan kecenderungan visi politiknya yang sosialis seperti halnya Ehud Barak dan juga Zohran Mamdani. Apakah ini menandakan bahwa Epstein lebih menyukai garis zionisme yang pro sosialis ketimbang zionis yang bersemangat perang dan penaklukan kasar seperti yang dianut oleh Netanyahu. Artinya, dengan terungkapnya files ini, sejatinya untuk mendelegitimasi Trump, dan buntutnya melemahkan kekuatan dukungan terhadap proyek politik dan perang Netanyahu di Timur Tengah.

Sebagaimana yang diketahui, Epstein meninggal pada tahun 2019 di sel penjara Manhattan saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Kematiannya dinyatakan sebagai bunuh diri, tetapi keadaan kematiannya tetap kontroversial. Tuduhan keterlibatan intelijen—mulai dari CIA hingga Mossad—telah lama beredar, tetapi laporan terbaru dari Daily Mail menambahkan klaim spesifik tentang koordinasi dengan intelijen Rusia.

Kelima, Elon Musk walaupun termuat dalam Epstein Files, justru dia mendorong supaya lebih banyak whistleblower yang bersaksi terkait Epstein Files. Elon Musk berjanji akan membayar semua biaya legal korban Jeffrey Epstein yang bersuara. Melalui platform X (yang juga miliknya), Musk memberikan tanggapan terhadap unggahan komentator konservatif Matt Walsh yang mempertanyakan mengapa para korban Epstein tidak menyebutkan nama terduga pelaku pelecehan mereka secara publik.

Elon Musk memang pada awalnya mendukung Trump, tapi belakangan keluar. Tentu saja, sikap Elon Musk ini menambah kekuatan publik yang ingin mengungkap kejelasan kasus Epstein Files dan khususnya keterlibatan Trump. Otomatis legitimasi Trump makin terkikis.

Penulis melihat, kasus yang telah berdampak luas ini, mulai dari guncangan pada pemerintahan di Inggris di mana PM Inggris ditekan mundur sekalian, dicabutnya gelar kebangsawanan Andrew Albert Christian Edward Mountbatten-Windsor, mundurnya Mandelson dari keangotaan Partai Buruh di Inggris, angkat suaranya Noam Chomsky, dan sebagainya, ada hubunganya dengan keretakan di kalangan zionis menyangkut masa depan Israel dan cara menangani kelangsungannya. Termasuk dalam hal ini, Board of Peace besutan Trump sebenarnya menyangkut masa depan Israel yang lebih terjamin.

Orang-orang seperti Ehud Barak dan mungkin para pihak yang mengungkap ke publik Epstein Files ini, tidak menyukai pendekatan Netanyahu dan Trump yang terkait kelangsungan Israel. Oleh karena itu, legitimasi Trump perlu dihancurkan dan Trump perlu ditekan untuk tidak mendukung Netanyahu dengan proyek perangnya melalui pengungkapan Epstein Files ini. Ehud Barak di antara zionis yang bertolak belakang dengan Netanyahu. Dahulu padanannya adalah antara Yitzhak Rabin dengan Shimon Peres atau Ariel Sharon.

Jika kesimpulan ini benar, bahwa ini sebenarnya pertentangan visi sesama zionis, lalu mengapa Indonesia ikut-ikutan dalam blok Netanyahu – Trump pada proyek Board of Peace? Yah…barangkali karena kurang peka atau memang terdapat kesesuaian visi. [mc]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Copyright © 2015 Flex Mag Theme. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

To Top