Tausiah

Sunnah Gerakan Rasulullah


7 May 2021, 11:29
Dilihat   2.4K

Jakarta, NusantaraKini.com ~

Sekiranya Rasulullah Muhammad SAW seperti sikap kita, mungkin hasil pergerakannya tidak berumur panjang dan tidak akan sampai manfaatnya kita nikmati di generasi kita.

Sekiranya reaksi Rasulullah hanya sekedar ngomel dan nyumpah-nyumpah di group WA atau di kumpulan pendukungnya, tatkala menyikapi korup dan amoralnya masyarakat dan peradaban di zaman itu, mungkin Islam yang diwariskannya hanya sekedar ujaran tanpa praktik.

Sekiranya reaksi Rasulullah hanya sekedar diam dan menjauhkan diri (tahannuts) di Gua Hira, tatkala kecewa melihat kerusakan moral masyarakatnya saat itu, baik dari segi nilai, ideologi, hingga praktik hidup, mungkin tidak akan berdiri negara dan peradaban baru di Madinah yang menjadi induk dari imperium Islam sesudahnya, mulai dari Daulah Islamiyah Khulafuur Rasyidin, Imperium Umayyah, Abbasiyah, Utsmaniyyah, hingga ke level lebih rendah dari itu, Muhammadiyah, NU, HMI atau MUI, PKS, MES, dsb, bahkan keislaman kita.

Dari Rasulullah kita belajar, bahwa untuk mengubah dan menyikapi keadaan yang korup, biadab dan mengecewakan, tidak bisa dengan ngomel atau maki-maki. Harus membangun dengan rapi dan sistematis antitesa dari keadaan yang menimbulkan rasa muak dan bahaya.

Pertama, Rasulullah mengalami kesadaran dan pemikiran baru yang membuatnya menjadi alternatif pribadi terhadap kaumnya. Rasulullah muncul di kaumnya benar-benar bersifat antitesis dan alternatif. Tentu untuk kasus Rasulullah dia dibimbing dan ditunjuki melalui wahyu Allah.

Setelah itu, kedua, dia mulai membangun pengikutnya melalui pertemuan rutin di Darul Arqam. Di tempat itu, mulai banyak kader-kader Rasulullah untuk menyiarkan ajaran yang dibawanya. Ditempat itu juga ajaran Allah yang diterimanya didiseminasikan, disebarkan, ditanamkan, diorganisasikan dan diujikan dengan realitas.

Maka muncullah pegikut-pengikut setia yang siap tidak saja menerima, mengimani, mempraktikkan ajaran Allah, tapi juga siap menanggung risiko saat mengajak orang luar untuk bergabung mengimani dan memikul tanggung jawab ajaran dan komunitas yang baru embrio tersebut.

Ketiga, kepemimpinan Rasulullah pun tidak sekedar ketua dan koordinator, tapi juga pemimpin lahir batin, material spritual bagi pengikutnya. Rasulullah menjadi contoh paripurna tentang model manusia antitesa manusia kafir quraiys yang hendak diubah. Dan komunitas Mukminin dengan patron Rasululllah Muhammad SAW itu merupakan alternatif dari masyarakat yang mereka hadapi. Lambat laun, komunitas mukminin itu menguat dan populer, dan masyarakat kafir quraiys bergeser menjadi kuno, reaksioner dan menuju kepunahan.

Inilah hikmah jika suatu nilai, masyarakat baru dilahirkan dengan wajah dan rasa baru di bawah bimbingan dan arahan kepemimpinan baru yang kredibel dan kapabel, maka manusia dan masyarakat akan dengan mudah melihat kerusakan dan keburukan dari masyarakat yang korup yang sedang berkuasa.

Rahasianya terletak pada adanya perbandingan nyata. Tanpa perbandingan nyata, kacamata politik tak berfungsi. Sedangkan kalau cuma ngomel-ngomel sendiri, apalagi hanya sekedar lomba ngomel dan paling sadis kritik terhadap keadaan tanpa suatu ajaran, pembinaan komunitas alternatif, atau hanya sekedar aliansi mencari keuntungan sesaat, dan tanpa drive dari suatu kepemimpinan yang kredibel, maka berlalu waktu maka lupalah omelan itu.

Sudah berapa omelan dan cacian yang diproduksi dengan mesin rasa kecewa dan dendam sejak zaman Ahok dan Jokowi masih bertahta di DKI dan memuncak berkumpulnya massa emosional tanpa rencana sistematis di 2016, yang ada hanya seperti yang Anda tahu: jangankan menang, malah makin terpuruk.

 

 

~ Syahrul Efendi Dasopang, The Indonesian Reform Institute

Jakarta, Nusantarakini ~

 

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!