Opini

Teroris Radikalisme adalah Ideologi


1 April 2021, 10:02
Dilihat   3.3K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Melawan dan membasmi teroris intoleran atau semacam ISIS itu tidak sulit. Yang sulit adalah membasmi ideologi. Karena bagaikan sel-sel kanker yang bisa meledak dan menghancurkan. Itu yang bermasalah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bahkan dunia.

Ideologi itu tidak bisa dilawan dan dibasmi dengan kekerasan saja, tapi perlu ada cara lain dan wajib mengetahui ideologi yang ditanamkan itu asal muasal dari mana. Ini bisa terjadi di semua agama, dan di segala lini kehidupan.

Pada bulan Agustus tahun yang lalu, tiba-tiba di Philipina Selatan, tepatnya wilayah Marawi dihancurkan oleh kelompok ISIS. Akibatnya ribuan warga terlantar dan menderita. Meskipun kemudian ISIS di sana dapat dihancurkan dan diusir dari Marawi oleh tentara Philipina, namun ideologinya tetap hidup dan sewaktu waktu bisa meledak lagi.

Oleh karena itu, pemerintah Philipina membangun universitas untuk membunuh berkembangnya ideologi radikalisme. Jadi yang bisa digarisbawahi dan dicermati adalah bahwa ideologi itu ditanamkan dari semenjak mereka masuk ke dalam pendidikan resmi. Artinya sejak anak-anak sudah ditanamkan ideologi tersebut. Pendekatannya tidak cukup dengan senjata saja.

Siapa yang berperan membiayai berkembangnya ideologi tersebut? Tentu mereka mempunyai target dan sasaran. Seperti di Hongkong. Sejak tahun 1990, ketika Inggris menyadari bahwa tahun 1997 akan dikembalikan ke Tiongkok, maka sejak 1990 ditanamkanlah ideologi demokrasi ala Barat ke pelajar dan anak-anak muda di Hongkong. Targetnya adalah nanti setelah Hongkong dikembalikan ke Tiongkok, anak-anak tersebut pasti akan bertentangan dengan pemerintah Tiongkok. Karena Inggris paham bahwa Demokrasi Barat pasti bertentangan dengan pemerintah Tiongkok. Di situ akan muncul radikalisme dan merupakan proksi mereka untuk mengacaukan Tiongkok.

Seperti di Libya, Suriah, Irak, Afganistan, dan Yaman, karena ideologi radikal yang ditanamkan sejak anak-anak dan kemudian hari menjadi proksinya Amerika untuk menghancurkan negara-negara tersebut. Itu disebut target, tentunya memberi kontribusi ekonomi yang dahsyat untuk Amerika.

Benih-benih itu ada di Indonesia. Perlu penanganan ekstra, perlu melibatkan tokoh-tokoh dunia pendidikan dan tokoh-tokoh agama untuk membendung berkembang biaknya ideologi tersebut sejak awal. Jadi tidak cukup pendekatan hanya dengan kekerasan.

Di Tiongkok khususnya Propinsi Xin Jiang, sejak muncul ISIS di Suriah banyak anak-anak muda Suku Uighur Muslim terbuai dengan janji-janji ISIS. Dan belasan ribu anak-anak mudanya bergabung ke ISIS. Dan setelah kembali ke negaranya, ideologinya pun dibawa untuk melakukan teror kepada pemerintah Tiongkok.

Mereka yang terindikasi dengan ideologi tersebut, ditangkap, dididik dan diberi pendidikan untuk bisa bekerja, setelah dikembalikan ke masyarakatan dari kamp-kamp pelatihan kerja. Disamping itu, didatangkan tokoh agama Islam untuk membersihkan otaknya dari ideologi sesat. Jadi pendekatannya tidak cukup dengan senjata, tapi tindakan pencegahan tidak kalah pentingnya untuk mematikan ideologi tersebut.

Jakarta 31 maret 2020.

Chandra Suwono, Pemerhati Politik dan Geostrategis.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!