Tausiah

Puasa, Fidyah, Kaffarah dan Keawaman Umat


9 May 2021, 14:02
Dilihat   2.6K

Jakarta, NusantaraKini.com ~

Pernahkah Anda menemukan pertayaan seperti ini? Atau jangan-jangan jika Anda pada posisi orang tersebut, Anda pun akan bertanya hal yang sama.

Pertanyaannya seperti berikut.

Assalaamu’alaikum ustadz.. mohon maaf, boleh saya berkonsultasi?

Saya dan istri melakukan perkara dosa di bulan Ramadhan yaitu di siang hari Ramadhan.

Saat itu sebenarnya saya hanya mau bercumbu saja (tidak berhubungan badan). Maklum penganten baru, Tadz. Tapi kemudian saya tergoda untuk berbuat lebih jauh. Sehingga kebablasan dan akhirnya berujung berhubungan badan.

Bagaimana solusinya, ustadz? Apakah puasa harus diganti atau bagaimana?

Dari Fulan

Pertama, isi pertanyaan seperti itu menjelaskan bahwa yang bersangkutan awam dengan fiqh puasa. Apa yang dialaminya merupakan kasus pelanggaran secara sengaja tanpa udzur terhadap ibadah puasa. Udzur saja ada dendanya, apalagi seperti itu, dengan sadar tergoda untuk melanggar aturan puasa.

Yang berlaku bagi si penanya itu ialah kaffarat. Kaffarat ada aturan mainnya. Sedangkan tidak puasa karena sebab udzur, seperti sakit, sudah tua renta sehingga tidak kuat puasa, atau dalam perjalanan yang bikin berat berpuasa, maka syariat yang berlaku padanya, yaitu fidyah. Keterangan ayat tentang fidyah menyangkut puasa adalah sebagai berikut.

“[Menjalankan Saum (puasa)] selama beberapa hari, tetapi jika ada di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan, jumlah yang sama (harus dibuat) dari hari-hari lain. Dan bagi mereka yang dapat berpuasa dengan susah payah, mereka memiliki (pilihan untuk berpuasa atau) memberi makan Miskin (orang miskin) (untuk setiap hari). Tetapi siapa pun yang berbuat baik atas kemauannya sendiri, itu lebih baik untuknya. Dan bahwa kamu berpuasa, lebih baik bagimu jika saja kamu tahu. ” QS. 2: 184

Jadi jika Anda sakit dan disarankan oleh dokter menunda puasa dulu, maka fidyah berlaku bagi Anda ialah: pertama, jika Anda sudah sehat, menebus puasa yang Anda tinggalkan dengan jumlah hari yang sama. Misalnya Anda meninggalkan puasa ramadhan selama 20 hari, maka di waktu Anda sudah sehat, Anda langsung berpuasa selama 20 hari. Kendati dilaksanakan bukan di bulan ramadhan.

Tetapi jika Anda tidak sanggup menebusnya dengan puasa, Anda memberi makan orang miskin sebanyak hari yang Anda tinggalkan dengan ketentuan kualitas makanan seperti yang Anda berikan pada keluarga dan diri Anda sendiri.

Nah itu fidyah puasa ramadhan namanya. Adapun kasus yang dialami si penanya di atas, yaitu kaffarah namanya.
Kalau kaffarah, maka urutan yang berlaku padanya yaitu sebagai berikut.
Tetapi ingat, kasus ini telah membuat Rasulullah merasa lucu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ . قَالَ « مَا لَكَ » . قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ » . قَالَ لاَ . فَقَالَ « فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا » . قَالَ لاَ . قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ – قَالَ « أَيْنَ السَّائِلُ » . فَقَالَ أَنَا . قَالَ « خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ » . فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا – يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ – أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى ، فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ »

“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi SAW kemudian datanglah seorang laki-laki menghadap beliau. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi. Kemudian beliau berkata, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111).

Jadi dari hadits itu jelas menunjukkan tata cara kaffarat yang dikenakan pada si penanya di awal. Pertama, memerdekakan seorang budak perempuan.

Kalau parameter harga budak sama dengan yang dikeluarkan oleh Abu Bakar Ash-Shidiq dalam membebaskan sahabat Nabi, Bilal bin Rabah ra, orang yang tak punya harta jelas tidak sanggup melakukannya.

Abu Bakar As-Shidiq ra sewaktu membebaskan Bilal bin Rabah ra, dia membebaskan Bilal dengan harga 9 uqiah* yang setara dengan Rp. 157.842.000,- (9 x 7,4 x Rp. 2.370.000 ). Pertanyaannya apakah Anda punya uang sebanyak itu? Jika punya juga, apa masih ada kategori dan statu budak hari ini.

*Konversi = 1 uqiyah = 31,74 gr emas = 7,4 dinar , 1 dinar = 4,25 gr, 1 dinar = Rp 2.370.000 juta dimana 1 dirham = 1/10 dinar = Rp 237.000

Saran saya, sebaiknya Anda lanjut ke urutan denda kedua, yaitu puasa dua bulan berturut-turut. Misalnya, selesai satu bulan di bulan juni, lanjut langsung satu bulan lagi untuk bulan juli. Kenapa begitu? Begitulah ketentuannya. Namanya juga denda, mana ada yang enak dan ringan. Mungkin hikmahnya supaya jangan menganggap remeh puasa ramadhan.

Tapi jika tak sanggup juga, maka Anda memberi makan 60 orang miskin. Kenapa 60? Mungkin ekuivalen dengan 60 hari yang sama dengan rata-rata dua bulan. Anda memberi makan sekuantitas dan kualitas yang Anda makan hingga kenyang.

Sebenarnya pada awalnya praktik puasa yang dilakukan oleh para sahabat mencakup tidak berhubungan seks dengan isteri di malam hari. Tetapi ayat di bawah ini (QS. Al-Baqarah: 187) pun turun, untuk memberi kemudahan bagi para sahabat sehingga hanya di siang hari saja diharamkan berhubungan seks dengan pasangan sah atau suami isteri.

اُحِلَّ لَـکُمۡ لَيۡلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآٮِٕكُمۡ‌ؕ هُنَّ لِبَاسٌ لَّـكُمۡ وَاَنۡـتُمۡ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ؕ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمۡ كُنۡتُمۡ تَخۡتَانُوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡ وَعَفَا عَنۡكُمۡۚ فَالۡـــٰٔنَ بَاشِرُوۡهُنَّ وَابۡتَغُوۡا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمۡ وَكُلُوۡا وَاشۡرَبُوۡا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الۡخَـيۡطُ الۡاَبۡيَضُ مِنَ الۡخَـيۡطِ الۡاَسۡوَدِ مِنَ الۡفَجۡرِ‌ؕ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيۡلِ‌ۚ وَلَا تُبَاشِرُوۡهُنَّ وَاَنۡـتُمۡ عٰكِفُوۡنَ فِى الۡمَسٰجِدِؕ تِلۡكَ حُدُوۡدُ اللّٰهِ فَلَا تَقۡرَبُوۡهَا ؕ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَّقُوۡنَ

“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Te-tapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”

Jadi dari hal di atas kita memetik kesimpulan betapa pentingnya kewajiban puasa ramadhan. Dan celakalah orang-orang yang meremehkan kewajiban ini apalagi sampai melarang kewajiban tersebut pada orang-orang beriman.

 

 

~ Syahrul Efendi Dasopang, Sekjen ISQI

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!