Nasional

Kisah Richard McKinney, dari Islamophobia menjadi President of Muncie’s Islamic Center

Nusantarakini.com, Jakarta –Bule berperawakan tinggi tegap bertato dalam foto di bawah ini memiliki cita-cita besar. Ia berhasrat tampil menghiasi head line segenap media massa Amerika Serikat, dengan berita yang sungguh epik: sebagai superhero yang berhasil meledakkan masjid, saat sekurang-kurangnya 200 umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah shalat Jumat, akan mati terpanggang dalam aksinya tersebut!

Richard McKinney lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang rasis. Meski tinggal di lingkungan kulit hitam, ia justru dilarang keras bergaul dengan anak-anak negro.

Di saat keluarga lain mengedukasi bahaya bullying pada anak-anaknya, orang tua serta kakek Richard malah berhasil menanamkan doktrin dalam diri pemuda ini, bahwa warga kulit putih “adalah manusia paling superior” dibanding ras manapun juga. Dan warga superior tidak butuh menerapkan toleransi pada manusia rendahan.

Alih-alih tumbuh sebagai anak budiman, Richard malah dikenal sebagai trouble maker yang super rasis, kerap mengukir berbagai bentuk kenakalan, hingga puncaknya ia didepak dari sekolah.

Beruntung angkatan laut AS buka pendaftaran, hingga selamatlah jalan hidupnya. Seandainya tidak jadi marinir, bisa dipastikan saat itu Richard sudah menjelma menjadi bandit kelas kakap, atau bahkan terbunuh dalam aksi kriminalitas.

Namun, sejak bergabung sebagai tentara, ia merasa doktrin yang ditanamkan padanya sejak belia malah seiring sejalan dengan doktrin gugus tugasnya yang mengajarkan cara menghabisi musuh.

Tak pelak, terhadap apapun dan siapapun yang ia anggap tidak sejalan dengan ideologinya, kebencian yang sudah terpupuk dalam diri Richard tumbuh semakin mengurat akar.

Ketika pensiun dari angkatan laut, Richard mengaku sempat kebingungan. Ia seperti kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Fase galau ini bahkan menjerumuskan Richard menjadi seorang alkoholik. Hingga suatu hari, ia akhirnya paham akar dari rasa galau tersebut. Richard merasa hidupnya hampa karena tak lagi memiliki musuh untuk dibasmi!

Dahsyat betul ideologi monster satu ini, bukan?

Di hari-hari saat ia berhasil memaksa dirinya tidak bermabuk-mabukkan, Richard mulai mengevaluasi akar dari masalah yang ia hadapi. Fakta bahwa ia diberhentikan paksa dari marinir akibat cedera, sudah cukup membuat depresi. Ditambah pula mempertimbangkan status bujang lapuk di usianya yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi.

Selama 25 tahun mengabdi sebagai marinir, sebagian besar karirnya dihabiskan bertugas di negara-negara Timur Tengah. Dengan kata lain, hampir seluruh jam terbangnya digunakan untuk membasmi musuh dengan satu latar belakang yang sama, yaitu Islam.

Bingo! Itu dia musuh yang membuatnya merasa kehilangan: Islam! The enemy he was forced to say good bye to, that made his life so worthless now.

Dan untuk lanjut memusuhi Islam, Richard sadar ia tidak lagi butuh medan perang. Toh bendera perseteruan dengan umat muslim bisa dikibarkannya kapanpun dan di manapun sekarang.

Rasa benci terhadap Islam memenuhi diriku 100%.” Richard pernah mengakui suatu kali. “Aku benci apapun yang berbau Islam, bahkan rasa marahku bisa menggelegak tak terbendung hanya karena melihat seseorang berpenampilan ala Islam. Dalam perspektifku, Islam laksana kanker bagi umat manusia di dunia. Dan jika diibaratkan berada dalam tubuh yang sama, maka aku adalah antibodi yang bertugas menumpas penyakit sialan ini!”

Lucunya, saking fokus membangun kebencian terhadap Islam, hidupnya malah jadi membaik. Richard bisa lepas dari kebiasaan mabuk-mabukan, bahkan berhasil membangun rumah tangga.

Suatu hari tatkala menemani istrinya shopping, Richard berada di toko yang sama dengan dua orang wanita berbalut gamis hitam pekat, lengkap dengan burqa.

Dengan tubuh menggeletar penuh keringat, ia setengah mati menahan diri agar tidak menerjang kedua muslimah itu, kemudian mematahkan leher mereka.

Luar biasa. Jangankan pernah berbuat jahat padanya, kedua wanita muslim itu bahkan tidak mengenal Richard. Betapa mengerikan dampak kebencian yang tertanam di diri veteran marinir itu.

Hari itu ia memang berhasil menahan diri. Namun, efeknya ternyata malah mencetuskan rencana yang jauh lebih berbahaya.

Richard mulai merakit bom untuk diledakkan di pelataran Muncie’s Islamic Center, sebuah masjid di kampung halamannya, Indiana-AS.

Ia bolak balik mengunjungi masjid Muncie. Hanya di seputarannya saja, bahkan menginjak halaman masjid pun tak pernah. Tujuannya semata-mata agar dapat menentukan posisi paling maksimal bagi daya ledak bom rakitannya. Juga untuk memperhitungkan di mana kiranya lokasi terbaik, saat ia menikmati kehororan rencana itu terlaksana kelak.

Hasil dari observasinya, Richard memilih hari Jumat sebagai waktu eksekusi. Well, hari apalagi umat muslim lebih memakmurkan masjid selain Jumat? Dengan tersenyum puas ia memperkirakan setidaknya ada 200 manusia berlabel Islam yang akan berakhir menjadi serpihan daging hangus di hari naas itu nanti.

Richard sesungguhnya sangat menyadari, bahwa hukuman mati mutlak akan ia dapatkan sebagai ganjaran perbuatannya ini. Namun, ia tidak peduli sama sekali. Tampil sebagai superhero ala Amerika, lebih mulia dari segalanya.

“My hatred of Islam was the only thing that keeping me alive.”

Akan tetapi, terjadi sesuatu di luar rencana ….

Hanya beberapa hari menjelang eksekusi, Richard memergoki putrinya yang baru berusia 7 tahun, ternyata malah bersahabat dengan seorang bocah muslim!

Tak terkatakan betapa murkanya ia. Semua doktrin “warga superior tidak berbaur dengan manusia rendahan” tumpah ruah ia semburkan pada anak perempuannya. Semua bibit rasis yang ia peroleh dari orang tua serta kakeknya, ia hunjamkan dalam benak gadis kecil itu, dalam bahasa yang jauh dari pantas.

Namun, Richard sama sekali tidak siap dengan reaksi dari putrinya. Alih-alih menelan bulat-bulat doktrin berbau rasis itu sebagaimana dirinya dulu, si gadis kecil justru memuntabkan rasa kecewanya sambil memandang sang ayah dengan ekspresi jijik.

Untuk pertama kali, Richard McKinney mempertanyakan eksistensi kebencian yang kadung berkarat dalam dirinya. Dengan hati hancur, ia menyadari dirinya bukanlah sosok ayah yang pantas digugu dan ditiru oleh putri kecilnya. Ayah brengsek macam apa yang tega mewariskan rasa kebencian, rasisme dan bullying pada anak-anaknya?

Richard pada akhirnya memutuskan mencari jalan lain untuk menghadapi Islamophobia dengan metode yang lebih baik.

Hari itu, ia kembali mendatangi masjid yang berbulan-bulan ia jadikan target. Namun, berbeda dari sebelumnya, kali ini Richard melangkah hingga ke pintu utama masjid.

Saat itu hari Jumat, masjid Muncie mulai dipenuhi jamaah yang akan menunaikan ibadah Jumat mereka. Richard yang tidak tahu harus berbuat apa, hanya termangu-mangu di sana, menghalangi pintu masuk masjid dengan tubuhnya yang menjulang bagai raksasa.

“Salam, Brother ….” Tiba-tiba sebuah suara menyapanya. “Ada yang bisa saya bantu?”

Richard McKinney bergerak salah tingkah. “Eh, mmm …. A-aku ingin tahu lebih banyak mengenai Islam ….”

Ia duduk di saf paling belakang, terpana mendengar khutbah Jumat yang disampaikan.

‘Wah, hebat benar materi yang diutarakan. Tapi aku tak akan tertipu, ini semua pasti hanya propaganda’ pikirnya sinis.

Setelah bercakap-cakap beberapa lama dengan pemuda yang menyapanya di pintu depan tadi, Richard kemudian pamit pulang berbekal pinjaman sebuah kitab sakti di tangannya.

Sebelum berpisah, pria tersebut menyelipkan pesan, “Bacalah ini. Jika kau punya pertanyaan–apapun itu–silakan datang lagi ke mari kapanpun kau mau.”

Richard menatap Al Quranul Karim dalam genggamannya, bertekad ingin menemukan bahan perdebatan sengit untuk pertemuan mereka yang berikutnya.

Sampai di rumah, ia menemukan banyak sekali kejutan dalam Al Quran pinjaman tersebut. Richard mencatat semua pertanyaannya, untuk dijawab oleh pengurus masjid.

Ia sama sekali tak menyangka, jawaban yang didapatkan ternyata sungguh terang benderang. Richard bahkan tidak menemukan alasan untuk berdebat saking puas dengan diskusi kecil mereka.

Lelaki itu mulai ketagihan. Ia membaca Al Quran lebih khusyuk serta mencatat lebih banyak pertanyaan. Dengan takjub Richard menyadari bahwa bukan saja jawaban yang ia peroleh, tapi juga pelita yang semakin menerangi jalan hidupnya.

Delapan minggu kemudian, veteran angkatan laut AS itu mengenakan busana terbaik yang ia miliki, kemudian berangkat menuju Muncie’s Islamic Center.

Bukan untuk mengaktifkan bom dan menghabisi ratusan umat muslim sesuai rencana besarnya semula … tapi hari itu Richard McKinney mengucapkan kalimat syahadat dan resmi memeluk Islam sebagai akidah hidupnya.

Man proposes, but God disposes.
Manusia boleh berencana, tapi Allah lah yang menentukan.

Ketika ujung jari Yang Maha Esa berkehendak untuk menghinakan atau memuliakan seseorang, tak ada apapun yang akan mampu menghalangi.

Hari ini, Richard McKinney menjabat sebagai President of Muncie’s Islamic Center. Manusia yang memimpin masjid Muncie kini, adalah manusia yang sama yang dulu ingin meratakan masjid itu dengan tanah!

Sounds too magical to be true, isn’t it? Memang ajaib. Keajaiban yang tak ada tandingannya. Keajaiban yang tak bisa dipatahkan oleh apapun juga.

Keajaiban yang dikunci oleh lafadz … KUN, FAYAKUN! [mc]

Tabarakallah
-Cut Cynthia Sativa-

Terpopuler

To Top