Politik

Cara Meruqyah Negara dari Pengaruh Pemuja Syetan

Nusantarakini.com, Jakarta –

Negara syetan yang pernah hadir di muka bumi dan diabadikan oleh Al-Qur’an, yaitu negara Mesir Fir’aun. Tapi bukan itu satu-satunya negara syetan.

Negara syetan cirinya anti Allah dan memuja syetan. Selain itu, memuja pemimpinnya laiknya Tuhan yang disembah. Hukumnya ciptaan hawa nafsu para pembesarnya.

Boleh dikata, negara apa pun yang tidak mengindahkan aturan Allah, sudah barang tentu bagian dari negara syetan.

Negara syetan membuat masyarakat kacau-balau. Antar golongan dan individu saling menindas. Yang berlaku siapa yang terkuat.

Perzinahan dan riba musti merajalela. Kehidupan bagi orang-orang beriman dihimpit dan susah untuk berkembang bebas. Yang ada para pendosa duduk mengawasi dan bertindak layaknya Tuhan yang mengawasi dan menghukum.

Dalam negara syetan, hakim-hakim dan penyidiknya laiknya syetan. Itu semua terjadi karena hukum hanya omong-kosong. Dasar hukum hanya hawa nafsu. Pendapat para ahli hukumnya hanya berdasarkan sesuka-suka seleranya. Setiap waktu bisa berubah-ubah.

Negara syetan di masa kini, merupakan hal yang nyata. Tuhan di singkirkan dari kegiatan bernegara. Tapi apakah Tuhan benar-benar tersingkir? Tentu tidak.

Kehidupan manusia tetaplah berada dalam genggaman-Nya. Buktinya, mereka semua tetap tak bisa menunda ajal mereka. Mereka semua pada akhirnya mati dan menyerah dengan takdir. Tak bisa sedikit pun mereka melawan ajal. Cuma, institusi negara syetan yang mereka dirikan tetap diwariskan dari generasi ke generasi. Di sinilah manusia dijebak oleh syetan.

Adapun mereka yang telah dicabut nyawanya akan berurusan dengan Tuhan. Mengapa mereka sanggup menantang Tuhan selama di dunia. Tapi bagaimana dengan generasi terjebak?

Nah, di sinilah tugas ulama untuk membimbing ke arah jalan Allah. Bukan malah ulama mendukung para penganjur syetan. Sayang, banyak ulama yang serombongan dengan para penganjur syetan. Naudzu billah. Harusnya para ulama secara massal meruqyah negara agar lepas dari sistem syetan.

Caranya bisa sangat sederhana. Setiap hari, dikumandangkan ayat-ayat ruqyah yang diarahkan ke pusat-pusat pengambilan keputusan kekuasaan sampai pusat-pusat tersebut modar dengan bombardir ayat-ayat ruqyah. Bila perlu, pusat-pusat kekuasaan itu dikepung dengan ayat-ayat ruqyah.

 

~ Kyai Embun

Terpopuler

To Top