Opini

Tinggalkan Debat, Fokus Pada Tujuan


4 December 2022, 5:36
Anies Baswedan (Foto: FB Anies Baswedan)
Dilihat   213

NUSANTARAKINI.COM _ Kita terkadang menghabiskan banyak waktu untuk mencoba meyakinkan seseorang bahwa pendapat mereka salah. Tapi, alih-alih percaya, lawan bicara kita justru menolak keras.

Pada akhir debat, kita dihadapkan pada kebuntuan yang sama dengan yang dialami di awal dan hubungan itu mungkin merasakan ketegangan.

Mengapa begitu sulit meyakinkan orang lain untuk berubah pikiran?

Ini adalah pertanyaan yang membuat orang bingung selama ribuan tahun, terutama dalam pembahasan politik.

Mudah menjelaskan fakta melalui data hingga mulut berbusa, namun belum tentu orang lain akan memercayainya. Mereka berani membantahnya dengan sesuatu yang dianggap konyol. Padahal, dengan kemudahan teknologi, semuanya bisa dicari dengan bantuan Google.

Ini bisa terjadi dalam debat di media sosial khususnya. Istilahnya adalah kesalahan logika (logical fallacy). Yakni argumen yang cacat, menipu, atau salah yang dapat dibuktikan melalui penalaran.

Dalam politik misalnya, kesalahan ad hominem (hominem fallacy) dilakukan oleh haters. Mereka menggunakan serangan pribadi, bukan logika. Kekeliruan ini terjadi ketika seseorang menolak atau mengkritik sudut pandang lain berdasarkan karakteristik pribadi, latar belakang etnis, penampilan fisik, atau sifat lainnya yang tidak relevan.

Argumen ad hominem ini sering juga disebut dengan mudslinging. Mereka dianggap tidak etis karena politisi dapat menggunakannya untuk memanipulasi opini pemilih terhadap lawan tanpa membahas masalah inti.

Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Rasyid Baswedan agar para relawan pendukungnya di Pilpres 2024 tidak menjadi pemecah belah bangsa nantinya. Anies menyarankan, agar semua pendukungnya itu tidak menghina atau menjelekkan siapa pun.

Anies tahu betul bagaimana cara kerja politik saat ini. Bahkan, selama menjabat sebagai Gubernur, Anies tidak pernah terdengar marah atas hinaan yang disematkan kepadanya. Sebab, Anies memahami tahu betul, kemarahan dapat memancing emosi dan merunyam segalanya.

Mungkin kita masih ingat betul, saat pagelaran Formula E dilaksanakan. Di mana para buzzer menyerangnya habis-habisan. Tapi, Anies meresponnya dengan tenang. Semuanya dia buktikan dengan hasil untuk membungkam para pembencinya.

Tak pernah Anies meladeni debat yang tidak perlu. Dia hanya melayani warga, tanpa perlu sorotan kamera. Sehingga, orang-orang akan melihatnya sendiri.

Apa yang dipraktekkan Anies ini, diharapkan dapat menular. Kita perlu menyadari juga, kebencian yang sudah mendarah daging, sulit untuk dilenyapkan. Namun, dengan berdebat dengan para pembenci, itu tidak akan mengubah pandangannya. Terutama, ada pihak-pihak yang memang dibayar untuk itu.

Perjalanan Anies masih panjang. Dengan dukungan relawan, seperti yang disampaikan Anies sebelumnya. Ini bukan tentang Anies, tapi ini tentang masa depan Indonesia. Bukan tentang satu orang, tapi tentang satu generasi. Ini adalah masa depan yang kita perjuangkan, Indonesia yang lebih baik.

Seperti yang dikatakan Imam Abu Hamid Al Ghazali, berdebat pada perkara khilafiyah (perkara yang mengandung ragam pandangan) itu berbahaya dan buruk. Karena ini memunculkan sikap mencari-cari kelemahan lawan.

Bagi pihak pendukung, mari mulai menghindari debat khususnya apabila kita tahu orang itu bekerja sebagai buzzer. Tak perlu meladeni mereka. Fokus saja pada sosialisasi untuk menjadikan Anies sebagai Presiden 2024.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!