Rilis Pers

Pernyataan Sikap Organisasi Pendidikan terhadap RUU Cipta Kerja Klaster Pendidikan


22 September 2020, 7:17
Dilihat   1.4K

Nusantarakini.com, Jakarta – 

Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah tengah melakukan pembahasan
Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Cipta Kerja) yang telah menjadi Program Legislasi Nasional Prioritas di Tahun 2020. Sebagai Rancangan Undang-Undang yang dibentuk dengan metode Omnibus Law, RUU Cipta Kerja memuat klaster yang sangat luas dengan 11 (sebelas) klaster pembahasan,total 79 Undang-Undang terdampak, dan terdapat
1.244 Pasal. Dengan demikian, Rancangan Undang-Undang ini akan berdampak sangat sistemik dan masif terhadap berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Koalisi Organisasi Pendidikan yang terdiri dari: Majelis Pendidikan Tinggi dan
Penelitian Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, LP Ma’arif NU PBNU, NU Circle, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia
(APTISI), Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS), Majelis Wali Amanat
Universitas Djuanda Bogor, melalui pernyataan ini turut menambahkan sejumlah catatan kritis terhadap RUU Cipta Kerja pada klaster pendidikan yang tertuang sebagai berikut:

1. Dalam merumuskan berbagai peraturan dan kebijakan, salah satu prinsip yang tidak
dapat ditinggalkan adalah tujuan negara sebagaimana disebutkan dalam Pembukaan
UUD Tahun 1945, yang mengamanatkan Negara untuk melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

2. Untuk mewujudkan tujuan negara, dalam Pasal 31 ayat (3) UUD Tahun 1945
mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

3. Berdasarkan visi negara dan rumusan norma konstitusi, sangat jelas memperlihatkan bahwa tugas mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan tidak boleh menempatkan faktor-faktor determinan lain atas pendidikan. Sebagaimana terlihat
dalam RUU Cipta Kerja bahwa ekonomi/bisnis dan dunia usaha menjadi faktor determinan baru dalam pendidikan, dengan memasukkan materi pendidikan dan
kebudayaan pada rezim hukum ekonomi.

4. Pengaturan ketentuan Pendidikan dan Kebudayaan dalam RUU Cipta Kerja masuk
dalam BAB III tentang Peningkatan Ekosistem Investasi dan Kegiatan Berusaha
menandakan secara paradigmatik menempatkan pendidikan dan kebudayaan masuk rezim investasi dan kegiatan berusaha. Hal ini telah menggeser politik hukum pendidikan menjadi rezim perizinan berusaha melalui penggunaan terminologi izin berusaha pada sektor pendidikan, yang sesungguhnya tidak berorientasi laba.

5. Pengaturan pendidikan dan kebudayaan dalam RUU Cipta Kerja akan berimplikasi
hilangnya nilai, karakteristik, pendidikan yang berbasis kebudayaan serta telah
menegasikan peran kebudayaan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Hal itu sangat bertentangan dengan ketentuan Pasal 32 ayat (1) UUD Tahun 1945 yang
memerintahkan negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah
peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

6. Berbagai pengaturan dalam RUU Cipta Kerja akan meliberalisasi dan mengkapitalisasi pendidikan pada jenjang Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi dengan menghilangkan sejumlah syarat dan standar bagi lembaga pendidikan asing yang akan menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7. Peran penyelenggaraan pendidikan tinggi keagamaan, oleh menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama dihilangkan, sehingga
kementerian urusan Agama tidak akan memiliki kewenangan untuk mengontrol
pendidikan tinggi keagamaan yang diselenggarakan di Indonesia.

8. Dihapuskannya standar pendidikan tinggi menjadikan negara kehilangan peran dalam
memastikan terselenggaranya mutu pendidikan yang dicitakan, kondisi ini
menjadikan pemerintah kehilangan ukuran dalam menilai perkembangan pendidikan
tinggi yang pada akhirnya menimbulkan ketidakjelasan politik hukum
penyelenggaraan pendidikan tinggi.

9. Dihapuskannya peran pemerintah daerah dalam proses perizinan pembentukan
lembaga pendidikan sebagai akibat dari adanya sentralisasi perizinan pada
Pemerintah Pusat. Kondisi ini bertentangan dengan spirit desentralisasi dan otonomi
daerah sebagaimana yang diatur dalam Pasal 18 ayat (2) dan ayat (5) UUD Tahun
1945.

10. Sentralisasi perizinan pada Pemerintah Pusat juga turut menegasikan peran daerah
dalam menghadirkan pendidikan yang menjunjung tinggi kearifan lokal.

11. Terjadinya perubahan tata kelola Perguruan Tinggi Swasta yang tidak mewajibkan adanya Badan Penyelenggara, berimplikasi pada pengelolaan Perguruan Tinggi Swasta langsung pada pimpinan Perguruan Tinggi Swasta. Tata kelola Perguruan Tinggi Swasta dikelola sama dengan pengelolaan perseroan terbatas.

12. Dihapuskannya sejumlah sanksi administratif dan pidana sebagai akibat dari
penyalahgunaan perizinan penyelenggaraan pendidikan, sertifikat kompetensi, gelar
akademik, profesi, dan/atau vokasi oleh sejumlah orang dapat merugikan orang lain.

Berdasarkan sejumlah catatan di atas, kami Aliansi Organisasi Pendidikan menyatakan:
1) Menolak RUU Cipta Kerja Klaster Pendidikan dan Kebudayaan
2) Mendesak Dewan Perwakilan Rakyat RI dan Pemerintah Indonesia untuk
mengeluarkan klaster pendidikan dan kebudayaan dari RUU Cipta Kerja.
3) Mempertegas kebijakan pendidikan nasional berlandaskan filosofi kebudayaan
Indonesia dan menjauhkan dari praktik komersialisasi dan liberalisasi.
Demikian pernyataan sikap penolakan Aliansi Organisasi Pendidikan terhadap RUU Cipta Kerja Klaster Pendidikan ini disampaikan untuk dapat ditindaklanjuti dengan dibatalkannya RUU Cipta Kerja dan ditariknya klaster pendidikan dan kebudayaan dari RUU Cipta Kerja.
Surakarta, 15 September 2020.

Pihak-Pihak yang menyatakan:

Majelis Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D.

Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Baedhowi, M.Si

LP MA’ARIF NU PBNU, Z. ARIFIN JUNAIDI

NU Circle, Nanang Achmad Rizali

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, Ph.D

Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Dr. Trisno Rahardjo, M.H

Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Dr. Hidayatulloh, M.Si.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si

Ketua Umum PB Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd

Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Jatmiko

Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS), Ki Darmaningtyas

Majelis Wali Amanat Universitas Djuanda Bogor, Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H

[mc/kr]

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!