Satire

llmu Hikmah Shalat

Nusantarakini.com, Jakarta –

“Akhir-akhir ini ketika saya ditanya apa yang sungguh-sungguh saya inginkan dalam hidup, maka jawaban yang paling tulus dan paling sungguh-sungguh dari saya adalah: Saya ingin diberkahi sholat yang khusu'”. Itulah sepenggal komentar Dr. Marwah Daud Ibrahim dalam suatu buku tentang shalat.

Tahukah Anda bahwa setiap manusia, makan dan minum? Tapi tahukah Anda bahwa tidak setiap manusia dapat mengetahui dengan baik mengapa mereka harus makan dan minum, bahan makan dan minuman apa yang terbaik bagi tubuh dan jiwanya, kadar makanan dan minuman apa yang terbaik bagi lambungnya, dan cara makan dan minum macam apa yang dapat dengan tepat untuk kebaikan tubuh dan jiwanya?

Malahan tidak semua orang dapat merasakan nikmat dan puasnya makan dan minum. Ada yang makan dan minum sekedar menghilangkan dahaga dan lapar. Ada yang makan dan minum sekedar menjalani rutinitas. Ada yang makan dan minum mengejar kenyang dan enak. Bahkan saya pernah melihat orang makan dan minum, tapi handphone tak pernah lepas dari telinganya, pikirannya tidak hadir menikmati makanan dan minumannya. Pikiran dan emosinya, berada di depan lawan bicaranya nun jauh di sana. Bagaimana kenikmatan dan kebaikan makan dan minum dapat dia reguk dengan suasana semacam itu?

Demikian pula dalam shalat. Ada yang rutin shalat, tapi tidak mendapatkan kebaikan dan kenikmatan dari shalat itu. Ada yang pikirannya melayang jauh saat shalat. Ada yang tidak tahu bagaimana shalat sebaiknya dilaksanakan: caranya, tujuannya dan persiapannya (wudlunya).

Jadi, tidak semua orang dapat shalat dengan baik dan memberi manfaat bagi dirinya. Seperti halnya tidak semua orang dapat makan dan minum dengan baik dan memberi manfaat bagi jiwa dan tubuhnya.

Sejatinya kita semua maunya shalat dengan benar dan sampai. Tapi untuk mendapatkan hal itu, ada tiga perkara yang menjadi syarat wajarnya.
1. Mengetahui dan menyadari apa itu shalat
2. Mengetahui dan menyadari kemana dan kepada siapa shalat kita tujukan.
3. Mengetahui dan menguasai cara yang ditempuh oleh Nabi Muhammad Saw untuk sampai pada tujuan shalat itu. Karena Nabi-lah contoh terbaik bagaimana shalat bisa sampai kepada tujuannya.

Kita mulai dari perkara kedua. Ini adalah perkara mengenal Allah atau ma’rifatullah. Kita kenal dulu Allah itu, tujuan kita menegakkan shalat itu. Tanpa jelas dan kenal siapa yang kita tuju dalam shalat itu, bagaimana shalat dapat mencapai tujuannya dengan baik. Itulah sebabnya, pengetahuan tentang Allah, tauhid, dan syariatnya, merupakan hal yang melekat bagi seorang penegak shalat (mushlallin). “Maka beruntunglah orang yang shalat. Yang mereka khusyuk dalam shalatnya.” (Q.S. Al Mukminun: 1-2)

Contoh. Kita mau menelepon seseorang. Tapi kita tidak kenal seseorang itu. Tapi anehnya kita hubungi. Kita tidak mau tahu tatacara menghubunginya. Kita langsung meminta kepadanya. Minta hidayah, minta ditunjuki jalan yang lurus, minta rezeki, bersaksi bahwa ini itu. Bagaimana kira-kira penilaian Anda hal semacam itu?

Berikutnya, jika mau shalatnya sampai, terkabul permintaannya dalam shalat itu, wajar kita berguru kepada orang yang sudah duluan berhasil. Menerapkan cara shalat yang terbukti berhasil. Siapa lagi shalatnya yang berhasil dan terbaik, kalau bukan shalatnya Nabi Muhammad Saw. Dia telah mengajarkan dan mewariskan tatacara shalat yang benar kepada kita. Ajaran, tatacara shalatnya yang terawetkan di dalam Sunnah, itulah yang diamalkan dalam shalat.

Terakhir, shalat itu sendiri apa? Kita harus tahu apa itu shalat. Apa hakikatnya. Apa faedahnya. Apa fungsinya. Apa kaifiatnya. Amal macam apa shalat ini. Mengapa ada rakaatnya? Berapa rakaatnya? Bagaimana saja rakaatnya? Apa bacaannya? Setiap rakaat, bacaannya apa saja? Bagaimana Nabi mengamalkan shalatnya? Seperti apa sifatnya? Kenapa kekhusyukan shalat para sahabat demikian luar biasanya? Bagaimana mereka dapat membuat shalat sekhusu’ itu? Dan seterusnya.

Keterangan tentang shalat melimpah, baik dalam Al-Qur’an, Hadits, uraian pena para ulama, maupun para ilmuwan. Inilah yang disebut dengan ilmu shalat.

Kesimpulannya, perkara mengenal Allah, mengenal Rasul dan ilmu shalat, merupakan bekal dasar agar shalat kita sampai dan kabul dengan baik kepada Allah.

Shalat adalah mi’rajnya orang yang beriman kepada Allah. Shalat adalah momen konektif dengan Yang Maha Segalanya. Shalat adalah warisan para Nabi kepada umat manusia. Shalat adalah obat yang menyeimbangkan jiwa dan jasad. Shalat adalah tradisi orang-orang yang beradab.

 

 

~ Syahrul E Dasopang

Terpopuler

To Top