Opini

Bom Waktu yang Ditinggalkan Belanda kepada Bangsa Indonesia


26 April 2021, 17:51
Dilihat   2.8K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Pada tahun 1883 Pemerintah Hindia Belanda membagi penduduk Indonesia sebagai negeri jajahan menjadi 3 bagian. Yaitu melalui pasal 163 IS, golongan tertinggi Eropa, golongan Timur Asing (Timur Jauh), Tionghoa; dan terakhir adalah bumi putra yang menjadi cikal bakal penyebutan pribumi setelah proklamasi kemerdekaan RI.

Kelompok Timur Jauh Tionghoa dimanfaatkan oleh Belanda untuk berkolaborasi bekerja sama demi keuntungan Belanda. Sehingga kelompok Timur Jauh Tionghoa ini dianggap pro kebelanda. Karena mereka kuat secara finansial dan melekat pada diri mereka sebagai kolaborator Belanda.

Dan Belanda juga memperlakukan secara istimewa kepada golongan Timur Jauh Tionghoa ketimbang golongan ketiga bumi putra. Inilah bom waktu yang ditanamkan Belanda di bumi nusantara.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, membawa posisi komunitas Tionghoa menjadi dibawah ancaman. Karena orang-orang Tionghoa menjadi sasaran intimidasi dari kaum pribumi radikal, yang kerap kali menyatroni kediaman dan toko mereka, harta benda mereka dijarah dan sering terjadi penculikan, pemerkosaan bahkan pembunuhan.

Ini terjadi hampir di seluruh kota di Indonesia. Misalnya di Tanggerang tahun 1946, di Medan pada tahun yang sama juga menjalar ke beberapa daerah seperti Bagan Siapiapi, Palembang, Bekasi, Jember, Madiun, Malang dan beberapa daerah lainnya.

Dengan terjadinya berbagai kerusuhan yang menyebabkan hilangnya harta dan nyawa kaum Tionghoa, yang walaupun Bung Karno dan Sjahrir mengutuk keras atas peristiwa tersebut, namun masyarakat Tionghoa merasa tidak ada jaminan keamanan dan hukum yang pasti pada masa revolusi.

Maka Lim Seng anak muda Tionghoa dari Medan ini merasa perlu dibentuk barisan keamanan untuk golongan Tionghoa. Atas persetujuan dari Bung karno pada akhir tahun 1946 terbentuklah milisi BAO AN DUI, Pao An Tui, barisan, regu keamanan yang khusus untuk menjaga keamanan golongan Tionghoa. Jadi Bao An Dui lahir dari kondisi yang tidak menentu pasca revolusi.

Awalnya Bao An Dui itu kecil, karena mendapat simpati dan dukungan dari golongan Tionghoa di seluruh Indonesia, maka pada akhirnya menjadi kuat, besar dan menakutkan. Bahkan termasuk milisi terkuat saat itu, serta tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Karena saat itu adalah masa revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, maka milisi Bao An Dui pun sering ikut dalam pertempuran melawan Belanda maupun Inggris. Dan anggota Bao An Dui pun banyak menyeludupkan senjata api yang kemudian disumbangkan untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bao An Dui juga banyak mengurusi logistik dengan melakukan barter membarter hasil bumi dari daerah kekuasaan RI dengan barang-barang dari daerah kekuasaan Belanda. Dan mengawal kapal-kapal yang membawa barang-barang ekspor maupun import khususnya di Selat Malaka.

Bahkan di kota Solo terbentuk organisasi peranakan Tionghoa dengan nama Pemberotakan Tionghoa dibawah pimpinan Wen tjin Too. Organisasi ini selain bersiap dalam militer, juga membantu penyediaan kebutuhan bagi perjuangan di Solo.

Pemberontakan Tionghoa yang dipimpin Wen Tjin Too bekerja sama erat dengan barisan pelopor yang dipimpin seorang tokoh nasional Indonesia SUDIRO, Wen Tjin Too sendiri akhirnya menjadi anggota PNI. Dan ketika terbentuknya Republik Indonesia Serikat, RIS, dia menjadi anggota parlemen fraksi PNI. (koleksi museum pustaka peranakan Tionghoa).

Jadi pada era revolusi peranakan Tionghoa pun banyak yang terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan. Disamping regu keamanan Bao An Tui, sejarah cuma mencatat beberapa nama besar seperti Siauw Giok Tjhan. Namun semuanya menjadi tidak berarti ketika ada kepentingan dari golongan tertentu, dan meledakan bom waktu yang ditanamkan Belanda, dan Tionghoa akhirnya menjadi korban.

Jakarta 25 april 2020.

Chandra Suwono, Pemerhati Masalah Sosial, Politik dan Budaya.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!