Pendidikan

Hadiri Seminar ESG di Seoul, Rektor UICI Jadi Pembicara Kunci


1 December 2022, 9:33
Dilihat   128

NUSANTARAKINI – Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin menjadi pembicara kunci dalam seminar ESG di Seoul, Korea Selatan, Selasa (29/11/2022).

Dalam kegiatan yang berlangsung di gedung parlemen Korea Selatan itu, Prof. Laode menyampaikan materi dengan tema ESG: A Framework to Achieve Sustainability.

Prof. Laode mengatakan ESG merupakan kerangka kerja yang membantu pemangku kepentingan untuk memahami bagaimana organisasi dapat mengelola risiko dan peluang yang terkait dengan kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola.

“ESG ini mengambil pandangan menyeluruh mengenai keberlanjutan yang melampaui masalah lingkungan,” kata Prof. Laode.

Kriteria lingkungan ini, menurut Prof. Laode, mengacu pada dampak terhadap lingkungan dan praktik manajemen risiko.

Hal ini termasuk emisi gas rumah kaca langsung dan tidak langsung, pengelolaan sumber daya alam, dan ketahanan keseluruhan perusahaan terhadap risiko iklim, seperti perubahan iklim, banjir, dan kebakaran.

Prof. Laode menjelaskan pilar sosial mengacu pada hubungan organisasi dengan pemangku kepentingannya. Ia menyebut faktor yang dapat diukur oleh perusahaan termasuk manajemen sumber daya manusia.

“Selain itu juga dampak organisasi terhadap komunitas tempatnya beroperasi dan mitra rantai pasokan, khususnya ekonomi berkembang di mana standar lingkungan dan tenaga kerja mungkin kurang kuat,” imbuh Prof. Laode.

Selanjutnya, Prof. Laode mengungkapkan tata kelola kepemimpinan mengacu pada bagaimana sebuah perusahaan dipimpin dan dikelola.

“Analis ESG akan berusaha untuk lebih memahami bagaimana dorongan kepemimpinan diselaraskan dengan ekspektasi pemangku kepentingan, bagaimana hak pemegang saham dilihat, dan jenis kontrol internal apa yang ada untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas kepemimpinan tersebut,” ucap Prof. Laode.

Lebih lanjut, Prof. Laode mengatakan bahwa pada tahun 1980-an di Amerika Serikat, organisasi-organisasi mempertimbangkan bagaimana menggunakan peraturan untuk mengurangi produksi polusi dalam mengejar pertumbuhan ekonomi.

Mereka juga berusaha untuk meningkatkan standar tenaga kerja dan keselamatan karyawan, meskipun masih banyak kemajuan yang harus dicapai hingga saat ini.

Pada 1990-an, EHS berkembang dan menjadi apa yang kemudian dikenal sebagai gerakan keberlanjutan perusahaan.

“Ini muncul karena beberapa tim manajemen ingin fokus pada pengurangan dampak lingkungan perusahaan mereka di luar pengurangan yang diwajibkan secara hukum,” lanjut Prof. Laode.

Menurut Prof. Laode, hal ini disepakati secara luas bahwa keberlanjutan perusahaan sering digunakan oleh tim manajemen sebagai alat pemasaran untuk melebih-lebihkan atau salah dalam menggambarkan upaya dan dampak lingkungan.

“Praktik yang kemudian dikenal sebagai greenwashing, yaitu pernyataan atau klaim palsu, tidak berdasar, atau benar-benar menyesatkan tentang keberlanjutan,” ucap Prof. Laode.

Pada awal 2000-an, lanjut Prof. Laode, gerakan keberlanjutan perusahaan mulai mengintegrasikan gagasan tentang bagaimana perusahaan harus menanggapi masalah sosial yang kemudian dikenal tanggung jawab sosial perusahaan.

“Filantropi perusahaan adalah komponen kunci dari CSR. Kesukarelaan karyawan adalah tanda lain dari CSR,” ungkap Prof. Laode.

Selanjutnya pada akhir tahun tahun 2000-an hingga memasuki tahun 2020-an, ESG mulai muncul sebagai gerakan yang jauh lebih proaktif, bukan reaktif.

ESG kini telah berkembang menjadi kerangka kerja komprehensif yang mencakup elemen kunci seputar dampak lingkungan dan sosial, serta bagaimana struktur tata kelola dapat diubah untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham.

Investasi ESG penting untuk menyaring investasi berdasarkan kebijakan perusahaan dan mendorong perusahaan untuk bertindak secara bertanggung jawab.

 

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!