Tausiah

Rezeki vs Gaji


17 January 2023, 12:47
Dilihat   130

Nusantarakini.com, Manhattan City – 

“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (rezeki sebagian). Sesungguhnya Dia tentang hamba-hambaNya Maha Melihat lagi Maha Mengetahui” (Al-Isra: 30).

Itulah salah satu firman Allah dalam Al-Quran dalam menyikapi pembagian rezeki di antara hamba-hambaNya. Bahwa Dia Allah “Yang Mencipta (khalaqa) Yang merancang (sawwa) Yang menentukan (qaddara) dan memberikan petunjuk (hadaa). (Al-a’la: 2-3). Sebuah penekanan bahwa dari penciptaan dan segala yang terkait dengan kehidupan manusia terpusat dalam satu komando. Yaitu komando “Dia Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi” (Al-a’la: 1).

Beragam ayat maupun hadits yang menyebutkan tentang rezeki dan kehidupan manusia. Di antaranya adalah ayat-ayat yang mengharuskan bagi orang-orang beriman untuk “menafkahkan sebagian dari apa yang telah direzekikan kepadanya” sebagai bagian dari karakter ketakwaan (lihat Al-Baqarah 1-5).

Hanya saja ada kekeliruan dalam memahami arti rezeki. Seringkali dipahami sebagai sekedar “finansial income” (pemasukan keuangan). Bahkan lebih sempit lagi ketika dipahami rezeki itu seolah hanya gaji rutin (bulanan misalnya) seseorang.

Kekeliruan dalam memahami arti rezeki dengan batasan gaji tentu memiliki konsekwensi yang cukup parah. Pertama, membatasi karunia Allah yang tiada batas. Kedua, kemungkinan membatasi diri sendiri dalam mensyukuri karunia Allah yang begitu luas.

Oleh karenanya yang pertama harus disadari adalah bahwa sifat Allah dalam memberi rezeki itu pada umumnya dieskpresikan dengan “Ar-Razzaq” atau “Yang Maha Pemberi rezeki secara berlebihan dan terus menerus”. Di dalam kaedah bahasa Arab bentuk kata seperti ini disebut bentuk “tafdhiil” (melebihkan). Menunjukkan bahwa Allah itu memberian rezekiNya secara terus menerus sehingga sejatinya dirasakan dengan perasaan “Qana’ah” (berkecukupan).

Kesadaran lain yang harus dibangun dalam menyikapi rezeki adalah bahwa pembagian rezeki secara kwantitatif itu merupakan hak prerogatif Allah SWT. Bukankah memang Allah “memberikan rezekiNya kepada siapa yang Dia kehendaki” bahkan “di luar batas kalkulasinya” (lihat misalnya Al-Baqarah: 212).

Suatu ketika Umar RA menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari yang isinya: “dan belajarlah puas dengan rezeki dalam kehidupan duniamu. Karena sesungguhnya Yang Maha Rahman (Allah) melebihkan sebagian di atas sebagain manusia dalam rezeki. Allah timpakan ujian pada masing-masing (yang banyak atau yang sedikit). Maka Dia (Allah) menguji siapa yang dikarunia rezeki lebih untuk mensyukurinya dan bagaimana menggunakan karunia itu secara baik dan benar (diriwayatkan Ibnu Hatim).

Dari sinilah kemudian yang harus disadari pula adalah pentingnya menghindari perasaan “tidak enak” dengan karunia lebih yang Allah berikan kepada orang lain. Dalam bahasa agama menyadari tentang rezeki secara benar dan proporsional akan menghindarkan kita dari penyakit yang super berbahaya “hasad”.

Itu sesungguhnya yang diingatkan dalam Al-Quran: “Dan jangan berangan-angan dengan apa yang Allah telah lebih antara satu dengan yang lain di antara kalian”. Tapi baiknya fokus saja “meminta kepada Allah kelebihan atau keutamaanNya. Tentu dengan kesadaran bahwa “Allah itu Maha mengetahui segala hal” (An-Nisa: 32).

Jika hal-hal di atas disadari maka berbagai permasalahan hidup dan dosa dapat terhindarkan. Satu, kegagalan mensyukuri karunia karena salah memaknai arti rezeki. Dua, terbangunnya kesadaran hakiki dan benar tentang karunia rezeki Allah, yang mengantar kepada “Al-Qana’ah” atau rasa puas yang sejati. Tiga, tidak membangun perasaan “tidak enak” (hasad) dengan karunia yang Allah berikan kepada orang lain. Karena yakin jika sunnatullah dalam pembagian rezeki itu memang “ada yang dibukakan dan ada yang sebaliknya” (يبسط و يقدر).

Dengan kesadaran tentang rezeki seperti itu manusia akan menjalani hidupnya dengan penuh lapang dada, kepuasan, ketenangan dan kebahagiaan. Manusia seperti inilah yang akan kuat, stabil, dan tegar dalam menjalani kehidupan. Jauh dari prasangka-prasangka, baik pada orang lain, diri sendiri, apalagi kepada Allah SWT.

Ingat, gaji itu rezeki. Tapi rezeki bukan hanya gajimu!

Manhattan City, 16 Januari 2023

*Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation. [mc]

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!