Tausiah

Puasa Ramadhan (23)

Nusantarakini.com, Jamaica Hills – 

Bulan Ramadan secara keseluruhan, bukan saja bulan yang penuh rahmah, barokah dan kebaikan. Tapi memang karunia besar yang Allah berikan kepada umat ini. Hakikat ini dipahami secara benar oleh para sahabat dan salafus saleh. Sehingga mereka menyambutnya dengan suka cita yang luar biasa.

Karenanya seperti yang pernah disebutkan terdahulu, respon tertinggi dalam menyambut bulan ini adalah dengan kesyukuran. Bentuk kesyukuran tertinggi itu adalah dengan menggunakan nikmat tersebut secara maksimal dalam ridhoNya.

Di sinilah kita akan teruji apakah kita termasuk hamba-hamba yang bersyukur atau sebaliknya hamba-hamba yang tidak sadar nikmat?

Dengan masuknya malam-malam terakhir bulan Ramadan ini, ujian itu semakin nyata. Karena di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan ini semua bentuk ibadah dan amal kebajikan menjadi sangat istimewa. Sehingga sikap kita akan menjadi tolak ukur apakah kita memang bersyukur atau sebaliknya?

Salah satu amalan yang secara kuat disunnahkan atau dalam bahasa agama menjadi “sunnah muakkadah” adalah melakukan i’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan ini.

Secara bahasa i’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah karena Allah SWT. Defenisi sederhana ini sesungguhnya dapat disimpulkan sebagai “mujadah” dan fokus penuh dalam beribadah kepada Allah selama hari-hari tersebut.

Rasulullah SAW menyunnahkan kepada umatnya beri’tikaf selama sepuluh hari. Beliau pun melakukan hal yang sama. Bahkan di akhir-akhir hayat beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari.

Dari praktek Rasulullah SAW sendiri sebenarnya lebih dipahami bahwa ajaran ini bertujuan untuk melakukan konsentrasi penuh dalam melakukan mujahadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah melalui ragam ibadah selama 10 hari terakhir Ramadan.

Saya merasa tidak perlu lagi menjelaskan rukun, syarat, sunnah maupun larangan-larangan ketika beri’tikaf. Dengan kata lain tulisan ini tidak bermaksud membahas hukum-hukum fiqhiyah dari i’tikaf. Karena sangat mudah untuk menemukan pembahasan dan dengan sangat rinci dalam buku-buku Fiqh.

Justeru yang ingin saya bahas adalah tujuan apa saja yang ingin dicapai dengan praktek ibadah i’tikaf ini. Hal ini sangat penting, agar ibadah yang kita lakukan tidak selamanya kembali modal. Artinya ibadah kita tidak memiliki nilai tambah karena orientasi kita sekedar hitung-hitungan dengan Allah.

Seolah-olah ibadah yang kita lakukan itu adalah barteran dengan pemberian Allah. Kita melakukan karena mengharap diberi. Saya tidak mengatakan hal ini salah. Sebab hadits memang mengatakan “imaanan wa ihtisaaban”. Kata ihtisaab berarti dengan perhitungan (pahala).

Hanya saja jika hanya ini yang menjadi pertimbangan maka ibadah-ibadah yang kita lakukan kemudian kurang, bahkan tidak memilki nilai tambah yang berdampak positif dalam hidup kita. Hakikat inilah yang saya isitlahkan “Ibadah yang kembali modal”.

Lalu apa saja tujuan (goals) dari i’tikaf yang kita lakukan?

Pertama, i’tikaf bertujuan membangun kedekatan dan kebersamaan dengan Allah SWT. Ini adalah masa-masa terbaik untuk menyendiri, tanpa siapa di sekitar, di saat bersama Allah SWT. Dengan cara ini akan tumbuh rasa kebersamaan dengan Allah (ma’iyah Allah). Dan dengannya seorang hamba akan menjadi kuat, damai, tenteram, tidak mudah goyah oleh goncangan hidup duniawi.

Kedua, i’tikaf bertujuan membangun komitmen pengabdian (Ibadah) dengan segala jiwa dan hati. Di saat inilah dunia untuk sementara dikesampingkan. Yang ada hanya jiwa ubudiyah kepada Allah SWT. I’tikaf yang juga dapat dikatakan “mengurung diri” di masjid-masjid itu memang bertujuan agar Ibadah-ibadah lebih fokus tanpa gangguan apapun.

Ketiga, i’tikaf juga dimaksudkan bertafakkur. Dalam agama Islam tafakkur menjadi sangat fundamental dalam proses menemukan “hidayah”. Al-Quran yang turun pertama kali dengan perintah khusus “IQRA’” memaknai urgensi bertafakkur sebagai proses menemukan kebenaran itu. Dan karenanya i’tikaf moment terbaik untuk mempertajam pemikiran, tidak saja pemikiran akal. Tapi yang terpenting adalah pemikitan batin (jiwa dan hati).

Keempat, i’tikaf juga dimaksudkan sebagai masa-masa introspeksi diri. Dalam bahasa agama melakukan introspeksi ini dikenal dengan isitlah “muhasabah” atau melakukan hitung-hitungan terhadap diri sendiri. Jika tafakkur berakhir dengan hidayah, muhasabah ditujukan untuk menemukan diri kita sendiri. Dan semakin kita kenal diri kita sendiri, akan kita dapati segala kekurangan dan kenaifan itu. Sehingga tujuan terutama dari muhasabah ini adalah istighfar atau memohon ampunan Allah SWT.

Kelima, i’tikaf juga menjadi momentum untuk menemukan jati diri manusia. Ketika berbicara tentang jati diri maka yang pertama akan ditemukan adalah nurani kemanusiaan itu sendiri. Nurani itulah yang biasa disebut “kata hati” yang tidak akan pernah melenceng. Itulah “fitrah” manusia yang “laa tabdiila” (tak akan berubah). Karenanya dalam dunia yang penuh kepura-puraan ini, menemukan kembali fitrah itu menjadi sebuah tuntutan.

Keenam, tentu i’tikaf juga tidak dimaksudkan sepenuhnya mengabaikan tanggung jawab kekhilafahan manusia. Yaitu tanggung jawab untuk membangun dunia yang lebih baik (thoyyibah) dalam naungan Allah, sehingga semua manusia bahkan semua makhluk Allah dapat hidup tenang, tentram dan bahagia.

Memahami i’tikaf seperti inilah yang akan membawa nilai tambah itu. Apalagi bahwa di malam-malam inilah memang diturunkannya Al-Quran sebagai sumber petunjuk untuk mewujudkan semua tujuan itu diturunkan.

Semua yang disebutkan di atas hanya akan terwujud ketika Al-Quran menjadi pedoman hidup. Malam diturunkannya Al-Quran itu seolah menyimpulkan keseluruhan hidup manusia. Dan karenanya sangat wajar jika nilainya jauh lebih tinggi ketimbang seribu bulan.

Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang mampu bersyukur dengan hari-hari terakhir Ramadan. Bukan sebaliknya menjadi semakin tidak sadar akan makna dan nilai yang ada di hari-hari terakhir ini. Semoga!

Jamaica Hills, 6 Juni 2018

*Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation. [mc]

Terpopuler

To Top