Analisa

Jangan Bangga Dulu  Diteriaki  Presiden !


18 April 2022, 14:23
Anies saat berada di Masjid Kampus UGM
Dilihat   112

Oleh:  Mbah Dharmo MC*

NUSANTARAKINI.COM-Mengikuti taraweh di Masjid kampus UGM  terasa hinggar bingar dari sorenya. Bahkan baru masuk gerbang seorang panitia langsung menyambut kami dengan ucapan sopan” Maaf pak kuponya takjilnya habis “

“Oh ya mas gak papa !” Jawab saya, berusaha tegar meskipun rada ggrundel, karena ini menandakan kami tidak kebagian takzil untuk berbuka.  Yah Nasib !

Tapi hal ini sangat logis. Karena memang jamaah yang hadir berjubel dan nambah terus.  Yah nasib kami dua keluarga kecil dari Solo, yaitu keluarga saya dan keluarga mas Wahyu Haryadi alumni pertanian UGM. Harus rela duduk duduk saja di taman air mancur sembari menunggu berbuka . Alhamdulillah ketemu mas Wahyu yang lain, ketua rombongan Jarnas Magelang beserta ibu ibu anggotanya. Alhamdulillah kami diberi air mineral secukupnya untuk berjaga bila waktu berbuka tiba.Sebelum waktu buka tiba  saya dengan mas Wahyu Hariyadi  berinisiatif cari gorengan dan snack apa adanya saja sekedar buat iftor. Muter muter eh dapetnya di lapangan timur SGPC yang legend itu. Oh ternyata Bazar makanan pindah disana.

Akhirnya adzan magrib pun dikumandangkan : ” Allahuakbar…allahuakbar.!!”…… Dull, buka puasa seadanya. Sembari melihat kiri kanan yang makan paket berbuka dengan kardus mewah . Enak kayaknya hehe. ” Makan beratnya nanti saja ya dik, soalnya kalau kita keluar dari komplek masjid UGM ini takutnya gak dapat tempat  sholat tarawih  nantinya. Penuh !Gak bisa mendengar ceramah Pak Anies Baswedan”

Meski agak lemes lemes semuanya sepakat, meski anak anak mukanya terlihat terpaksa. Rasa terpaksa terobati manakala habis sholat magrib mereka bermain berlarian di taman masjid yang super luas itu.

Sembari menunggu  sholat isya, sayapun ngapling tempat sholat duluan, karena takut nggak kebagian itu. Duduk dari awal tidak bergeser kemana mana. Sebelum Adzan dikumandangkan seorang panitia menyampaikan bahwa bapak Gubernur DKI akan menyampaikan cermahnya  nanti setelah sholat taraweh. ‘  ” Dan kami mohon  jamaah sekalian tidak membentangkan spanduk ya !!” Pengumuman ini malah sontak membikin tawa sebagian besar jamaah yang hadir  secara spontan” mungkin jamaah keingat taraweh tempo hari, ada penceramah yang disambut spanduk: “Save Wadas”, pas yang ceramah mas alumni UGM juga. Hehe

Adzannpun dikumandangkan muadzin. Fasih  Persis suara Adzan ala arab saudi yang saya lihat di televisi. Jamaah tambah banyak sampai meluber di halaman masjid yang luas dan indah itu. Selanjutnya kami sholat isya dan taraweh. Lantunan bacaan sang imam yang merdu dan tartil membawa ke suasana masjidil haram (saya bisa merasakknya meski belum pernah kesana lho. Ampuh tho? Tipi bro!) Sholat diiringi bacaan bacaan sholat imam yang saya hampir nggak hapal. Nggak panjang sih tapi kayaknya ayat ayat spesial sang imam yang letaknya ditengah tengah alquran, kecuali alfatihah dan surat pendek qulhu, annas dan alfalaq dibagian akhir sholat witir saya hafal banget.

Setelah seluruh rangkaian sholat berakhir, anakku menyusul aku, bersama jamaah yang lain yang diluar meringsek ke depan. ” Mana Mas Anies nya Pak ?” Tanya anakku Hugo yang baru kelas 4 SD itu . ” Itu loh di mimbar, kalau kurang besar itu ada layar tipi !” Jawab saya sambil menunjuk mimbar dan layar televisi

 ” Oh iya”  saut Hugo Antusias.

Susana sedikit hening awalnya, Saya menunggu jurus apa yang dikeluarkan Mas Anies diawal ceramahnya. Dia menyatakan bahwa mahasiswa UGM saat ini sangat beda sekali dengan yang dulu. Dulu kesannya Ndeso sekarang ikut jamaah tarawih saja mobil berjajar, katanya.

 ” Dulu saya dapat undangan dengan beberapa kawan untuk ngisi pelatihan ke Kalimantan naik pesawat saja masih sesuatu yang mewah. Hingga pada saat transit di Surabaya ada kawan yang nggak mau turun pesawat, kirain apa, eh ternyata  karena…. nggak bisa buka sabuk pengaman atau seatbelt. !”  Guer hehe !!!Itu kata pertama  setelah iftitah terjadi, suasana sontak berubah jadi cair dan semangat.

Sebelumnya guyonan mas Anies awali cerita lama, ketika kawan kawan mahasiswanya kala itu tidak bisa atau belum tahu membedakan kata : antara freenfreis dan kentang goreng ketika jajan di KFC (dikira beda padahal sama hehe). Juga ketika ditanya pesawatnya sudah  take off apa landing?  Yang dijawab ” pokoknya dah berangkat naik pesawat !”

Nggak tahu kenapa disetiap mengikuti ceramah seseorang, disamping topik utamanya, saya selalu mendengarkan dengan seksama,  humor leluconya.  Berapa kali dan bagaimana tehniknya, itu penting bagi saya.

‌ABW termasuk pembicara yang punya seins of humor tinggi. Malam itu beberapa kali gerr terlontar dari mulut beliau. Kalau menurut teorinya orang stand up comedy,  pasle nya, banyak Fresh juga sih bagi kami dan  nggak rugi jauh jauh dari Solo .

Menurut Mas Lukman Hakim Hasan,ketua Jaringan Nasional  (JArnas) Anies Baswedan,  mas Gub ini jago bikin joke . ” Wong waktu di Solo pak Jokowi saja ketawa terus kalau mendengar joke joke mas Anies.” Kata Mas Lukman kepada saya

‌Malam itu selain menceritakan temanya waktu mahasiswa yang nggak bisa buka seatbelt itu ABW juga bilang bahwa per oktober besuk dia resmi  selesai dari jabatan gubernur. ” Tenan mas, ora nambah meneh lho” kata dia dalam logat jawa ini langsung disambut gerr  penonton lagi. Entah maksudnya apa coba dengan kata : ora nambah (?) tapi saya yakin jamaah dan ABW  tahu sama tepe eh tahu hehe

‌Kemudian Anies Baswedan berusaha mengingat jaman kuliah. Menurutnya ada berbagai jenis mahasiswa.

‌1. Mahasiswa yang sregep ikut seminar dan kegiatan, ini itu, tapi seolah persoalan selesai disitu. ” Njuk jane yo ora ngopo ngopo mas ” katanya hehe

  1. Mahasiswa yang taunya hanya kuliah tok til. Atau sering kita sebut diktaktor. Karena rujukannya hanya buku diktat tok. Bahkan buku yang lain saja tidak punya malah(mesti ora tau ning shoping kuwi mas) hehe
  2. Mahasiswa yang sangat spiritualis tapi kadang melupakan yang lain. Bahkan tingkat keimanan bisa diukur dengan letak ujung celananya.

Kalau aku boleh nambahi sebenarya masih seabreg jenis mahasiswa, misalnya mahasiswa tukang numpang kos, mahasiswa perayu yang selalu ditolak  cewek dan yang paling trend mahasiswa abadi. Ciri ciri mahasiswa abadi adalah selalu menghindar ketika ditanya :” kamu sudah  semester berapa ?” ( Hayo kalian dulu masuk kategori yang mana ?) Wkk

Ok selanjutnya Agak serius nih. Bahwa dalam melakukan gebrakan pembangunan di DKI mas  ABW, melakukan perubahan paradigma, tidak waton kerja, tapi ada tiga tahapan dalam menggulirkan program kerja. Pertama Gagasan, kedua  Narasi, baru yang ketiga : Kerja ” ..jadi begitu kawan kawan !”  Gak tau kenapa, Tiba tiba banyak jamaah yang tertawa, mungkin lagi membandingan dengan slogan yang hanya :  kerja kerja kerja  (hehehe au ah elap)

‌Contoh langkah ini adalah dalam mengurai kemacetan di Ibukota Jakarta. Nah salah satu pangkal kemacetan adalah : banyaknya kendaraan, pribadi,  banyaknya angkutan umum yang kurang layak dan sering berebut penumpang dan ngetem sembarangan. Dan satu lagi kurangnya jumlah trotoar untuk pejalan kaki serta jalur sepeda. Maka mas Anies dan Tim DKI merubah paradigma dengan mengintegrasikan antar semua moda transpotasi itu. Dengan merubah paradigma. Yang pertama trotoar diberi prioritas dulu, kemudian sepeda, Nah stresing utamanya pada angkutan umum. Angkutan umum di buat senyaman mungkin, mobil.  Disediakan baru dan ber AC.   Angkutan umum dibayar oleh pemda DKI berdasarkan jam edarnya. Jadi mereka nggak  sibuk ngetam berebut penumpang lagi. Dan semuanya ngelink satu sama lain , juga dengan KRL, Jadinya gak usah bingung lagi habis ini naik apa atau antri dimana. Konon hal inilah telah mengurangi banyak kemacetan karena tidak terlalu antri dan seterusnya. ( Saya sih percaya mas)

Dua hal menyolok persoalan di DKI  menurut saya adalah macet dan Banjir. Macet sedikit banyak telah diatasi. Banjir ? Alhamdulillah juga tanpa pawang  seperti di Mandalika hujan maupun banjir di DKI zamannya mas Anies bisa teratasi dengan konsep sumur resapan. Klop sudah . Jadi gimana ?  Kongkritkan ?! (Maaf Mas meskipun banjir bisa dikendalikan ternyata yang tidak bisa dikendalikan adalah hujan kritik kepadamu Mas Anies, dari orang orang yang kerjanya memang ngambil spesialis ngritik. Mending kalau kritik, ini bully bro hehe)

Setelah rangkaian ceramah romadan  yang cukup menyegarkan dan menGGeerkan. Nampaknya jamaah tidak langsung beranjak pergi. Awalnya ada suara suara gak jelas ditelinga saya, lama lama.. suara itu makin jelas, bahkan semacam teriakan harmonis .: ” Presiden….Presiden….presiden !!” Kata itu diteriakkan berulang ulang  oleh jamaah yang sekaligus berebut foto dan nyoting ? Tentu.  Seperti yang mungkin gambar dan video yang Anda terima di Hp Anda di minggu ini selain demo  11 April.

Meriah dan antusias tapi

Saya tidak berusaha mendekat, mungkin karena sudah lumayan sering mengalami hal kayak gitu ( hehe sok gr dikit gak papa ya?). Biarkan teman mahasiswa yang lain lah. Beri mereka kesempatan mereka mengelu elukan idolanya malam itu. Saya juga sempat berfikir sedikit nakal. ” Ah layak saja kalau di lingkungan masjid gini pasti mas Anies banyak fansnya lah ! Ibarate mas Anies itu  kan cah mesjidtan!” Tapi misalnya dilingkungan gelanggang yang nota bene kelompok yang bermacam  macam, apa ya kayak gitu ?” Hayo …hehe

(Saya sih berharap tetap kayak gitu…)

Akhirnya, saya sekeluarga dan mas Wahyu Haryadi sekeluarga berinisiatif meninggalkan masjid kampus UGM. Untuk kembali balik Solo. Karena aslinya acara sudah selesai, tapi masih tertahan oleh para jamaah yang ngefans itu agak lama. Hehe perut lapar kami alarmnyapun bunyi.

Baru sampai pasar Demangan kami  berniat makan berat dulu yang sempat tertunda tadi.

Seorang penjual Nasi goreng serta mie godok sumringah menyambut kami. Maklum pandemi mengakibatkan akhir akhir ini kayaknya warung pada sepi. Kemudian kami bertujuh order sesuai selera masing masing. Saya pun berbasa basi bertanya  ” mas Kenal Antok ? “

” Antok beras ?”

” Nggih dulu satu kos sama saya mas” lanjut saya

‘ Wuuh sampun pindah.pak lama”

 

Sayapun terdiam sejenak, hampir saja saya bertanya sekaligus  semacam agak nyurvei .” Mas kenal Mas Anies ?” Tapi pertanyaan itu saya urungkan. Teringat pengalaman mas Heri Alumni FE  UGM 86 yang bertanya serupa terhadap pedagang Pasar sepulang dari Palembang bersama mas Sulton Nasier beberapa bulan lalu. Yang jawabnya gini :” Mas Anies itu jual apa ya di pasar sini ?’ Hehe mendengar jawaban itu. Mas Heripun senyum agak kecut . Tapi lama lama kayaknya sang pedagang itu faham..” Ooh. Mas Anies yang gubernur Jakarta itu ya?

 

” Hahaha iya mas !!

Sekarang Monggo Mas Anies , kembali pada panjenengan. Sedulur kampus sudah menyambut Anda dengan gegap gempita saatnya teriakan .” Anies presiden….Anies presiden!! juga dikumandangkan oleh para  bakul pasar, petani, nelayan , sopir becak, satpam dan lain lainya karena prestasi panjenengan  bukan semata citra.

Saya sih cuma bisa berdoa dan mendorong dari saf belakang saja (kayak pas taraweh malam itu) agar  teriakan itu jadi kenyataan !! Aamiin hehe .Karena saya dulu pernah GR ketika suatu saat ngemci wayang kulit diteriakin penonton “Presiden…presiden !! ” jebulnya setelah saya dengarkan secara seksama bukan presiden tapi;” pesinden pesinden !!” Walah

 

Wisma Matio  Solo, 8 April 2022

Dharmo MC. Direktur  utana PUSH HUP ( Pusat Studi Humor Untuk  Peradaban)

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!