Opini

Mengapa Baru Sekarang RK Masuk Parpol?


23 January 2023, 14:25
Justino Djogo, Direktur Eksekutif Forum Dialog Nusantara (FDN)
Dilihat   144

Oleh Justino Djogo, MA.MBA., Direktur Eksekutif Forum Dialog Nusantara

NUSANTARAKINI.COM – Meskipun tidak spektakuler, namun cukup menimbulkan banyak teka-teki, terkait masuknya Ridwan Kamil (RK) atau lazim disapa Kang Emil ke Golkar pekan lalu di tahun penuh ketidakpastian pencapresan. Khususnya bagi Golkar, dalam hal ini Ketumnya, Airlangga Hartanto (AH) yang masih jauh dari batas ‘optimisme’ elektabilitas agar Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) mencapreskannya memunculkan beberapa catatan. Namun demikian, memang hasil survey bukan acuan utama bagi penentuan pencapresan.

Momen RK langsung diberi karpet merah menjadi Waketum Golkar, tentu ini sebuah kejutan bagi publik, namun juga bisa jadi tanpa sadar menimbulkan ketidaknyamanan internal Golkar. Terkait kaderisasi dan slogan ‘sakral’ Golkar yakni PDLT.

Hal ini bukan tanpa alasan, karena ada contoh terbaru adalah adegan loncat indah abang Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, mantan Gubernur NTB 2 periode, yang berlabuh di parpol lain, padahal baru diberikan jabatan tinggi di Golkar belum genap 2 tahun.

Ini memang hak setiap orang untuk masuk keluar partai. Tidak dilarang berbuat seperti bang TGB dan tokoh lainnya. Seperti ada kekhawatiran, suara yang penuh tanda tanya, dan bergumam, “Mestinya biarkan RK masuk Golkar tanpa karpet merah dan jabatan Waketum karena di tahun -tahun belakangan ini kader militan Golkar dari DPP sampai DPD sudah berjibaku memperjuangkan bendera Golkar agar makin berkibar dan menaikan elektabilitas figur Ketumnya untuk pencapresan 2024”.

Kalaupun itu hanya sebatas seremoni penerimaan karena RK adalah tokoh birokrat dan Gubernur Jabar, ya itu sah-sah saja. Tetapi, tidak langsung diberi jabatan Waketum. Ini pun tidak salah karena elit Golkar sudah mempertimbangkan ketokohannya RK dengan jabatan yang langsung disematkan kepadanya di detik ketika RK diumumkan menjadi kader Golkar. Lumayan tidak lazim, tapi inilah politik.

Namun, apakah RK nanti membawa kenaikan elektabilitas bagi pencapresan Ketum AH, dan menambah kantong suara Golkar? itu seperti jauh pangggang dari api dan akan kita saksikan di beberapa bulan yang akan datang.

Bisa saja RK sangat yakin dengan keberhasilannya menjadi Walkot Bandung dan Gubernur Jabar. Ini pula yang membuat Golkar menaruh harapan besar di punggung beliau. Namun ketokohan RK sebagai Gubernur Jabar tidak serta merta paralel akan mendongkrak elektabilitas Ketum Golkar dan menambah kantong suara Golkar. Bahkan, muncul celetukan dikhawatirkan bahwa justru nanti elektabilitas RK-lah yang terus menanjak dan bisa saja menjauhi ketumnya sendiri.

Apakah para elite Golkar tidak berprediksi seperti ini? Jika ini terjadi maka masuknya RK tidak berdampak signifikan bagi Ketum Golkar. Namun, dari perspektif positif, masuknya RK justru akan meramaikan bintang baru di panggung politik elit Golkar.

Ada alternatif jika terjadi kebuntuan mencari tokoh internal Golkar untuk disandingkan dalam suksesi kepemimpinan nasional kelak. Lebih mulia lagi adalah sikap negarawan Ketum AH yang menerima dengan lapang dada RK, meskipun dari kalkulasi riil politik, RK adalah kompetitor Ketum Golkar.

Tapi, mari kita menatap sejenak riak politik di tahun 2023 yang sangat dilematis bagi parpol dan pimpinannya. Kalau mengamati latar belakang RK yang berpikir sangat pragmatis, ini adalah kekhasan sebagai insinyur dan teknokrat birokrat pada umumnya. Karena itulah mengapa RK baru mau masuk parpol bernama Golkar. Pragmatis karena memang persis di tahun politik yang sedang menimang capres dan cawapres. Bagi RK, walikota dan gubernur sudah diarungi, kenapa tidak yang lebih tinggi lagi? Minimal menjadi menteri di 2024.

Jika ternyata sampai April 2023, misalnya, hasil survey elektabilitas Ketum AH masih di urutan buntut dari kompetitornya dari parpol lain, apakah Golkar akan memecatnya karena di awal pernyataannya berjaket kuning? RK bersuara tegas dan nyaring bahwa RK akan berjuang menyukseskan pencapresan ketumnya AH. Tidak mungkin memecat RK.

Karena, kita tidak bersandar pada hasil survey, namun tetap saja konstelasi politik jaman sekarang sudah sangat melekat dengan rekomendasi hasil survey. Kalau demikian, maka yang diuntungkan adalah RK, dia bisa jadi bintang baru di Golkar di panggung para elit berbarengan Ketum AH, Zainudin Amali, Ilham Habibie, Ahmad Doli Kurnia, Agus Gumiwang Kartasasmita, Jerry Sambuaga, Dave Laksono, Muhammad Misbakhun, dan lain-lain. Target Golkar bisa saja meleset dalam menempatkan ketum AH sebagai capres, namun mungkin saja target RK utk menjadi menteri atau bahkan cawapres bisa jadi kenyataan melalui Golkar.

Tentu saja Golkar bersyukur jika RK malahan yang menjadi Cawapres atau menteri kelak di 2024. Karena RK sudah menjadi kader Golkar yang diberi karpet merah, meskipun baru seumur jagung di Golkar.

Patut dicatat, Jabar adalah pemilih paling banyak di negara ini. Bukan tidak mungkin ternyata elektabilitas RK melampaui jauh Ketum Golkar maka ramai-ramai parpol lain melirik RK sebagai kader Golkar. Prediksinya, secara logis, RK mau masuk Golkar bukan utama untuk diusung menjadi Gubernur Jabar lagi karena dari Walkot Bandung dan Gubenur Jabar, RK tak perlu masuk parpol mana pun.

Sehingga kuat dugaan RK sengaja masuk Golkar atau dirayu masuk Golkar untuk target alternatif yang lebih tinggi menjadi menteri atau bahkan cawapres dari Golkar. Tentu ini disadari dan sudah dikalkulasikan dengan baik oleh Ketum AH dan bahkan mungkin saja Pak Jokowi. Karena Pak Jokowi menurut khalayak publik selama ini pada pendirian ingin Ganjar Pranowo menjadi Capres, meskipun tidak melalui PDIP dengan kans terbesar cawapresnya dari Golkar, misalnya, tentu saja sebagai parpol terbesar setelah PDIP.

Jika PDIP tidak mencalonkan Ganjar maka pak Jokowi bisa saja memanfaatkan KIB untuk meng usung Ganjar sbg capres dan wakilnya dr Golkar, atau PPP atau PAN. Meskipun, PPP dan PAN saat ini terindikasi ragu mencalokan ketum AH menjadi capres KIB maka bisa saja mereka sepakat merestui RK sebagai cawapresnya. Toh, Golkar tetap berbesar hati, meskipun ketum AH tidak menjadi capres atau cawapres tetapi bintang baru RK sudah barjaket kuning.

Mungkin saja analisa diatas melenceng, tetapi dugaan kita tentu tidak jauh-jauh amat dari situ.

Maka dengan begitu, dapat disimpulkan, bisa saja secara ekstrem dikatakan bahwa RK masuk Golkar sulit mendongkrak elektabilitas pak Ketum, tetapi dirinya sendiri. Masuknya RK dengan karpet merah tanpa keringat menimbulkan ketidaknyamanan internal walaupun tidak kelihatan dan tidak terungkap.

RK dengan cara ini sangat diuntungkan bukan bagi Ketum, namun untuk menambah perolehan suara Golkar di Jabar, mungkin saja terjadi walaupun belum bisa dikatakan RK menjadi jaminan bagi kenaikan elektabilitas Ketum AH dan Golkar.

Di sisi lain, publik menilai kenegarawan ketum AH menerima RK yang seyogyanya adalah kompetitornya. AH tidak semata berorientasi pada kekuasaan, tetapi pada eksistensi Golkar di panggung politik negara ini, Indonesia.

Selamat memasuki tahun politik 2023 yang penuh strategi namun harus mengedepankan suasana persaudaraan dan solidaritas keIndonesiaan.

Selamat bernaung di bawah pohon beringin dalam suka dan duka Golkar ya Kang Emil.

 

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!