Warkop-98

GAWAT. Kalau PLN Bubar Listrik Mati?


25 August 2020, 21:23
Dilihat   1.7K

Nusantarakini.com, Magelang – 

Pertanyaan di atas, dengan dasar realita dan fakta, bisa dijawab, listrik tidak akan mati. Bahkan mungkin akan bertambah handal! Jarang mati! Cuma, jangan tanya berapa tarifnya?

Tarif listrik nantinya, setelah PLN bubar, diperkirakan minimal 4x lipat saat sekarang! Dan itu kemungkinan besar akan terjadi mulai awal tahun 2021.

Mengapa bisa begitu ?

Karena saat ini, meskipun bangunan-bangunan PLN masih terlihat megah, tetapi instalasi PLN (terutama Jawa-Bali) sudah dikuasai Asing/Aseng dan taipan-taipan lokal seperti LBP, JK, DI, kakak Erick dll. Para oknum pejabat ini berhasil memaksa PLN “minggir” dari kiprah kelistrikan Jawa-Bali dengan menggunakan kekuasaan mereka.

PLN saat ini hanya “simbul” keberadaan Negara. Simbul bahwa Pancasila dan UUD 1945 (khususnya pasal 33 ayat 2) itu masih ada. PLN saat ini hanya berfungsi sebagai penyalur subsidi Pemerintah. Dan tahun ini akan membayar subsidi Rp 140 T ke Kartel MBMS Jawa-Bali (kalau biasanya, subsidi ke PLN sendiri hanya sekitar Rp 50 T).

Dengan kata lain, karyawan PLN sudah menjadi karyawan Kartel tersebut. Bahkan gedung perkantorannya sudah berfungsi sebagai bagian dari operasional Kartel listrik swasta itu.

Indikasi utama fenomena di atas adalah tidak terbayarnya tagihan kontraktor lokal tahun ini.

Pemberitaan yang simpang siur!

Coba cermati informasi dibawah ini :

Pada RDP dengan Komisi VII DPR, tanggal 17 Juni (Katadata.com) Dirut PLN menyatakan antara Januari – Maret PLN devisit Rp 38,88 T. Menkeu saat Seminar online dengan IPB , tanggal 1 Juli 2020 bilang Pemerintah memberi subsidi ke PLN Rp 61,8 T sampai September 2020. Beberapa media online memberitakan pada pertengahan Juli bahwa PLN mendapat PMN Rp 5 T melalui PP.

Terus tiba-tiba energy.economictimes.com, tanpa tanggal, tetapi beredar pada minggu ketiga Agustus 2020 memberitakan bahwa PLN tahun ini mendapat subsidi Rp 59,4 T dimana tahun yang lalu hanya Rp 54,8 T.

Semua pemberitaan di atas mengacu pada statement DIRUT PLN.

Bagaimana menyimpulkan pemberitaan-pemberitaan di atas? Pemberitaan sekitar Juni – Juli 2020 menyimpulkan subsidi Pemerintah ke PLN Rp 106 T (Januari – September). Tetapi pemberitaan bulan Agustus menginformasikan bahwa subsidi PLN tahun ini hanya Rp 59,4 T.

Gejala apa ini semua ?

Semua mengindikasikan situasi PLN yang tidak kondusif!

Tetapi sekali lagi, seandainya PLN toh bubar, jangan khawatir semua instalasi listrik (khususnya Jawa-Bali) sudah ada yang operasikan, antara lain :

1). Pembangkit : oleh swasta IPP Asing dan Aseng (di dalamnya ada JK, LBP, DI, Erick dll).

2). Transmisi dan Distribusi : Ini milik PLN yang disewakan ke Kartel listrik swasta. PLN hanya jaga tower dan kabel-kabelnya.

3). Ritail : oleh DI, TW, 9 Naga dll.

Rakyat/ konsumen tahunya yang penting listrik murah! Tapi itu tidak mungkin! Karena sekarang saja, meskipun PLN masih ada, tetapi pembangkit Jawa-Bali 90% swasta, subsidi sampai akhir tahun akan mencapai Rp 140 T !

Nah kalau PLN bubar berarti biaya “tombok” yang Rp 140 T, tahun depan akan lansung dipikul rakyat/ konsumen! Bayangkan, berapa jadinya, tarif listrik yang akan datang? Ya…kita tunggu saja! [mh]

*Ahmad Daryoko, Koordinator INVEST.

Facebook Comments

Most Popular

To Top
error: Content is protected !!