Budaya

Baca! Ini Alasannya Kenapa Orang Betawi Ogah Milih Ahok

Nusantarakini.com, Jakarta

Khairul Fahmi, seorang tokoh Betawi di Pondok Pinang Jakarta Selatan menguraikan dengan runtut mengapa Betawi yang memiliki hubungan historis dengan Cina, tidak suka dengan gaya Ahok yang arogan. Di bawah ini kami ketengahkan tulisannya lebih lanjut.

Ini adalah cerita tentang hubungan kultural Cina dan Betawi. Secara kultural Betawi adalah sub kultur dari kultur-kultur besar yang ada di indonesia atau di dunia. Betawi adalah hasil pertemuan berbagai kultur di sebuah wilayah yang awalnya kita kenal sebagai Sunda Kelapa, ratusan tahun yang lalu. Sebagai kota pelabuhan dan perdagangan Sunda Kelapa dihuni oleh oleh berbagai etnis asli Indonesia dan dunia, di antaranya Melayu, Bugis, Makasar, Cina, Arab, dan terkakhir, saat Sultan Agung mengirim pasukan untuk merebut Batavia dari VOC, masuklah etnis Jawa.

Sunda Kelapa setelah ditaklukan oleh Jan Pieterzoen Coen, perwakilan dagang VOC tahun 1602, berubah menjadi Batavia. Lidah Melayu menyebutnya Betawi. Jadi yang namanya orang Betawi adalah orang yang terlahir di Batavia yang terbentuk dari percampuran adat istiadat suku bangsa di atas, yang berbicara dengan bahasa Melayu dengan dialek yang khas (belakangan kita menyebutnya bahasa Betawi).

Bahasa Betawi itu sendiri merupakan campuran dari bahasa melayu sebagai unsur pokoknya, diperkaya dengan unsur bahasa Cina, Jawa, Sunda, Arab, dan juga Belanda.

Singkat kata hubungan Betawi dengan cina sudah terjalin ratusan tahun yang lalu, bahkan Cina adalah satu di antara unsur campurannya. Pengaruh Cina bisa kita lihat dari corak pakian, bahasa, dan adat istiadat tertentu, misalnya petasan. Ciri orang Betawi kalau sedang ada hajatan atau rame-rame biasanya dengan memasang petasan. hal kita suka dapatkan dalam film-film kungfu.

Hubungan Cina dengan Betawi boleh dikatakan tidak ada masalah. Saya secara pribadi sebagai pedagang seringkali berhubungan dengan cina. Rekan bisnis saya ada yang namanya Ko Richard, Ko Darmanto (sudah asimilasi), dan Koko yang lain. Dan tempo-tempo, karena wajah saya mirip cina, saya acap kali dipanggil Ko. Demikian juga halnya orang tua saya dulu, waktu kami punya warung sembako, belanjanya ke toko cina di pasar kebayoran lama.

Secara pribadi saya tidak rasial, tidak membenci satu etnis manapun. Kalau ketidaksukaan saya kepada kepada Ahok lebih karena dalam pandangan saya dia tidak layak menjadi pemimpin, karena gaya bicaranya tidak sopan. Loh kenapa karena hanya karena cara bicara? Bagi saya hal ini penting. Mulut itu melambangkan hati. Orang yang santun dan beradab mulutnya juga pasti beradab, sebaliknya. Jadi peradaban kita bisa lihat dari mulut dan bahasa. Kita juga bisa dapatkan dalam saejarah bangsa yang memiliki peradaban besar rata-rata punya tradisi bahasa dan sastra yang besar juga. Jadi tidak cukup manusia hanya dilihat dari kerja nyata saja, kita harus melihatnya juga dari apa yang diucapkan. Kita sama-sama mafhum, dalam Al-Qur’an, orang yang memberi sedekah tidak boleh dibarengi dengan kata-kata yang menyakitkan. Itu sedekah, hal yang sunnah (untuk sedekah sunnah), bukan kewajiban. Lalu bagaimana dengan hal yang sudah menjadi kewajiban? Apalagi sebagai gubernur saat itu ahok punya kewajiban untuk membangun berbagai sarana dengan anggaran APBD DKI.

Karena sudah menjadi kewajibannya tidaklah layak dia merasa paling berjasa terhadap pembangunan di jakarta. Karena merasa berjasa lalu dia boleh dengan sewenang-wenang menggunakan bahasa yang seenaknya (kasar). Sebagai pejabat publik tidak eloklah kalau dia menggunakan bahasa gua elu, kamu. Seharusnya dia menggunakan bahsa Indonesia yang sesuai EYD dengan tutur kata yang sopan.

Apa yang dilakukan ahok itu ibarat orang ngasih duit, atau memberi sesuatu, atau membuatkan sesuatu, setelah memberi dia ngomong dengan seenaknya “eh monyet, gw udah bangunin jalan buat elu pada. Abis ini lu rawat ya nyet”. Kira-kira begitulah. Kalau saya sih ga mao, dikasih tapi dikata-katain. Mendingan jalan becek, banyak tukang ojek, ora nyambung jek…lah.

Kalau udah begini siapa yang sudi milih orang yang mulunya kaya comberan. Udahan mah kafir lagi. musuhin ulama lagi. (sed)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top