Tausiah

Puasa Ramadhan Itu Bagian dari Syariat Islam Yang Membawa Kedamaian, Kan?


10 May 2021, 16:38
Dilihat   2.7K

Jakarta, NusantaraKini.com ~

Salah satu pelajaran berharga dari puasa ramadhan yaitu pengalaman langsung bagaimana syariat Islam itu bekerja. Tak perlu dijelaskan lagi di sini, dengan sebulan saja suasana menjadi berbeda. Dan yang biasanya menolak syariat atau underestimate terhadap syariat Islam, terhadap syariat puasa ramadhan memilih menutup suara karena bulat dan kuatnya komitmen kaum muslimin dalam menjalankan puasa secara damai. Lagi pula, puasa ramadhan ini tidak merugikan siapapun, malahan menguntungkan. Jadi sebenarnya, syariat Islam itu tergantung kebulatan tekad kaum muslimin sendiri. Kalau tidak bulat, orang juga akan memiliki peluang untuk mencela dan menghalangi.

Syariat Islam itu sebenarnya sesuai dengan fitrah manusia. Dan prinsip syariah juga sebenarnya tidak kaku, tetapi selalu ada garis sakral di dalamnya.

Suatu ketika seorang yang telah lama mengikuti pikiran-pikiran feminisme dan liberalisme, merasa hanya kehampaan yang diperolehnya dari kehidupan keluarganya, terutama hubungan antara dirinya dan isterinya.

Sebagai laki-laki, tetap saja fitrahnya meminta agar dia diperlakukan sebagai penentu keputusan dan pemimpin bagi keluarganya. Masalahnya sejak awal karena terpengaruh ide-ide kesejajaran antara laki dan perempuan, dia menerjemahkan ide itu dalam hubungan dirinya dan isterinya sejajar dan kawan. Jadi apa saja senantiasa dia memberi ruang kuasa bagi isterinya untuk menentukan. Lama kelamaan isterinya keterusan menentukan. Lagi pula isterinya mapan secara finansial dan tidak tergantung sama sekali pada dirinya.

Sebagai laki-laki normal, dia mulai menyadari bahwa tidaklah nyaman dirinya kehilangan otoritas penentu final dalam keluarganya itu. Tapi apa boleh buat, sejak awal dia sendiri yang menerapkan hal itu dalam relasi suami isteri. Karena terbiasa, isterinya lama-lama melunjak melangkahi dan mengabaikan otoritasnya. Dibilang bahagia dengan kondisinya, tapi dalam hatinya sebenarnya tidak. Sebab dia melihat kenyataan lebih menyenangkan jika laki-laki adalah penentu, pemimpin dan pemberi garis dalam suatu unit kecil seperti keluarga.

Beginilah jadinya jika mengabaikan garis syariat yang telah jelas, halmana dinyatakan “laki-laki pemimpin bagi atas perempuan”. Apalagi dalam beberapa kasus, perempuan bilamana diberi lebih kebebasan untuk campur tangan yang mestinya urusan laki-laki, tak dapat menyadari diri bahwa campur tangannya itu sebenarnya melampaui garis yang tidak nyaman bagi laki-laki. Dimana pun di dunia ini, laki-laki secara kodrati memang lebih nyaman untuk memimpin perempuan ketimbang dipimpin perempuan. Kodrat ini sejalan dengan syariat “ar-Rijaalu qawwaamuuna ‘alan Nisaa”.

Laki-laki yang mengabaikan hal ini, sebenarnya sedang mengabaikan hati kecilnya. Mengabaikan hati kecilnya sama dengan mengabaikan kebahagiaan. Walhasil seperti ramadhan yang memberi kedamaian, maka laki-laki dan peremuan yang menerima dan menjalankan prinsip “laki-laki pemimpin bagi wanita”, musti akan memperoleh kedamaian dan kepuasan hubungan ketimbang sebaliknya.

Banyak keluarga modern berantakan, karena garis sakral dimana laki-laki sebagai penentu, dilanggar. Dan sekarang banyak orang hijrah meninggalkan ide modern dan kembali pada garis syariat Islam bagaimana hubungan suami isteri seharusnya dijalankan.

 

 

~ Syahrul Efendi Dasopang

 

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!